Duta Besar China untuk Australia Tiba dengan Bus Umum: Sinyal Baru Hubungan Beijing-Canberra?
Baca dalam 60 detik
- Liu Jinsong, dubes baru China untuk Australia, memulai tugas dengan naik bus umum dari Sydney ke Canberra, sebuah langkah simbolis yang menekankan pendekatan akar rumput.
- Kedatangan ini terjadi di tengah perbaikan hubungan bilateral setelah periode tegang di era Morrison, namun masih ada isu sensitif seperti uji coba rudal China dan pengawasan investasi di sektor tanah jarang.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya China untuk memperkuat diplomasi publik dan meredakan ketegangan, dengan implikasi bagi keseimbangan geopolitik di kawasan Indo-Pasifik, termasuk bagi Indonesia.

Duta Besar China untuk Australia, Liu Jinsong, memulai penugasannya dengan cara yang tidak biasa: naik bus umum dari Sydney ke Canberra. Dalam perjalanan itu, ia mengaku berbincang dengan warga Australia biasa dan menikmati pengalaman tersebut. Langkah ini bukan sekadar gaya, melainkan sinyal diplomatik yang ingin menampilkan citra China yang dekat dengan rakyat, di tengah upaya memulihkan hubungan bilateral yang sempat membeku.
Kedatangan Liu pada Senin (24/8) disambut dengan pernyataan resmi di situs kedutaan, di mana ia menyatakan merasa terhormat dan sadar akan tanggung jawab besar yang diembannya. Liu menggantikan Xiao Qian, diplomat yang dikenal vokal dan kerap melontarkan retorika tajam dalam membela kebijakan Beijing. Perbedaan gaya ini menarik perhatian para pengamat, yang menilai Liu akan membawa pendekatan lebih halus namun tetap tegas.
Hubungan Australia-China memang telah melalui pasang surut. Di era Perdana Menteri Scott Morrison, Beijing menjatuhkan larangan impor untuk komoditas seperti batu bara, barley, dan anggur Australia. Sebaliknya, Canberra memicu kemarahan China melalui undang-undang anti-intervensi asing, larangan Huawei dari jaringan 5G, serta desakan penyelidikan independen asal-usul Covid-19. Titik nadir itu mulai membaik di bawah kepemimpinan Anthony Albanese, yang telah dua kali mengunjungi Beijing sejak menjabat pada 2022.
Namun, ketegangan belum sepenuhnya mereda. Bulan lalu, Australia mengecam uji coba rudal berkemampuan nuklir China di Pasifik Selatan, menyebutnya sebagai tindakan yang mengganggu stabilitas. Di sisi lain, China tetap menjadi pembeli terbesar bijih besi Australia, sementara Canberra meningkatkan pengawasan terhadap investasi China di sektor tanah jarangโkomoditas krusial untuk teknologi tinggi dan pertahanan.
Liu sendiri menekankan pentingnya saling menghormati kepentingan inti dan kekhawatiran utama masing-masing. Ia juga menyebut bahwa kedua negara tidak memiliki dendam historis, tidak ada konflik kepentingan fundamental, ekonomi yang saling melengkapi, dan budaya yang saling memperkaya. Pernyataan ini mencerminkan upaya China untuk membingkai hubungan sebagai kemitraan yang saling menguntungkan, meskipun ada perbedaan pandangan di sejumlah isu.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai negara yang juga menjalin hubungan erat dengan China dan Australia, Indonesia perlu mencermati arah kebijakan kedua negara. Perbaikan hubungan China-Australia dapat mengurangi ketegangan di kawasan, namun juga berpotensi menggeser keseimbangan kekuatan. Indonesia, yang mengusung politik bebas aktif, tentu akan mengamati bagaimana kedua negara besar ini mengelola perbedaan mereka tanpa mengorbankan stabilitas regional.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah gaya komunikasi Liu yang lebih santun akan mampu menjembatani perbedaan yang masih ada, terutama terkait isu keamanan dan investasi. Dengan latar belakangnya sebagai mantan kepala Departemen Urusan Asia di Kementerian Luar Negeri China, Liu memiliki pengalaman dalam negosiasi tingkat tinggi, termasuk dengan Jepang. Namun, tantangan di Australia tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga dari opini publik yang masih skeptis terhadap niat China. Apakah pendekatan bus umum ini cukup untuk mengubah persepsi tersebut? Waktu yang akan menjawab.



