Shein Melantai di Hong Kong dengan Valuasi Jauh di Bawah Puncak, Target Dana Rp28 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Shein menargetkan perolehan dana hingga HK$13,86 miliar dari penawaran saham perdana di Bursa Hong Kong pada 1 September.
- Valuasi perusahaan diperkirakan hanya sekitar US$27 miliar, merosot tajam dari puncak US$100 miliar pada 2022 akibat perlambatan penjualan dan biaya meningkat.
- Langkah ini menjadi ujian bagi model bisnis fast-fashion di tengah ketidakpastian tarif dagang AS-China dan perubahan regulasi e-commerce global.

Raksasa fast-fashion asal Singapura, Shein, akhirnya mengumumkan rencana pencatatan saham perdananya di Bursa Hong Kong pada 1 September mendatang. Perusahaan menargetkan mengumpulkan dana hingga HK$13,86 miliar (sekitar Rp28 triliun) dengan melepas hampir 280 juta lembar saham pada kisaran harga HK$47,60 hingga HK$49,50 per saham. Pada batas atas harga tersebut, valuasi Shein diperkirakan mencapai hampir US$27 miliarโangka yang jauh di bawah valuasi puncaknya yang sempat menyentuh US$100 miliar pada putaran pendanaan swasta tahun 2022.
Penurunan valuasi yang drastis ini mencerminkan perlambatan pertumbuhan penjualan dan meningkatnya biaya operasional. Selain itu, langkah ini merupakan buah dari kegagalan Shein untuk melantai di bursa Amerika Serikat dan London akibat berbagai tantangan regulasi. Perusahaan yang bermarkas di Singapura namun berakar dari China ini telah lama menjadi sorotan terkait praktik ketenagakerjaan dan transparansi rantai pasoknya.
IPO ini didukung oleh raksasa investasi Wall Street, termasuk Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan JP Morgan. Dukungan ini menunjukkan keyakinan para bankir investasi terhadap prospek Shein di tengah kondisi pasar yang tidak menentu. Namun, keputusan untuk melantai di Hong Kong, bukan di pasar Barat, juga menjadi sinyal strategis di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan China.
Kinerja keuangan Shein belakangan ini memang menunjukkan tekanan. Pada kuartal pertama tahun ini, perusahaan mencatat kerugian bersih sebesar US$99 juta, berbanding terbalik dengan laba bersih US$395 juta pada periode yang sama tahun lalu. Salah satu pemicunya adalah kebijakan mantan Presiden AS Donald Trump yang menghapus pengecualian bea masuk untuk paket kecil, yang selama ini menjadi andalan model bisnis Shein dalam mengirim produk langsung ke konsumen AS dengan harga murah.
Ketidakpastian juga masih menyelimuti perang tarif antara AS dan China yang sempat memanas, meski saat ini tengah dihentikan sementara. Kondisi ini membuat investor bertanya-tanya apakah Shein mampu mempertahankan daya saingnya di pasar global, terutama di tengah meningkatnya biaya logistik dan regulasi yang lebih ketat terhadap e-commerce lintas batas.
Bagi pasar Indonesia, IPO Shein menjadi pengingat akan dinamika industri fast-fashion yang semakin tertekan. Konsumen Indonesia yang selama ini menikmati produk murah dari platform seperti Shein mungkin akan merasakan dampak dari perubahan strategi perusahaan, terutama jika mereka mengalihkan fokus ke pasar Asia Tenggara. Di sisi lain, pelaku industri tekstil dalam negeri bisa melihat ini sebagai peluang untuk memperkuat posisi di tengah melemahnya pemain global.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Shein dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan regulasi dan preferensi konsumen. Dengan valuasi yang lebih realistis, perusahaan mungkin akan lebih fokus pada profitabilitas daripada ekspansi agresif. Namun, tekanan dari investor dan persaingan ketat dari pemain lokal seperti Temu dan Zalora akan menjadi ujian berat bagi model bisnis Shein di masa mendatang.



