Lampard Tempa Gaya Kepelatihan di Antara Ketegasan Mourinho dan Ketenangan Ancelotti
Baca dalam 60 detik
- Manajer Coventry City, Frank Lampard, mengaku memadukan pendekatan tegas Jose Mourinho dengan gaya tenang Carlo Ancelotti dalam membangun skuadnya.
- Setelah membawa Coventry promosi ke Premier League dengan 95 poin, Lampard menegaskan ambisi pribadinya bukan untuk membungkam kritikus, melainkan menjaga keseimbangan emosional tim.
- Menghadapi musim perdana di kasta tertinggi, Lampard menekankan pentingnya adaptasi defensif dan keberanian bermain, dengan target awal sekadar bertahan di liga.

Frank Lampard, manajer Coventry City, mengungkapkan bahwa gaya kepelatihannya merupakan perpaduan antara ketegasan ala Jose Mourinho dan ketenangan khas Carlo Ancelotti. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan BBC Sport, di mana ia juga menegaskan bahwa promosi Coventry ke Premier League setelah 25 tahun adalah pencapaian yang sejajar dengan kemenangan Liga Champions bersama Chelsea.
Lampard, yang kini berusia 48 tahun, menghabiskan delapan tahun terakhir membangun karier kepelatihan setelah sukses sebagai pemain. Selama menjadi pemain di Chelsea, ia bekerja di bawah arahan sejumlah manajer top seperti Jose Mourinho, Carlo Ancelotti, Guus Hiddink, dan Rafael Benitez. Dari semua figur tersebut, Mourinho dan Ancelotti dianggapnya sebagai dua kutub yang saling melengkapi. "Jose sangat intens, ia memancarkan kepercayaan diri, tetapi jika Anda melanggar aturan, Anda akan merasakan kekuatannya. Carlo lebih santai dan tenang, ia memberi kepercayaan penuh," ujarnya.
Menurut Lampard, keseimbangan antara kedua pendekatan itu menjadi kunci dalam mengelola pemain, terutama generasi muda. "Saya belajar bahwa manajer muda sering merasa harus mengkritik performa buruk atau menegur pemain yang terlambat. Semakin lama saya menjalani profesi ini, saya menyadari bahwa mereka semua manusia. Kadang seorang pemain datang terlambat karena masalah pribadi yang tidak kita ketahui. Di situ kita perlu sisi Carlo. Tetapi jika ada pemain yang tidak menjalankan tugas di lapangan, kita perlu sisi Jose," jelasnya.
Lampard juga menegaskan bahwa ia tidak lagi terdorong untuk membuktikan sesuatu kepada para kritikus. "Dalam sepak bola modern, Anda bisa dianggap hebat dalam satu menit, lalu buruk di menit berikutnya. Tidak mungkin membungkam semua peragu," katanya. Meski begitu, ia mengakui ambisi pribadi untuk membuktikan keraguan orang lain selalu ada, tetapi ia berusaha untuk tidak menjadikannya sebagai motivasi utama. "Saya sudah pernah merasakan Premier League sebagai pemain dan manajer. Saya paham tantangannya. Saya tidak bisa terlalu khawatir dengan dunia luar karena itu akan memengaruhi keputusan saya," tambahnya.
Perjalanan karier kepelatihan Lampard memang penuh liku. Setelah menangani Derby County pada 2018 dan membawanya ke final play-off Championship, ia pindah ke Chelsea pada 2019. Namun, masa baktinya di Stamford Bridge hanya bertahan 18 bulan sebelum dipecat pada Januari 2021. Ia kemudian menangani Everton, tetapi kembali dipecat kurang dari setahun kemudian, tepatnya Januari 2023. Kini, bersama Coventry, ia berhasil membawa tim yang sempat terpuruk ke kasta tertinggi. "Promosi ini sejajar dengan kemenangan Liga Champions. Saat menang di Munich, itu malam terbaik saya sebagai pemain. Tetapi ketika Anda melakukan sesuatu dengan klub yang telah melalui banyak hal, dengan kelompok pemain yang luar biasa, itu pengalaman yang berbeda. Saat promosi melawan Blackburn, saya merasakan emosi yang murni," kenangnya.
Menghadapi musim perdana di Premier League, Lampard sadar timnya harus beradaptasi, terutama dalam hal pertahanan. "Kami akan bodoh jika berpikir bisa bermain seperti di Championship setiap pekan, di mana kami mendominasi banyak pertandingan. Kami harus mempertahankan hal-hal baik dari musim lalu," ujarnya. Ia juga menargetkan keberanian sebagai modal utama. "Semua orang akan bertanya, apakah target kami bertahan di liga? Tentu itu sukses, karena tantangannya besar. Tapi pada awalnya, kami akan masuk dengan dada membusung dan berani. Para pemain ini telah membuktikan diri, jadi tunjukkan kemampuan kalian," tegasnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah Lampard ini menarik karena menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu linier. Banyak pelatih muda di Indonesia yang mungkin mengalami kegagalan di klub besar, tetapi kemudian bangkit di klub yang lebih kecil. Filosofi keseimbangan antara ketegasan dan empati juga relevan dalam konteks pembinaan pemain muda di Indonesia, di mana tekanan dari publik dan media sering kali sangat tinggi. Lampard membuktikan bahwa manajemen emosi dan pendekatan personal bisa menjadi kunci untuk membangun tim yang solid.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Lampard mampu mempertahankan Coventry di Premier League dan melanjutkan tren positifnya. Dengan pengalaman pahit di Chelsea dan Everton, ia kini memiliki kesempatan untuk menulis babak baru dalam karier kepelatihannya. Mampukah ia membuktikan bahwa gaya kepelatihannya yang "di tengah-tengah" itu efektif di level tertinggi sepak bola Inggris?



