Skandal Minuman Keras Kembali Menerpa Tim Inggris: Carse Dicoret, Vaughan Minta Hukuman Berat
Baca dalam 60 detik
- Brydon Carse dikeluarkan dari skuad Inggris untuk Tes kedua melawan Pakistan setelah insiden dugaan mabuk di Derby.
- Michael Vaughan menilai perlu hukuman berat yang memberikan efek jera bagi seluruh pemain Inggris.
- Dalam setahun terakhir, delapan pemain kontrak Inggris terlibat insiden serupa, memicu pertanyaan tentang budaya disiplin tim.

Brydon Carse, bowler cepat andalan Inggris, resmi dicoret dari skuad untuk Tes kedua melawan Pakistan di Lord's, Kamis (28/8), menyusul insiden dugaan mabuk di Derby akhir pekan lalu. Langkah ini diambil setelah Cricket Regulator membuka penyelidikan, dan mantan kapten Inggris Michael Vaughan menilai sudah waktunya memberikan hukuman yang mampu “membuat seluruh tim bergidik” agar perilaku semacam ini tidak terulang.
Insiden yang melibatkan Carse, yang juga ditemani rekan setimnya di Durham, Ben Stokes dan Matthew Potts, menjadi babak terbaru dari rentetan kontroversi yang melanda timnas Inggris. Sepanjang tahun lalu, setidaknya delapan pemain berstatus kontrak terlibat atau hadir dalam insiden larut malam, mulai dari Harry Brook yang ditinju bouncer di Wellington, Ben Duckett yang tampak mabuk di Australia, hingga pelanggaran jam malam oleh Stokes dan Gus Atkinson di London. Angka ini mewakili lebih dari seperempat dari 30 pemain yang terikat kontrak dengan England and Wales Cricket Board (ECB).
Vaughan, yang berbicara kepada BBC Radio 5 Live, menegaskan bahwa hukuman yang dijatuhkan harus bersifat tegas dan memberikan efek jera. “Seseorang harus mendapatkan hukuman yang membuat seluruh tim Inggris dan seluruh program ini bergidik, sehingga semua orang tahu bahwa jika berperilaku buruk atau membawa reputasi buruk pada tim ini, mereka akan tahu konsekuensinya,” ujarnya. Ia juga menyampaikan empati kepada Carse, yang menurutnya berisiko menjadi “kambing hitam” atas akumulasi masalah disiplin dalam sembilan bulan terakhir.
Kontroversi ini muncul hanya satu pertandingan setelah Joe Root kembali menjabat sebagai kapten Tes. Sebelum laga perdananya melawan Pakistan di Headingley, Root sempat menyerukan para pemainnya untuk menjadi “teladan yang baik dan manusia yang baik”. Kini, ia harus menghadapi media pada Selasa (26/8) untuk menjawab pertanyaan seputar disiplin, jam malam, dan budaya minum di dalam tim. Vaughan memperkirakan Root akan “sangat marah” karena fokusnya terganggu oleh ulah anak buahnya.
Phil Tufnell, mantan spinner Inggris yang juga pernah berselisih dengan otoritas selama kariernya, sependapat bahwa hukuman berat adalah satu-satunya cara. “Jika Anda ingin menghentikan ini, satu-satunya cara adalah dengan mengatakan: 'Kamu tidak bermain untuk lima pertandingan.' Saya pernah dibuat berdiri di pojok selama karier saya di Inggris, dan diberitahu: 'Kamu tidak tersedia untuk seleksi.' Itu akan segera berhenti. Masalah ini akan beres dalam sekejap,” katanya.
Bagi pengamat kriket Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa disiplin dan profesionalisme adalah fondasi utama sebuah tim nasional. Meski kriket belum sepopuler sepak bola di Tanah Air, perkembangan ini relevan dengan upaya pembinaan atlet muda Indonesia yang mulai merambah olahraga ini. Budaya “mabuk-mabukan” yang kerap dianggap sepele justru dapat merusak karier dan citra tim, sebagaimana terlihat di Inggris. Federasi kriket Indonesia (Cricket Indonesia) dapat menjadikan kasus ini sebagai pelajaran berharga untuk menanamkan etika kerja dan tanggung jawab sejak dini kepada para pemain.
Carse sendiri sebenarnya tidak dijadwalkan tampil dalam Tes kedua, kecuali ada masalah kebugaran pada salah satu dari empat bowler utama Inggris. Namun, pencoretan ini tetap menjadi pukulan telak bagi kariernya yang sedang menanjak. Tufnell mengingatkan bahwa Carse, yang kini berusia 31 tahun, berada di fase akhir kariernya. “Anda harus menjaga kebugaran. Anda ingin melakukan spell panjang untuk Inggris dan membuat nama Anda dikenal. Sebaiknya jangan melakukan hal seperti itu (begadang),” ujarnya.
Pertanyaannya kini, apakah ECB akan benar-benar menjatuhkan hukuman berat yang mampu menghentikan budaya minum-minum di tim Inggris? Atau akankah insiden ini kembali meredup begitu sorotan media mereda? Dengan Joe Root yang harus kembali menjelaskan soal disiplin, publik menunggu langkah konkret yang diambil otoritas kriket Inggris untuk memastikan bahwa perilaku semacam ini tidak lagi menjadi noda bagi tim nasional.



