Bayern Munich Kenakan Lederhosen untuk Sesi Foto Jelang Oktoberfest, Tandai Awal Musim yang Penuh Tradisi
Baca dalam 60 detik
- Bayern Munich menggelar sesi foto dengan pakaian tradisional Jerman, lederhosen, sebagai bagian dari persiapan menyambut Oktoberfest yang dimulai 19 September.
- Momen ini datang setelah kemenangan 2-1 atas Borussia Dortmund di Franz Beckenbauer Supercup, menambah kepercayaan diri tim menjelang laga perdana Bundesliga melawan VfB Stuttgart.
- Rekrutmen anyar seperti Ismael Saibari dan Nathaniel Brown memanfaatkan momen ini untuk menunjukkan komitmen mereka terhadap budaya Bavaria, yang juga menjadi sorotan bagi penggemar di Indonesia.

Bayern Munich, juara bertahan Bundesliga, telah memulai musim baru dengan cara yang khas: sesi foto resmi tim menggunakan lederhosen, pakaian tradisional Bavaria, sebagai penghormatan terhadap Oktoberfest yang akan digelar mulai 19 September mendatang. Langkah ini bukan sekadar seremonial, melainkan cerminan eratnya hubungan klub dengan budaya lokal dan sponsor utamanya, Paulaner, yang telah lama menjadi bagian dari identitas Bayern.
Sesi foto yang berlangsung penuh keakraban ini dihelat hanya beberapa hari setelah Bayern mengamankan trofi perdana musim ini, Franz Beckenbauer Supercup, dengan kemenangan tipis 2-1 atas Borussia Dortmund. Kemenangan tersebut jelas membangkitkan moral skuad asuhan Vincent Kompany, yang kini bersiap menghadapi laga pembuka Bundesliga melawan VfB Stuttgart pada Jumat malam (kick-off 20.30 CEST). Kombinasi antara euforia juara dan nuansa tradisi Oktoberfest menciptakan atmosfer positif yang diharapkan bisa menjadi modal berharga untuk mengawali kompetisi liga dengan hasil maksimal.
Di balik kemeriahan tersebut, ada cerita menarik dari dua pemain anyar yang baru bergabung. Ismael Saibari, gelandang asal Maroko yang direkrut dari PSV Eindhoven, mengaku ini adalah pengalaman pertamanya mengenakan lederhosen. Ia menyatakan antusiasmenya untuk mengunjungi Wiesn, sebutan akrab untuk area perayaan Oktoberfest, bersama rekan setimnya. Lebih dari sekadar pakaian, Saibari menegaskan pentingnya memahami budaya kota dan negara tempatnya kini bermain. Sementara itu, Nathaniel Brown, pemain muda asal Bavaria yang baru dipromosikan dari akademi, merasa lederhosen sangat cocok dengannya. Sebagai putra asli daerah, Brown sudah akrab dengan festival ini dan menganggapnya sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas Bavaria.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru di dunia sepak bola Jerman. Tradisi mengenakan pakaian adat saat Oktoberfest sudah menjadi ritual tahunan bagi klub-klub Bavaria, terutama Bayern Munich. Namun, momen ini selalu menarik perhatian karena menunjukkan sisi humanis dan kultural dari para pemain, yang biasanya hanya terlihat dalam balutan seragam pertandingan. Bagi penggemar di Indonesia, momen seperti ini menjadi pengingat bahwa sepak bola tidak hanya tentang taktik dan strategi, tetapi juga tentang identitas dan kebanggaan lokal.
Dari perspektif pemasaran, kerja sama antara Bayern dan Paulaner adalah contoh sinergi yang saling menguntungkan. Paulaner, sebagai sponsor resmi, mendapatkan eksposur besar melalui momen ikonik seperti ini, sementara Bayern memperkuat citra mereka sebagai klub yang dekat dengan akar budaya Bavaria. Di era globalisasi sepak bola, di mana banyak klub cenderung homogen, langkah Bayern ini justru menonjolkan keunikan yang menjadi daya tarik tersendiri bagi sponsor dan penggemar internasional.
Bagi para penggemar di Indonesia, yang mayoritas mendukung klub-klub Eropa, momen seperti ini juga menjadi pengingat bahwa sepak bola adalah jembatan budaya. Melalui tradisi seperti Oktoberfest, kita bisa melihat bagaimana klub-klub besar menjaga warisan lokal mereka di tengah arus modernisasi. Ini juga menjadi pelajaran bahwa adaptasi terhadap budaya baru, seperti yang dilakukan Saibari, adalah kunci sukses bagi pemain asing di liga mana pun, termasuk di Indonesia.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah tradisi ini akan terus dipertahankan seiring dengan semakin beragamnya komposisi pemain di Bayern. Dengan semakin banyaknya pemain asing yang datang dari berbagai belahan dunia, akankah mereka semua mampu beradaptasi dengan budaya Bavaria seperti yang dilakukan Saibari? Atau justru tradisi ini akan menjadi semakin penting sebagai alat untuk membangun kohesi tim? Yang jelas, langkah Bayern ini tidak hanya merayakan masa lalu, tetapi juga membangun fondasi untuk masa depan yang lebih kuat, baik di dalam maupun di luar lapangan.



