Prabowo Puji Sinergi Penanganan Karhutla Riau, Siap Tambah Helikopter Water Bombing
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi kolaborasi TNI-Polri, BPBD, dan pemda dalam menangani kebakaran hutan dan lahan di Riau, menyebutnya sebagai contoh bagi daerah lain.
- Pemerintah berkomitmen menambah armada water bombing dan pasokan oksigen untuk memperkuat operasi pemadaman di lapangan.
- Kapolda Riau mengungkapkan pendekatan preventif seperti pemasangan plang larangan dan maklumat bersama Forkopimda berhasil menekan luas karhutla.

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kerja sama semua pihak dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau, seraya menjanjikan tambahan helikopter water bombing dan pasokan oksigen untuk mempercepat pemadaman. Dalam rapat penanganan karhutla di Riau, Senin, ia menegaskan bahwa sinergitas antara pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, dan elemen sipil menjadi kunci keberhasilan yang layak ditiru daerah lain.
Prabowo mengaku gembira melihat langkah preventif yang dinilainya cukup baik, mulai dari edukasi masyarakat, patroli bersama, hingga apel siaga. Ia meminta pola penanganan ini dicatat dan disebarluaskan ke provinsi lain yang rawan karhutla. "Ini teamwork, aku senang. Setelah Anda itu gotong-royong, saya suka sekali," ujarnya, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor.
Kapolda Riau, Irjen Polisi Herry Heryawan, memaparkan bahwa pihaknya tidak hanya mengandalkan penegakan hukum, tetapi juga pendekatan preventif melalui multi-door approach. Salah satu langkah konkret adalah pemasangan plang peringatan di lokasi bekas kebakaran yang melarang aktivitas penanaman kembali. "Bekas kebakaran tidak boleh ada lagi yang melakukan penanaman," tegasnya, sembari menyebut keberhasilan maklumat bersama Forkopimda yang melibatkan gubernur dalam pencegahan karhutla.
Di luar aspek hukum, sinergitas juga diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur pengendalian, seperti kanal blok dan sekat bakar, serta program restorasi lingkungan. Pelibatan masyarakat hingga tingkat desa menjadi tulang punggung upaya pencegahan, sejalan dengan instruksi presiden agar karhutla tidak hanya dipadamkan saat api muncul, tetapi dicegah sejak dini.
Bagi Indonesia, keberhasilan Riau dalam menekan karhutla memiliki dampak strategis, terutama dalam mengurangi emisi karbon dan kabut asap yang kerap mengganggu negara tetangga. Dengan tambahan armada water bombing dan dukungan logistik oksigen, pemerintah berharap operasi pemadaman semakin efektif. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah model gotong royong ini dapat direplikasi di daerah rawan lainnya seperti Kalimantan dan Sumatera Selatan, mengingat tantangan geografis dan sumber daya yang berbeda.
Ke depan, keberlanjutan program ini akan diuji oleh musim kemarau yang diprediksi lebih kering akibat fenomena iklim. Apakah Riau mampu mempertahankan tren positif ini, atau justru menghadapi gelombang karhutla baru? Jawabannya bergantung pada konsistensi semua pihak dalam menerapkan langkah preventif yang telah dicanangkan.



