Shein IPO Hong Kong: Valuasi Anjlok 70%, Target Dana Capai US$1,77 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Raksasa fast-fashion Shein menargetkan perolehan dana hingga HK$13,86 miliar (US$1,77 miliar) dalam penawaran umum perdana di Hong Kong, dengan valuasi sekitar US$27 miliar.
- Angka tersebut merosot tajam dari puncak valuasi privat US$98,2 miliar pada 2022, mencerminkan skeptisisme investor terhadap prospek pertumbuhan di tengah biaya tinggi dan regulasi ketat.
- IPO ini menjadi yang terbesar di Hong Kong sepanjang 2026, menandai ujian sentimen pasar terhadap saham perusahaan konsumen di tengah persaingan e-commerce global.

Shein, peritel mode cepat asal Tiongkok, resmi meluncurkan penawaran umum perdana (IPO) di Bursa Hong Kong pada Senin (24/8) dengan target mengumpulkan dana hingga HK$13,86 miliar atau setara US$1,77 miliar. Perusahaan yang dikenal dengan gaun seharga US$5 dan celana jeans US$10 ini menawarkan 280 juta saham dengan rentang harga HK$47,60 hingga HK$49,50 per lembar, yang menempatkan valuasi perusahaan di kisaran US$27 miliar pada batas atas.
Angka valuasi tersebut merosot sekitar 70 persen dari puncak valuasi privat yang pernah mencapai US$98,2 miliar pada 2022. Sebelumnya, Shein sempat mengincar valuasi IPO antara US$30 miliar hingga US$40 miliar saat pertemuan dengan investor dimulai. Namun, kekhawatiran atas perlambatan pertumbuhan, kenaikan biaya, dan perubahan kondisi pasar membuat investor enggan memberi penilaian setinggi itu. Analis menilai penurunan ini mencerminkan realitas baru bagi perusahaan yang sebelumnya tumbuh eksplosif di pasar global.
Penurunan valuasi ini juga dipicu oleh memburuknya kinerja keuangan Shein. Dalam prospektusnya, perusahaan memperkirakan pertumbuhan pendapatan paruh pertama 2026 akan sejalan dengan pertumbuhan kuartal pertama yang hanya 1,1 persen. Margin operasional diprediksi sedikit lebih rendah dari level kuartal pertama, akibat beban impor baru di Eropa, tekanan harga, dan melemahnya permintaan di Timur Tengah yang terkait dengan perang Iran. Shein bahkan mencatat kerugian kuartalan sebesar US$99 juta setelah Amerika Serikat menghapus pengecualian bea masuk untuk paket kecil, ditambah beban nilai wajar US$328 juta terkait perubahan akuntansi.
Meski demikian, IPO Shein tetap menjadi yang terbesar di Hong Kong pada 2026, melampaui penawaran Momenta Global yang meraup US$751 juta pada Juli. Secara Asia, IPO ini menempati posisi ketiga terbesar setelah CXMT dan China Resources New Energy yang masing-masing mengumpulkan US$9,8 miliar dan US$3,6 miliar di bursa Tiongkok daratan. Pasar IPO Hong Kong sendiri mencatat total perolehan dana sekitar US$41 miliar tahun ini, rekor tertinggi untuk periode tersebut dan lebih dari dua kali lipat dibandingkan US$17 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Investor inti yang dipimpin oleh pemegang saham lama seperti Boyu, Tiger Global, dan General Atlantic telah berkomitmen membeli saham senilai sekitar US$383 juta. Tencent, Greenwoods, Taikang Life, dan UBS Asset Management juga ikut serta. Dana hasil IPO akan digunakan sekitar 80 persen untuk meningkatkan teknologi serta memperkuat merek dan kehadiran global. Shein juga berencana membayar hingga US$3,5 miliar tunai kepada investor yang memegang saham khusus dari putaran pendanaan sebelumnya.
Struktur tata kelola Shein juga menjadi sorotan. Saham yang dijual dalam IPO ini hanya memiliki sepersepuluh hak suara dibandingkan saham pendiri. Para pendiri, termasuk Sky Yangtian Xu, Maggie Gu, Molly Miao, dan Tony Ren, akan menguasai 90 persen hak suara perusahaan. Konsentrasi kekuasaan ini kerap menjadi perhatian investor institusional yang menginginkan tata kelola lebih transparan.
Bagi pasar Indonesia, IPO Shein menjadi sinyal penting bagi industri e-commerce dan fast-fashion. Dengan penetrasi internet yang tinggi dan kelas menengah yang tumbuh, Indonesia merupakan pasar potensial bagi Shein. Namun, kebijakan proteksionis seperti larangan impor barang tertentu dan dorongan untuk produk lokal bisa menjadi hambatan. Ke depan, keberhasilan Shein di bursa Hong Kong akan menjadi barometer sentimen investor terhadap model bisnis fast-fashion yang menghadapi tekanan regulasi dan perubahan perilaku konsumen. Akankah Shein mampu beradaptasi dan mempertahankan pertumbuhan di tengah tantangan global? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan.



