Mandy Moore: Menjadi Orang Tua Adalah Penyetara Hebat, Tak Ada yang Sempurna
Baca dalam 60 detik
- Aktris Mandy Moore menegaskan bahwa menjadi orang tua adalah pengalaman yang menyetarakan semua orang, tanpa terkecuali.
- Ia menekankan pentingnya kesabaran dan ketenangan dalam menghadapi anak, karena anak-anak meniru perilaku orang dewasa.
- Setelah memiliki tiga anak, Mandy memutuskan untuk tidak menambah momongan dan fokus menikmati momen tumbuh kembang mereka.

Mandy Moore, aktris yang dikenal lewat perannya di film "A Walk to Remember" dan serial "This Is Us", kembali membuka suara tentang realitas menjadi orang tua. Di usianya yang ke-42, ibu dari tiga anak ini menilai bahwa mengasuh anak adalah "penyetara hebat" yang membuat semua orang tua berada di posisi yang sama, tanpa terkecuali. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan Extra, di mana ia mengaku tidak ada satu pun orang tua yang benar-benar "tahu segalanya" dalam membesarkan anak.
Moore, yang memiliki anak bernama Gus (5 tahun), Ozzie (3 tahun), dan Lou (23 bulan) dari pernikahannya dengan musisi Taylor Goldsmith, menggarisbawahi bahwa kekacauan dan tantangan pengasuhan adalah hal yang universal. "Kita semua berada di perahu yang sama. Tidak ada yang kebal dari kekacauan dan hiruk-pikuk memiliki anak," ujarnya. Baginya, menyadari bahwa pengasuhan tidak akan selalu berjalan mulus adalah kunci untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri. Ia menekankan pentingnya memberi ruang untuk kesalahan dan kehilangan kesabaran, karena hal itu adalah bagian yang tak terhindarkan dari peran sebagai orang tua.
Lebih jauh, Moore berbagi pelajaran berharga tentang ketenangan dan kesabaran. Ia menyebut bahwa ketenangan itu "menular" dan anak-anak adalah "spons" yang menyerap perilaku orang di sekitarnya. "Jika kamu bisa menemukan ketenangan sebelum meledak, tarik napas dalam-dalam dan hembuskan, mereka akan meniru itu," jelasnya. Filosofi ini menjadi pegangan baginya dalam menghadapi dinamika rumah tangga dengan tiga balita.
Keputusan untuk berhenti menambah anak juga menjadi sorotan. Dalam wawancara dengan Us Weekly awal bulan ini, Moore mengaku bahwa keluarganya sudah lengkap. Ia bercanda tentang algoritma media sosial yang memunculkan konten kehamilan di berandanya, namun ia dengan tegas menyatakan, "Itu tidak akan pernah terjadi lagi pada saya." Meskipun mengakui rasa lelah yang luar biasa, ia merasa tenang dengan keputusan tersebut dan berfokus pada momen-momen kecil bersama anak-anaknya, seperti potty training untuk si bungsu.
Di tengah hiruk-pikuk industri hiburan, pandangan Moore tentang pengasuhan menjadi relevan bagi banyak orang tua, termasuk di Indonesia. Fenomena orang tua yang merasa tidak pernah cukup baik atau selalu membandingkan diri dengan standar kesempurnaan adalah hal yang umum. Psikolog anak di Jakarta, Ratna Sari, menilai bahwa pernyataan Moore sejalan dengan konsep "good enough parent" yang diperkenalkan oleh Donald Winnicott. "Orang tua tidak perlu menjadi sempurna, cukup hadir dan responsif terhadap kebutuhan anak. Ini mengurangi tekanan yang sering dirasakan orang tua modern," ujarnya. Di tengah maraknya konten parenting di media sosial, pesan Moore menjadi pengingat bahwa setiap keluarga punya tantangannya sendiri.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana Moore akan menyeimbangkan karier dan perannya sebagai ibu. Dengan tiga anak yang masih balita, ia tampaknya memilih untuk memprioritaskan keluarga. Namun, publik tentu menantikan karya-karya berikutnya. Apakah ia akan kembali ke layar lebar atau justru lebih fokus pada kehidupan rumah tangga? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun yang jelas, Moore menunjukkan bahwa menjadi orang tua adalah perjalanan yang penuh ketidakpastian, dan justru di situlah keindahannya.



