Dua Agenda Utama Muktamar NU ke-35 Tuntas: Laporan PBNU Diterima, Sidang Komisi Berlanjut
Baca dalam 60 detik
- Dua sidang pleno Muktamar NU ke-35 di Jombang rampung sesuai jadwal, termasuk penerimaan laporan pertanggungjawaban PBNU.
- Sebelas perwakilan PWNU dan PCI Jepang menyetujui laporan, meski dengan sejumlah catatan dan saran.
- Fokus kini beralih ke sidang komisi yang akan membahas rekomendasi dan tata tertib pemilihan pengurus baru.

Jombang, 28 Agustus 2026 โ Dua agenda utama Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, telah diselesaikan sesuai jadwal. Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar, Prof. M. Nuh, mengonfirmasi bahwa sidang pleno pertama dan kedua berjalan lancar, menjadi fondasi bagi rangkaian persidangan berikutnya.
Sidang pleno pertama membahas persiapan dan agenda muktamar, sementara pleno kedua difokuskan pada laporan pertanggungjawaban Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2022-2027. Proses ini menjadi titik krusial karena menentukan arah organisasi ke depan. โAlhamdulillah, dua agenda utama, dua pleno sudah bisa kita lalui dengan sangat baik,โ ujar Prof. Nuh di sela-sela muktamar, Jumat malam.
Dalam pleno kedua, laporan pertanggungjawaban yang disampaikan oleh Ketua Umum PBNU mendapat respons positif. Sebelas perwakilan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dari berbagai daerah, mulai dari Sumatera hingga Nusa Tenggara Timur, serta Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Jepang, menyatakan menerima laporan tersebut. Meski ada beberapa saran yang disampaikan, prinsipnya seluruh perwakilan menyetujui laporan yang mencakup unsur Syuriyah dan Tanfidziyah tersebut.
Setelah dua pleno utama, muktamar memasuki tahap sidang komisi yang berlangsung paralel. Enam komisi dibentuk untuk membahas berbagai materi, termasuk Bahtsul Masail ad-Diniyah al-Maudlu'iyyah, al-Waqi'iyyah, dan al-Qonuniyyah, serta komisi organisasi, program, dan rekomendasi. Materi yang dibahas merupakan tindak lanjut dari hasil Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar NU, serta isu-isu spesifik yang diangkat dalam muktamar kali ini.
Prof. Nuh menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan masih berjalan on track. Hasil pembahasan komisi akan dibawa ke sidang pleno untuk disahkan, termasuk pembahasan tata tertib pemilihan kepengurusan PBNU yang menjadi salah satu momen paling dinantikan. โIni sesuai jadwal. Alhamdulillah, on track,โ katanya.
Muktamar NU ke-35 ini menjadi perhatian luas, tidak hanya bagi warga nahdliyin, tetapi juga bagi pengamat politik dan sosial di Indonesia. Pasalnya, pemilihan ketua umum baru akan menentukan arah organisasi Islam terbesar di tanah air, yang kerap menjadi penyeimbang dalam dinamika politik nasional. Beberapa tokoh, seperti Menteri Agama, memilih tidak ikut dalam kontestasi, sementara Menteri Ekonomi Kreatif menjadikan muktamar ini sebagai momentum untuk mengakselerasi ekonomi kreatif pesantren.
Dengan selesainya dua agenda utama, perhatian kini tertuju pada hasil sidang komisi dan proses pemilihan. Pertanyaannya, apakah muktamar ini akan menghasilkan kepemimpinan yang mampu membawa NU lebih relevan di tengah tantangan zaman? Atau justru memunculkan dinamika internal yang memengaruhi soliditas organisasi? Publik menunggu dengan seksama.


