Frankfurt Kembali ke Tangan Hütter: Target Bangkit dari Keterpurukan Bundesliga
Baca dalam 60 detik
- Eintracht Frankfurt menunjuk Adi Hütter sebagai pelatih kepala untuk kedua kalinya, menggantikan Dino Toppmöller yang dinilai terlalu pragmatis.
- Musim lalu Die Adler finis di peringkat kedelapan tanpa tiket Eropa, dan kini mereka mengincar gaya menyerang khas Hütter yang pernah membawa tim ke puncak.
- Rekrutan anyar Raphael Onyedika dan duet lini depan Jonathan Burkardt menjadi kunci kebangkitan Frankfurt di Bundesliga 2026/27.

Eintracht Frankfurt memasuki musim 2026/27 dengan wajah lama yang akrab di kursi pelatih. Adi Hütter resmi kembali menukangi tim untuk periode kedua, membawa misi mengembalikan kejayaan setelah musim lalu Die Adler gagal menembus zona Eropa. Pertanyaannya kini: dapatkah pelatih asal Austria itu mengulang kesuksesan pertamanya di Deutsche Bank Park?
Keputusan manajemen Frankfurt menunjuk Hütter bukan tanpa alasan. Direktur olahraga Markus Krösche, saat mengumumkan kembalinya pelatih berusia 56 tahun itu, menegaskan bahwa klub menginginkan filosofi yang lebih agresif dan intens. Ini merupakan koreksi atas pendekatan pragmatis yang diterapkan Dino Toppmöller sepanjang musim lalu, yang berujung pada finis di peringkat kedelapan Bundesliga—di luar ambisi kompetisi antarklub Eropa.
Kenangan akan periode pertama Hütter (2018–2021) masih membekas di benak pendukung. Saat itu, trio Sébastien Haller, Luka Jović, dan Ante Rebić tampil memukau dengan sepak bola atraktif. Kini, publik Frankfurt berharap skenario serupa terulang. Hasil pramusim memang menjanjikan: 18 gol tercipta dalam lima laga uji coba, meski ada kekalahan telak 0-7 dari Brentford. Bahkan, Frankfurt mencatat kemenangan terbesar di putaran pertama DFB-Pokal dengan menghancurkan St. Tönis 11-0.
Tanpa beban tampil di kompetisi Eropa, Hütter punya waktu lebih untuk meramu strategi. Ini menjadi keuntungan tersendiri bagi tim asal Hesse tersebut. Namun, pekerjaan rumah besar menanti di lini pertahanan. Musim lalu, gawang Frankfurt kebobolan 65 gol—hanya tiga tim yang lebih buruk. Kepergian Nathaniel Brown dan Aurèle Amenda memperparah situasi, sehingga kedatangan Noel Aseko dan Otávio diharapkan mampu menambal celah tersebut.
Salah satu rekrutan paling menarik adalah Raphael Onyedika. Gelandang bertahan asal Nigeria ini menjadi pemain kedua dari negaranya yang memperkuat Frankfurt, setelah legenda Jay-Jay Okocha. Meski posisinya berbeda, Onyedika diharapkan memberi ketajaman di lini tengah. Statistiknya bersama Club Brugge musim lalu impresif: akurasi umpan 90 persen dan tingkat keberhasilan tekel 56 persen. Kehadirannya menjawab kritik tentang kurangnya daya gedor di sektor tersebut.
Di lini depan, Hütter telah menegaskan bahwa Jonathan Burkardt adalah tumpuan utama. “Jonny jelas starter, itu sudah pasti. Dia striker yang mencetak gol,” ujar Hütter dalam sesi latihan. Burkardt sendiri mengaku senang dengan gaya bermain baru. Meski cedera betis sempat membatasi penampilannya musim lalu, ia tetap menjadi pencetak gol terbanyak tim dengan 13 gol di Bundesliga. Jika fit sepanjang musim, bukan tidak mungkin ia membawa Frankfurt terbang lebih tinggi.
Persaingan di posisi kiper juga menjadi sorotan. Hütter mengindikasikan Kauã Santos akan menjadi pilihan utama, yang berarti Michael Zetterer kembali tersingkir. Frankfurt dikaitkan dengan Noah Atubolu dari Freiburg, dan pelatih Julian Schuster mengakui bahwa kepindahan kiper U-21 Jerman itu “bisa menjadi opsi”. Keputusan di sektor ini akan sangat menentukan soliditas pertahanan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kembalinya Hütter menarik untuk disimak. Gaya menyerang yang diusungnya mengingatkan pada filosofi yang kerap diidolakan banyak pecinta sepak bola Asia, termasuk Indonesia. Jika Frankfurt mampu tampil menghibur sekaligus efektif, mereka berpotensi menjadi tim yang disorot media Jerman dan Eropa, sekaligus memberi warna baru di Bundesliga musim ini.
Musim depan akan menjadi ujian sejati bagi Hütter. Akankah ia mampu mengembalikan Frankfurt ke jalur kemenangan dan bersaing di papan atas? Atau justru kegagalan kembali menghantui? Semua akan terjawab mulai laga perdana melawan Union Berlin di Stadion An der Alten Försterei.



