Keely Hodgkinson Mundur dari Diamond League Zurich: Tubuh Belum Siap Balapan Lagi
Baca dalam 60 detik
- Juara Olimpiade 800m putri, Keely Hodgkinson, memutuskan mundur dari ajang Diamond League di Zurich karena kondisi fisiknya belum pulih pasca Kejuaraan Eropa.
- Keputusan ini membuka peluang bagi rival-rivalnya, termasuk Femke Broel dan Georgia Hunter-Bell, untuk bersaing di nomor 800m tanpa kehadiran sang juara.
- Dengan hanya satu seri tersisa sebelum final di Brussels, absennya Hodgkinson menambah ketidakpastian dalam persaingan menuju puncak klasemen musim ini.

Keely Hodgkinson, peraih emas Olimpiade Tokyo 2020 di nomor 800 meter putri, memutuskan untuk menarik diri dari ajang Diamond League di Zurich, Kamis (27/8). Pelari asal Inggris itu mengaku kondisi tubuhnya belum pulih sepenuhnya setelah berlaga di Kejuaraan Eropa di Birmingham beberapa pekan lalu. Keputusan ini tentu mengecewakan para penggemar yang menantikan duel sengit antara Hodgkinson dan rival barunya, Audrey Werro asal Swiss.
Padahal, laga di Zurich sebelumnya diprediksi menjadi panggung pembuktian bagi Hodgkinson yang ingin kembali ke jalur kemenangan setelah gagal mempertahankan gelar juara Eropa. Werro, yang mengalahkan Hodgkinson di final Kejuaraan Eropa, seharusnya menjadi lawan utama di lintasan. Namun, Hodgkinson memilih untuk mendengarkan sinyal tubuhnya. "Sayangnya, tubuh belum siap untuk balapan lagi setelah Kejuaraan Eropa. Kami memutuskan untuk melewati balapan ini dan bersiap untuk yang berikutnya. Sedih melewatkannya, semoga bertemu tahun depan!" ujarnya dalam pernyataan resmi.
Absennya Hodgkinson tentu mengubah peta persaingan di nomor 800 meter putri. Lini depan kini diisi oleh Femke Broel, juara dunia 400 meter gawang yang musim ini mencoba peruntungan di nomor 800 meter, serta Georgia Hunter-Bell, rekan latihan Hodgkinson yang baru saja meraih emas Commonwealth Games di Glasgow. Namun, kabar buruk datang dari Kenya: Lilian Odira, juara dunia 800 meter yang mengalahkan Hodgkinson di Tokyo tahun lalu, juga memutuskan mundur karena masih mengalami kelelahan dan sakit sejak Commonwealth Games.
Keputusan Hodgkinson untuk mundur bukan tanpa alasan. Atlet berusia 23 tahun itu memang memiliki riwayat cedera hamstring dan lutut dalam beberapa tahun terakhir. Musim panas ini, ia bahkan memilih untuk melewatkan Commonwealth Games demi fokus ke Kejuaraan Eropa. Strategi itu sempat membuahkan hasil manis saat ia memenangkan London Diamond League pada 18 Juli lalu. Namun, beban kompetisi yang padat tampaknya mulai terasa. "Saya mendaftar untuk Zurich karena saya tahu semua orang akan berlaga di sana. Saya ingin berada di antara yang terbaik dan itu akan memunculkan yang terbaik dalam diri saya," kata Hodgkinson beberapa waktu lalu, menunjukkan ambisinya yang tinggi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati, terutama bagi para penggemar atletik yang mengikuti perkembangan pelari kelas dunia. Meski tidak ada atlet Indonesia yang turun di nomor 800 meter putri, dinamika persaingan di level elite ini memberikan gambaran tentang betapa ketatnya kompetisi internasional. Selain itu, keputusan Hodgkinson untuk memprioritaskan pemulihan tubuhnya menjadi pelajaran berharga tentang manajemen beban latihan dan kompetisi bagi atlet Indonesia, yang kerap kali harus menghadapi padatnya kalender pertandingan.
Dengan mundurnya dua nama besar, lomba 800 meter putri di Zurich dipastikan kehilangan daya tarik utamanya. Namun, ini menjadi kesempatan emas bagi pendatang baru seperti Femke Broel untuk menunjukkan kemampuan di nomor yang relatif baru baginya. Sementara itu, Hodgkinson diharapkan pulih tepat waktu untuk final di Brussel. Pertanyaannya, akankah ia mampu tampil maksimal dan merebut gelar juara umum Diamond League musim ini? Atau justru rival-rivalnya akan memanfaatkan momentum ini untuk menggeser dominasinya? Kita tunggu saja.



