Roma vs Fiorentina: Debut Gasperini dan Grosso, Ujian Berat di Olimpico
Baca dalam 60 detik
- Laga penutup pekan pertama Serie A 2026-27 mempertemukan dua tim dengan ambisi berbeda: Roma mengejar puncak klasemen, Fiorentina berjuang keluar dari zona degradasi.
- Roma mengandalkan rekor kandang impresif dan trio lini depan baru, sementara Fiorentina membawa banyak pemain anyar di bawah pelatih anyar.
- Hasil laga ini akan menjadi indikator awal kekuatan kedua tim, sekaligus ujian bagi strategi transfer musim panas mereka.

Stadio Olimpico menjadi saksi pembuka musim bagi dua kubu yang tengah berada di persimpangan jalan. Roma dan Fiorentina saling berhadapan pada Senin malam (24/8) dalam laga penutup pekan pertama Serie A 2026-27, dengan kedua tim mengusung misi yang bertolak belakang setelah menjalani musim lalu dengan nasib yang berbeda.
Roma datang dengan status tim ketiga klasemen musim lalu, sebuah pencapaian yang mengembalikan mereka ke Liga Champions untuk pertama kalinya sejak 2018-19. Di bawah asuhan Gian Piero Gasperini, Giallorossi menutup musim dengan lima kemenangan beruntun, sebuah momentum yang ingin mereka pertahankan. Namun, keterbatasan Financial Fair Play memaksa manajemen klub untuk bergerak cermat di bursa transfer. Kedatangan Santiago Castro dari Bologna dan Rodrigo Mora dari Porto menjadi suntikan segar, sementara hanya Zeki Celik yang hengkang dari skuad utama.
Di sisi lain, Fiorentina datang dengan luka yang masih menganga. Finis di peringkat ke-15 musim lalu, La Viola nyaris terdegradasi setelah gagal menang dalam 15 laga awal—sebuah rekor buruk yang justru membuat mereka selamat secara ajaib. Pelatih anyar, Fabio Grosso, ditunjuk untuk membangun kembali skuad yang nyaris ambruk. Meski bukan dari ambisi besar, perombakan besar-besaran dilakukan: Arthur Atta, Franco Mastantuono, dan Alex Jimenez adalah sebagian dari wajah-wajah baru yang diharapkan mengubah wajah tim.
Sejarah pertemuan jelas tidak berpihak pada tim tamu. Roma hanya kalah tiga kali dalam 52 pertemuan kandang melawan Fiorentina, dan kemenangan terakhir La Viola di Olimpico terjadi pada 2018. Catatan ini menjadi beban psikologis yang berat bagi Grosso, yang harus segera membuktikan bahwa dirinya mampu membawa angin segar setelah menggantikan Paolo Vanoli—pelatih yang justru berhasil menyelamatkan tim dari degradasi musim lalu.
Dari sisi taktik, Gasperini tampaknya tidak ragu untuk langsung memainkan Rodrigo Mora di lini depan, berduet dengan Paulo Dybala dan Donyell Malen. Trio ini diharapkan menjadi mesin gol baru Roma. Sementara itu, Fiorentina menurunkan banyak pemain anyar seperti Radu Dragusin di lini belakang dan Mastantuono di lini serang, sebuah sinyal bahwa Grosso siap mengambil risiko demi perubahan.
“Kami datang ke sini untuk menang, bukan sekadar bertahan. Para pemain baru telah beradaptasi dengan cepat, dan saya percaya mereka siap tampil,” ujar Grosso dalam konferensi pers jelang laga, seperti dilansir Football Italia.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, laga ini menarik untuk disimak karena menunjukkan bagaimana dua klub dengan pendekatan transfer berbeda—satu karena keterbatasan finansial, satu lagi karena kebutuhan mendesak—berusaha mencapai target mereka. Ini juga menjadi ajang pembuktian bagi para pemain muda yang berani menyeberang ke liga top Eropa, sesuatu yang bisa menjadi inspirasi bagi pesepak bola Tanah Air yang bercita-cita berkarier di luar negeri.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Roma mampu mempertahankan dominasi kandang mereka, atau justru Fiorentina yang berhasil mencuri poin dan memulai musim dengan kejutan? Jawabannya akan menentukan arah awal perjalanan kedua tim di musim yang masih panjang ini.



