Robert De Niro: Tak Ada Rahasia Jadi Ayah, Hanya Kelola Rasa Bersalah
Baca dalam 60 detik
- Aktor kawakan Robert De Niro mengakui bahwa rasa bersalah adalah konsekuensi yang tak terhindarkan bagi orang tua yang bekerja, terutama saat harus meninggalkan momen tumbuh kembang anak.
- Di usianya yang ke-83, De Niro menekankan bahwa menjadi ayah bukanlah tentang menemukan formula sempurna, melainkan kemampuan beradaptasi dan mendukung penuh keputusan anak.
- Pernyataan ini memantik refleksi bagi para pekerja di Indonesia yang kerap dihadapkan pada dilema serupa antara karier dan keluarga, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya keseimbangan hidup.

Robert De Niro, aktor legendaris berusia 83 tahun, kembali membuka suara tentang salah satu dilema paling manusiawi yang dihadapi para orang tua modern: rasa bersalah karena harus membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Dalam wawancara terbarunya dengan majalah People, bintang film Goodfellas ini mengaku bahwa perasaan tersebut adalah sesuatu yang tak bisa dihindari, bahkan bagi seorang ikon Hollywood sekaliber dirinya.
De Niro, yang memiliki tujuh orang anak dari berbagai hubungan, menegaskan bahwa tidak ada resep rahasia untuk menjadi ayah yang baik. Menurutnya, kuncinya justru terletak pada kemampuan untuk mengelola segala sesuatu secara bersamaan. "Saya tidak tahu apakah ada rahasia. Ini hanya soal mengatur semuanya. Dan tidak ada cara untuk menghindari perasaan bersalah karena tidak berada di sana pada saat-saat yang seharusnya atau yang Anda pikir seharusnya," ujarnya.
Pernyataan ini muncul di tengah hiruk-pikuk industri hiburan global yang kerap menuntut dedikasi total. De Niro, yang baru saja membintangi film Zero Day, mengakui bahwa menjadi orang tua untuk pertama kalinya adalah pengalaman yang menuntut adaptasi instan. "Ini pengalaman baru. Bukan seperti Anda mengambil kursus tentang hal ini. Anda bisa, tentu saja, tapi Anda tidak melakukannya. Anda hanya terjun langsung dan memiliki anak, dan Anda harus... ya, begitulah," tambahnya.
Lebih jauh, aktor yang juga dikenal lewat film Meet the Fockers ini menekankan bahwa dukungan tanpa syarat adalah fondasi utama dalam membesarkan anak. Dalam wawancara dengan Entertainment Tonight tahun lalu, ia menegaskan, "Hal utama adalah mendukung anak-anak Anda. Selama mereka tidak menyakiti diri sendiri atau melakukan hal yang destruktif, Anda harus mendukung mereka โ titik. Bahkan jika Anda tidak setuju, Anda harus mendukung mereka. Dan mereka harus tahu bahwa Anda selalu mendukung mereka."
Konteks ini relevan bagi banyak orang tua di Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, di mana tuntutan pekerjaan sering kali berbenturan dengan waktu keluarga. Fenomena work-life balance menjadi isu yang semakin mengemuka, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental dan pentingnya keterlibatan orang tua dalam tumbuh kembang anak. Survei terbaru dari Kementerian Ketenagakerjaan bahkan mencatat bahwa 7 dari 10 pekerja Indonesia mengaku mengalami stres akibat konflik peran ganda ini.
De Niro, yang juga dikenal sebagai sosok yang hangat dan dekat dengan anak-anaknya, mengungkapkan bahwa kebersamaan adalah hal yang paling ia hargai. "Fakta bahwa mereka semua bisa berkumpul adalah segalanya bagi saya," katanya. Ia juga mengaku senang menghabiskan waktu liburan bersama keluarga besar, sering kali ke tempat-tempat yang hangat. "Hanya bersama-sama, pergi ke tempat-tempat hangat," ujarnya tentang kegiatan favoritnya.
Pernyataan De Niro ini menjadi pengingat bahwa bahkan figur publik yang tampak sukses pun bergulat dengan tantangan yang sama seperti kebanyakan orang tua. Di era di mana tekanan untuk tampil sempurna semakin besar, pengakuan jujur dari seorang aktor sekaliber De Niro bisa menjadi angin segar. Ia tidak menawarkan solusi instan, melainkan justru menormalisasi perasaan bersalah yang selama ini sering dianggap sebagai kelemahan.
Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah: apakah masyarakat, terutama di Indonesia, akan semakin terbuka untuk mendiskusikan dan mencari solusi atas dilema ini? Atau justru tekanan sosial akan semakin memperkuat stigma bahwa orang tua yang bekerja adalah orang tua yang kurang perhatian? De Niro mungkin telah memberikan sebagian jawaban, tetapi perjalanan panjang untuk menemukan keseimbangan ideal masih terus berlanjut, baik bagi para orang tua di Hollywood maupun di tanah air.



