Mantan Kapten Kricket Dunia Desak Pakistan Jamin Perawatan Medis Imran Khan
Baca dalam 60 detik
- 21 legenda kricket dari berbagai negara meneken surat terbuka kepada PM Shehbaz Sharif, menuntut evaluasi medis menyeluruh bagi Imran Khan yang dipenjara sejak 2023.
- Surat itu menyoroti dugaan penurunan penglihatan mata kanan Khan dan meminta pembentukan dewan medis di bawah arahan Mahkamah Agung Pakistan.
- Langkah ini menambah tekanan internasional pada pemerintah Pakistan di tengah tuduhan perlakuan tidak manusiawi terhadap tahanan politik.

Dua puluh satu mantan kapten tim nasional kricket dari berbagai negara, termasuk legenda India Sunil Gavaskar dan mantan kapten Inggris Sir Alastair Cook, secara kolektif menyuarakan keprihatinan terhadap kondisi kesehatan Imran Khan. Dalam surat terbuka yang ditujukan kepada Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, mereka mendesak agar mantan perdana menteri yang juga mantan kapten tim kricket Pakistan itu mendapatkan perawatan medis yang layak selama masa penahanannya.
Khan, yang berusia 73 tahun, telah mendekam di penjara sejak Agustus 2023 setelah dijatuhi hukuman atas berbagai tuduhan korupsi yang ia bantah. Pekan lalu, ia hanya diberi waktu beberapa jam untuk diperiksa di sebuah rumah sakit oleh tim medis yang ditunjuk pemerintah, sebuah tindakan yang dinilai tidak memadai oleh para penandatangan surat. Mereka menuntut agar Khan diperiksa oleh dewan medis yang dibentuk atas arahan Mahkamah Agung Pakistan, yang juga melibatkan dokter pribadinya, terutama untuk mengevaluasi dugaan kehilangan penglihatan pada mata kanannya.
Surat yang diprakarsai oleh mantan kapten Australia Greg Chappell ini juga meminta agar keluarga Khan diizinkan menjenguk setiap pekan tanpa hambatan administratif, serta memastikan setiap rekomendasi pengobatan dari dewan medis segera dilaksanakan. "Imran Khan berusia 73 tahun dan telah menghabiskan lebih dari tiga tahun dalam tahanan. Apa pun argumen hukum dan politik seputar kasusnya, kepatutan dasar untuk memastikan proses medis yang diperintahkan pengadilan benar-benar selesai bukanlah permintaan yang kontroversial," demikian bunyi surat tersebut.
Langkah ini mendapat perhatian luas di Indonesia, mengingat Khan adalah figur yang dihormati di dunia kricket, olahraga yang juga memiliki basis penggemar besar di tanah air. Meski bukan isu domestik, kasus ini menyoroti pentingnya due process dan hak asasi manusia dalam sistem peradilan, nilai-nilai yang juga relevan bagi Indonesia. Para pengamat menilai bahwa solidaritas lintas negara dari para atlet ini menunjukkan bahwa isu kesehatan dan keadilan dapat melampaui batas-batas politik dan geografis.
Sebelumnya, pada Februari lalu, empat belas dari mantan kapten yang sama telah menandatangani surat permohonan serupa yang menuntut perlakuan manusiawi dan perawatan medis yang layak bagi Khan. Pengacara Khan saat itu mengklaim bahwa kliennya hanya memiliki 15 persen penglihatan tersisa di mata kanannya akibat kelalaian otoritas penjara. Partai Khan, Pakistan Tehreek-e-Insaf, juga telah mengajukan petisi penghinaan terhadap pemerintah karena tidak memberikan akses kepada dokter pribadi Khan sesuai perintah pengadilan.
Khan, yang menjabat sebagai perdana menteri Pakistan dari 2018 hingga 2022, telah menghadapi lebih dari seratus kasus, mulai dari kebocoran rahasia negara hingga penjualan hadiah kenegaraan. Ia dan partainya menegaskan bahwa semua tuduhan tersebut bermotif politik. Penahanannya telah memicu protes besar-besaran dari para pendukungnya, yang kemudian direspons dengan tindakan keras oleh aparat keamanan.
Keputusan Mahkamah Agung Pakistan pada Selasa lalu yang memerintahkan pemerintah untuk memindahkan Khan ke rumah sakit swasta untuk pemeriksaan tampaknya tidak diindahkan. Khan justru diperiksa di rumah sakit pemerintah di Islamabad, di mana ia dinyatakan "layak secara medis" sebelum kembali dipindahkan ke penjara. Ketidakpatuhan ini semakin memperkuat kekhawatiran tentang transparansi dan independensi proses hukum di Pakistan.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah tekanan internasional dari para tokoh olahraga ini akan mampu mengubah kebijakan pemerintah Pakistan terhadap Khan. Dengan semakin banyaknya suara yang menuntut keadilan, pemerintah Sharif mungkin perlu mempertimbangkan kembali sikapnya untuk menghindari isolasi diplomatik lebih lanjut. Apakah solidaritas para mantan kapten ini akan menjadi katalis bagi perubahan nyata, atau hanya menjadi catatan kaki dalam kisah panjang perjuangan politik Khan?



