Ethiopia Resmi Ajukan Diri Tuan Rumah Piala Afrika 2028, Infrastruktur Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Federasi Sepak Bola Ethiopia (EFF) telah mengajukan proposal resmi yang didukung pemerintah untuk menjadi tuan rumah Piala Afrika 2028.
- Dengan hanya satu stadion berstandar CAF dan sejumlah fasilitas yang belum memenuhi syarat, kelayakan Ethiopia masih dipertanyakan.
- Keputusan CAF akan diumumkan tahun depan, dengan pesaing utama dari Afrika bagian selatan.

Federasi Sepak Bola Ethiopia (EFF) resmi mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Afrika (Afcon) 2028. Proposal yang didukung penuh pemerintah itu menegaskan kesiapan negara tersebut untuk menggelar ajang sepak bola terbesar di Benua Hitam, meski sejumlah pihak meragukan kesiapan infrastruktur dan keamanan.
Ethiopia sebenarnya bukan nama asing dalam sejarah Afcon. Negara ini pernah menjadi tuan rumah pada 1962, 1968, dan 1976, serta menjadi juara pada edisi 1962. Namun, sejak terakhir kali menjadi tuan rumah, prestasi tim berjuluk Walia Ibex itu menurun drastis. Mereka hanya tiga kali lolos ke putaran final, terakhir pada edisi 2021 yang tertunda, dan saat itu finis di dasar klasemen grup tanpa kemenangan.
Kesiapan infrastruktur menjadi tantangan terbesar. Saat ini, Ethiopia hanya memiliki satu stadion yang disetujui Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), yaitu Stadion Bahir Dar berkapasitas 52.000 penonton. Stadion internasional Adey Abeba di Addis Ababa dengan kapasitas 62.000 masih dalam tahap pembangunan dan ditargetkan rampung tahun depan. Sementara itu, tiga stadion lain yang diusulkan masih dalam tahap awal pengembangan dan membutuhkan banyak pekerjaan untuk memenuhi standar CAF.
Menurut analis sepak bola Afrika, Kaleb Moges, menjadi tuan rumah Afcon bukan sekadar soal stadion. Ethiopia juga perlu menyediakan fasilitas latihan, pusat kebugaran, akomodasi, tempat hiburan, serta transportasi dan keamanan yang andal. "Keamanan menjadi perhatian utama. Meski ibu kota relatif aman, beberapa wilayah masih dilanda konflik bersenjata dan ketidakstabilan politik," ujarnya.
Persaingan untuk menjadi tuan rumah Afcon 2028 cukup ketat. Botswana, Namibia, Afrika Selatan, dan Zimbabwe telah mengajukan tawaran bersama dari kawasan Afrika bagian selatan. Sementara itu, Maroko yang menjadi tuan rumah edisi 2025 dikabarkan tidak ikut serta karena fokus mempersiapkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama Spanyol dan Portugal. Burkina Faso, Mali, dan Niger juga menyatakan minat untuk menjadi tuan rumah bersama pada 2032.
Presiden CAF, Patrice Motsepe, bulan lalu mengatakan telah menerima "tawaran menarik" untuk Afcon 2028, 2032, dan 2036. Keputusan final diharapkan diumumkan tahun depan. Bagi Ethiopia, tawaran ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan citra dan infrastruktur olahraga, sekaligus menarik investasi asing. Namun, tanpa perbaikan signifikan pada fasilitas dan keamanan, peluang mereka untuk memenangkan hak tuan rumah tampaknya tipis.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Pengalaman Ethiopia dalam mengajukan tuan rumah ajang besar bisa menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia yang juga bercita-cita menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 atau even internasional lainnya. Kesiapan infrastruktur, keamanan, dan dukungan politik menjadi kunci sukses sebuah negara dalam meyakinkan federasi internasional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah CAF akan berani memberikan kepercayaan kepada Ethiopia untuk menjadi tuan rumah, atau justru memilih tawaran yang lebih matang dari kawasan selatan. Keputusan ini akan menjadi sinyal penting bagi arah perkembangan sepak bola Afrika, terutama dalam hal pemerataan kesempatan menjadi tuan rumah di tengah dominasi negara-negara Afrika Utara dan Barat.



