Prabowo Luncurkan PLTS 100 GWp di Hari Maulid: Kerja Tanpa Henti demi Kemandirian Energi
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo memulai pembangunan PLTS raksasa 100 GWp di Bali, menegaskan komitmen kerja keras di tengah libur Maulid Nabi.
- Proyek ini menargetkan penghematan biaya listrik hingga Rp73,9 triliun per tahun dan penghentian 13 GW pembangkit diesel pada 2026.
- Dengan potensi surya 3.294 GWp yang baru tergarap 1,5 GWp, program ini menjadi ujian nyata transisi energi Indonesia.

Di tengah hiruk-pikuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Presiden Prabowo Subianto justru memilih berdiri di atas tanah kosong di Gilimanuk, Bali, Selasa (16/9/2026), untuk meletakkan batu pertama proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp). Langkah ini bukan sekadar seremoni, melainkan sinyal keras bahwa pemerintah menempatkan ketahanan energi sebagai prioritas yang tidak bisa ditunda, bahkan di hari libur keagamaan sekalipun.
Prabowo secara eksplisit mengaitkan momentum Maulid dengan etos kerja kabinetnya. "Di hari besar ini kita tetap bekerja karena kita menyadari kewajiban kita sebagai insan bertakwa, selain berdoa, kita juga harus berkarya," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan filosofi bahwa ibadah tidak berhenti pada ritual, tetapi terwujud dalam aksi nyata membangun bangsa. Bagi publik, ini adalah pengingat bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran tidak mengenal kata libur dalam mengejar target pembangunan.
Proyek PLTS 100 GWp ini bukan proyek kecil. Ia merupakan bagian dari Program Kerja Prioritas Nasional Klaster Kemandirian Energi dan Air, yang dirancang untuk melepaskan Indonesia dari jerat energi fosil. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan, pemerintah menargetkan pembangunan 30 GWp pada 2026 sekaligus memensiunkan 13 GW pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Lebih ambisius lagi, seluruh 100 GWp ditargetkan rampung pada 2029, dengan potensi efisiensi biaya listrik mencapai Rp73,9 triliun per tahun.
Angka-angka itu menjadi penting ketika kita melihat realitas energi nasional. Indonesia memiliki potensi energi surya sekitar 3.294 GWp, namun kapasitas terpasang hingga April 2026 baru mencapai sekitar 1,5 GWp—kurang dari 0,05 persen dari potensi yang ada. Artinya, proyek ini bukan sekadar menambah kapasitas, tetapi juga uji nyata apakah birokrasi dan eksekusi di lapangan mampu mengejar ketertinggalan yang sangat besar. Pembangunan bertahap direncanakan dalam tiga fase: 17 GWp pada tahap I, 18 GWp pada tahap II, dan 30 GWp pada tahap III.
Di balik ambisi tersebut, ada pesan politik yang tidak bisa diabaikan. Prabowo secara terang-terangan menyinggung ritme kerja Kabinet Merah Putih yang "hampir tidak mengenal tanggal merah". Ia bahkan melontarkan peringatan tegas: "Yang tidak sanggup, boleh minggir. Banyak yang ingin menggantikan saudara." Ini adalah standar baru yang ia tetapkan bagi para pembantunya—bahwa pengabdian kepada negara menuntut pengorbanan, termasuk mengorbankan hari libur.
Bagi investor dan pelaku industri energi, proyek ini adalah sinyal besar. Indonesia akhirnya bergerak serius dalam transisi energi, dengan target yang lebih konkret dari sekadar wacana. Namun, tantangan pendanaan, pengadaan lahan, dan integrasi jaringan listrik masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Pertanyaannya, akankah target 2029 yang ambisius itu benar-benar tercapai, atau akankah menjadi proyek mercusuar yang mandek di tengah jalan?
Di sisi lain, pilihan lokasi di Gilimanuk, Bali—yang notabene daerah wisata—bisa dibaca sebagai upaya pemerintah untuk menunjukkan komitmen terhadap energi bersih di kawasan yang identik dengan pariwisata. Ini juga menjadi pesan kepada dunia bahwa Indonesia serius mengurangi emisi karbon, sejalan dengan komitmen Paris Agreement. Namun, efektivitas proyek ini akan diuji dari kemampuan pemerintah dalam mengelola dampak sosial dan lingkungan, serta memastikan listrik yang dihasilkan benar-benar dinikmati rakyat, bukan hanya menjadi tontonan.
Ke depan, publik akan mengawal apakah janji-janji ini berbuah nyata. Dengan tenggat yang ketat, setiap keterlambatan akan menjadi sorotan. Akankah Kabinet Merah Putih mampu membuktikan bahwa kerja keras tanpa libur berbanding lurus dengan hasil pembangunan? Atau justru sebaliknya, ritme kerja yang memforsir tenaga akan berujung pada kelelahan dan inefisiensi? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: lompatan besar ini menuntut konsistensi dan pengawasan ketat dari semua pihak.



