Harga Minyak Anjlok saat AS Siap Gempur Ekonomi Iran, Pasar Asia Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Kontrak minyak mentah utama merosot 2,3 persen setelah AS mengumumkan rencana sanksi ekonomi terbaru terhadap Iran.
- Saham Asia mayoritas melemah, dipicu aksi korporasi Samsung senilai US$80 miliar dan kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan momentum AI.
- Perhatian pasar tertuju pada laporan keuangan Nvidia dan pertemuan bank sentral Jackson Hole yang dapat menentukan arah kebijakan moneter global.

Harga minyak mentah dunia jatuh lebih dari dua persen pada Senin (24/8) saat pelaku pasar bersiap menyambut rincian rencana Amerika Serikat untuk mengisolasi ekonomi Iran—sebuah langkah yang oleh Presiden Donald Trump disebut sebagai operasi keuangan paling menghancurkan yang pernah dilancarkan terhadap Teheran. Brent, acuan internasional, diperdagangkan di kisaran US$92 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) juga tertekan di level yang sama.
Tekanan di pasar komoditas berimbas pada bursa saham Asia yang mayoritas ditutup melemah. Indeks Kospi Korea Selatan merosot 1,4 persen setelah Samsung Electronics mengumumkan pembelian kembali sahamnya senilai US$80 miliar—langkah darurat yang diambil setelah aksi jual besar-besaran dalam beberapa pekan terakhir. Saham raksasa chip itu, bersama SK hynix, sempat mencapai puncaknya pada Juni lalu didorong optimisme ledakan kecerdasan buatan (AI), namun kini terkoreksi tajam di tengah kekhawatiran valuasi yang terlalu tinggi dan aksi ambil untung.
Minggu ini menjadi ujian penting bagi sektor AI. Nvidia, perusahaan paling bernilai di dunia dan barometer industri, akan merilis laporan keuangannya. Pertanyaan yang menggantung: apakah belanja besar-besaran untuk infrastruktur AI masih akan menghasilkan imbal hasil yang sepadan? "Mesin pengeluaran masih berjalan, tapi tagihannya semakin berat," ujar Stephen Innes, analis SPI Asset Management. "Nvidia harus membuktikan bahwa ledakan investasi termahal dalam sejarah pasar modern ini masih mampu membayar utangnya."
Di sisi lain, Alibaba, raksasa teknologi China, mengumumkan rencana penerbitan saham baru senilai US$10,2 miliar di Hong Kong untuk mendanai ambisi AI globalnya. Perusahaan yang dikenal dengan model open-source Qwen ini telah mengucurkan puluhan miliar dolar untuk teknologi tersebut, dan para pemegang saham menanti bagaimana investasi itu akan menghasilkan pendapatan. Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong terpangkas lebih dari 2 persen meski ada kabar positif: Shein, perusahaan fast-fashion asal China, akan melantai di bursa Hong Kong pada 1 September dengan valuasi mendekati US$27 miliar—salah satu IPO terbesar tahun ini.
Pasar juga mencermati langkah Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang akan mengumumkan detail kampanye tekanan ekonomi baru terhadap Iran. Washington telah meminta sekutu dan China untuk bergabung dalam kampanye ini, yang berlangsung di tengah perang Timur Tengah yang tidak populer dan mendekati enam bulan. Wakil Presiden AS JD Vance mengakui rencana ini adalah "tarian yang rumit" karena Iran akan berusaha menekan balik ekonomi AS. Saat ditanya apakah AS akan menekan China, Bessent menjawab bahwa "banyak percakapan sebaiknya dilakukan secara pribadi," namun menyerukan Beijing untuk "ikut serta dalam program ini".
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Sebagai importir minyak, penurunan harga minyak mentah dapat meringankan beban subsidi energi dan tekanan inflasi. Namun, ketidakpastian geopolitik yang memicu fluktuasi harga tetap menjadi risiko. Pasar saham domestik, yang pada Senin justru menguat, perlu mencermati dampak lanjutan dari gejolak global, terutama jika koreksi di sektor teknologi berlanjut. Investor Indonesia juga patut mewaspadai potensi capital outflow jika sentimen risiko global memburuk.
Minggu ini, para pelaku pasar akan mengalihkan perhatian ke pertemuan tahunan bank sentral di Jackson Hole, AS. Pertemuan ini terjadi setelah Departemen Keuangan AS membeli obligasinya sendiri pekan lalu untuk menekan biaya pinjaman, menyusul lonjakan imbal hasil obligasi 30 tahun ke level tertinggi sejak 2007. Imbal hasil yang tinggi dipicu kekhawatiran inflasi dan utang federal AS yang kini menembus US$40 triliun. Pertanyaannya, apakah The Fed akan memberi sinyal pelonggaran moneter atau tetap bertahan di tengah tekanan fiskal yang meningkat? Jawabannya akan menentukan arah pasar keuangan global dalam beberapa pekan ke depan.



