Nike dan Adidas Bangkit, On dan Hoka Mulai Kehilangan Pijakan di Pasar Sepatu Lari Global
Baca dalam 60 detik
- Nike mencatat pertumbuhan penjualan lari dua digit lima kuartal beruntun, sementara Adidas melesat 30% pada kuartal pertama.
- On Holding dan Hoka mengalami perlambatan pertumbuhan, menandai berakhirnya era dominasi merek pendatang baru.
- Preferensi konsumen AS bergeser kembali ke merek besar, memberi sinyal persaingan semakin ketat di pasar global.

Pasar sepatu lari global kembali memanas. Setelah beberapa tahun kehilangan momentum, raksasa olahraga Nike dan Adidas kini menunjukkan tanda-tanda kebangkitan yang signifikan, sementara para penantang seperti On Holding dan Hoka justru mulai kehilangan kecepatan. Pergeseran ini tidak hanya mengubah peta persaingan industri, tetapi juga berdampak pada strategi pemasaran dan pilihan konsumen di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Data terbaru menunjukkan bahwa divisi lari Nike mencatatkan pertumbuhan penjualan dua digit untuk kuartal kelima berturut-turut. Sementara itu, penjualan sepatu lari Adidas melonjak hampir 30 persen pada kuartal pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pencapaian ini tidak lepas dari keberhasilan Adidas dalam merekrut atlet-atlet top, seperti Sabastian Sawe yang menjadi orang pertama yang menyelesaikan maraton kompetitif di bawah dua jam. Di sisi lain, Puma juga mencatat pertumbuhan di divisi larinya meskipun penjualan alas kaki secara keseluruhan mengalami penurunan.
Kebangkitan ini merupakan kebalikan dari situasi beberapa tahun terakhir, ketika On dan Hoka berhasil merebut pangsa pasar dengan inovasi desain dan strategi pemasaran yang agresif. Namun, kini laju pertumbuhan mereka melambat. On Holding, misalnya, untuk pertama kalinya tumbuh di bawah ekspektasi analis pada kuartal terakhir. Hoka juga mengalami penurunan pertumbuhan penjualan langsung ke konsumen menjadi hanya 4,6 persen tahun lalu. Bahkan Brooks, pesaing swasta yang selama ini solid, hanya mencatat pertumbuhan penjualan satu digit pada kuartal kedua, menurut analis Piper Sandler.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi juga berimplikasi pada pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Merek-merek seperti On dan Hoka telah membuka gerai di pusat perbelanjaan utama di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, menarik minat komunitas pelari urban. Namun, dengan kembalinya Nike dan Adidas yang gencar meluncurkan produk-produk baru dengan teknologi terkini, persaingan untuk merebut hati konsumen Indonesia semakin ketat. Harga yang kompetitif dan strategi lokal yang kuat menjadi kunci bagi merek mana pun untuk memenangkan pasar yang sedang berkembang ini.
Menurut survei konsumen yang dilakukan RBC, preferensi pembeli di Amerika Serikat kini kembali beralih ke merek-merek olahraga mapan, sementara pangsa yang menyukai merek penantang menurun dibandingkan tahun lalu. Hal ini menunjukkan bahwa loyalitas merek dan kepercayaan terhadap kualitas masih menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian. Meskipun demikian, para analis mengingatkan bahwa loyalitas pelari terhadap merek tertentu bisa menjadi pedang bermata dua. Sekali seorang pelari menemukan sepatu yang nyaman, mereka cenderung bertahan dengan merek tersebut, sehingga menyulitkan pendatang baru untuk merebut pangsa pasar.
Deutsche Bank memperkirakan bahwa pasar lari global hampir dua kali lipat antara tahun 2018 dan 2025, namun laju ekspansinya melambat dari lebih dari sepersepuluh per tahun pada 2022 menjadi 8 persen sejak saat itu. Perlambatan ini menandakan bahwa persaingan akan semakin sengit, dan hanya merek yang mampu berinovasi dan memahami kebutuhan konsumen lokal yang akan bertahan. Bagi On dan Hoka, tantangan ke depan adalah bagaimana mempertahankan pertumbuhan di tengah gempuran raksasa yang telah pulih. Sementara bagi Nike dan Adidas, pertanyaannya adalah apakah kebangkitan ini akan berkelanjutan atau hanya sekadar momentum sesaat.



