Hull City Sempurna di Awal Musim: Jawaban untuk Kritik 'Tim Terburuk dalam Sejarah Premier League'
Baca dalam 60 detik
- Hull City mencatat dua kemenangan beruntun di Premier League, termasuk mengalahkan Manchester United dan Coventry City, menjawab skeptisisme yang menyebut mereka kandidat degradasi.
- Kemenangan tandang 1-0 atas Coventry City, berkat gol telat Liam Millar, menempatkan Hull di posisi kedua klasemen sementara dan menjadi tim promosi pertama yang memenangi dua laga awal sejak Huddersfield Town pada 2017.
- Coventry City, yang baru kembali ke kasta tertinggi setelah 25 tahun, justru terpuruk dengan dua kekalahan beruntun dan harus segera berbenah sebelum menghadapi Manchester City di laga berikutnya.

Hull City membungkam para peragu dengan start sempurna di Premier League musim ini. Setelah menaklukkan Manchester United di laga pembuka, tim promosi asuhan Sergej Jakirovic itu kembali meraih kemenangan tipis 1-0 atas sesama pendatang baru Coventry City di CBS Arena, Sabtu (24/8). Gol telat Liam Millar pada menit ke-82 memastikan The Tigers memuncaki klasemen sementara dengan enam poin, sekaligus menjawab ejekan yang menyebut mereka sebagai "tim terburuk dalam sejarah Premier League".
Penyerang Hull, Ollie McBurnie, menanggapi kritik tersebut dengan nada bercanda namun penuh percaya diri. "Menyebut kami tim terburuk dalam sejarah Premier League, ini bukan awal yang buruk dari anak-anak," ujarnya. Baginya, kemenangan ini adalah bukti bahwa Hull layak berada di kasta tertinggi. "Kami tidak merasa perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun. Tidak ada yang memberi kami tiket ke Premier League; kami semua mendapatkannya dengan kerja keras," tegas pemain asal Skotlandia itu.
Kemenangan atas Coventry bukan sekadar tiga poin, melainkan sinyal bahwa Hull tidak akan mudah menyerah dalam perburuan bertahan di divisi elite. Sejarah mencatat, hanya tiga tim yang pernah terdegradasi setelah memenangi dua laga perdana mereka: Hull sendiri pada 2016-17, Wolves pada 2011-12, dan West Brom pada 2017-18. Namun, dengan mentalitas yang ditunjukkan di lapangan, The Tigers tampaknya bertekad menulis babak baru yang lebih baik.
Di laga kontra Coventry, Hull tampil pragmatis namun solid. Bek tangguh Semi Ajayi mendominasi lini pertahanan, sementara duet gelandang Nobel Mendy dan Lucas Gourna-Douath memenangi duel-duel udara. Meski penguasaan bola hanya sekitar 30 persen, strategi bertahan yang disiplin membuat tuan rumah frustrasi. McBurnie, yang menjadi ujung tombak, terus merepotkan lini belakang The Sky Blues. Statistik menunjukkan, Hull adalah tim promosi pertama yang memenangi dua laga awal sejak Huddersfield Town pada 2017-18, yang akhirnya bertahan dengan selisih empat poin di akhir musim.
Bagi Coventry, kekalahan ini menjadi tamparan keras setelah 25 tahun penantian kembali ke Premier League. Dua kekalahan beruntun—setelah dibantai Arsenal 0-3—membuat mereka langsung tertinggal enam poin dari Hull. Pelatih Frank Lampard mengakui timnya bermain terlalu aman dan gugup. "Saya merasakan ada ketegangan, umpan-umpan yang seharusnya maju justru dioper ke belakang. Mungkin itu karena kecemasan," katanya. Lampard menegaskan bahwa kekalahan ini tidak bisa dimaafkan dengan alasan level lawan atau euforia promosi. "Pelajaran hari ini adalah jangan berharap apa pun di Premier League. Masih ada 36 pertandingan, tapi kami harus segera bangkit," tambahnya.
Kekalahan ini juga memperlihatkan masalah lain bagi Coventry: cedera paha yang dialami Haji Wright, pencetak gol terbanyak mereka musim lalu, yang akan absen beberapa pekan. Dengan jadwal berikutnya melawan Manchester City di Etihad, The Sky Blues menghadapi ujian berat. Mantan kapten Wales, Ashley Williams, yang pernah promosi bersama Swansea pada 2011, menilai kekalahan ini akan meninggalkan luka psikologis. "Mereka menghancurkan Championship musim lalu dan penuh percaya diri. Namun setelah dua kekalahan, segalanya menjadi jauh lebih sulit. Para pemain akan melihat tabel dan merasa tertinggal enam poin dari Hull—itu pukulan telak," ujarnya.
Bagi Hull, start impresif ini tentu menggembirakan, tetapi pelatih Jakirovic tetap membumi. Target utama timnya adalah bertahan di Premier League, bukan sekadar menikmati euforia awal musim. Namun, dengan semangat juang yang ditunjukkan para pemain, bukan tidak mungkin The Tigers mampu bersaing di papan tengah. Pertanyaan besarnya: dapatkah mereka mempertahankan konsistensi ini ketika jadwal padat dan lawan-lawan berat mulai berdatangan? Atau justru Coventry yang akan bangkit dan membuktikan bahwa mereka layak bertahan? Musim masih panjang, dan dua laga awal hanyalah prolog dari sebuah drama yang penuh kejutan.



