Gempa Flores: 71 Tewas, 60 Ribu Mengungsi, Ancaman Gempa Susulan Masih Mengintai
Baca dalam 60 detik
- Korban jiwa gempa NTT mencapai 71 orang, dengan hampir 60 ribu warga masih bertahan di pengungsian.
- Pemerintah telah mengirim 253 ton logistik, namun warga di daerah terpencil mengeluhkan keterbatasan terpal, obat-obatan, dan air bersih.
- Para ahli mengingatkan dua pekan pasca-gempa adalah fase kritis karena bangunan yang rapuh bisa runtuh oleh gempa susulan berkekuatan 5 magnitudo.

Lima hari setelah gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Pulau Flores, warga di sejumlah kecamatan masih bergulat dengan kondisi darurat. Di Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, warga terpaksa membangun tenda darurat dari bahan seadanya, sementara kebutuhan pokok seperti terpal, makanan, dan obat-obatan belum terpenuhi secara merata. Yohanes Lesing, seorang warga setempat, mengaku tenda yang mereka rakit sendiri sangat rapuh dan tidak layak melindungi dari cuaca.
Guncangan yang berpusat di lepas pantai Flores pada 15 Agustus itu tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga melumpuhkan infrastruktur dasar di sembilan kabupaten. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 71 korban jiwa hingga Rabu sore, sementara hampir 60.000 orang masih mengungsi. Di Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, warga mendesak pemulihan akses air bersih yang sempat terputus akibat kerusakan jaringan pipa.
Pemerintah pusat sebenarnya telah bergerak cepat. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan, atas perintah Presiden Prabowo Subianto, sebanyak 253 ton logistik telah didistribusikan ke daerah terdampak. Pada Rabu, lima pesawat dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma diterbangkan membawa 65 ton bantuan berupa makanan, air minum, tenda, dan obat-obatan. Dua pusat evakuasi baru juga didirikan di Labuan Bajo dan Maumere, dan menurut Menteri Pekerjaan Umum, seluruh jalur darat telah pulih sejak hari kedua pasca-gempa.
Namun, tantangan terbesar justru datang dari ancaman gempa susulan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sedikitnya 3.002 kali gempa susulan sejak gempa utama, dengan magnitudo bervariasi dari 1,1 hingga 6,2. Dari jumlah itu, 25 kali gempa berkekuatan di atas 5 magnitudo. Kondisi ini diperparah oleh posisi geologis NTT yang berada di zona pertemuan lempeng tektonik, termasuk zona subduksi di selatan tempat Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia.
Para seismolog dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan BMKG, Kadek Hendrawan Palgunadi dan Andrean Simanjuntak, dalam analisis bersama yang dirilis Selasa, mengingatkan bahwa dua pekan pertama pasca-gempa adalah fase paling kritis dan rapuh. โBukan karena gempa susulannya akan semakin kuat, tetapi karena banyak bangunan yang sudah rusak dan kehilangan kekuatan strukturalnya. Bahkan gempa susulan berkekuatan 5 magnitudo pun bisa meruntuhkan bangunan kritis,โ tulis para peneliti.
Kondisi ini menempatkan pemerintah pada posisi sulit: harus menyeimbangkan upaya pemulihan jangka pendek dengan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana susulan. Masyarakat di daerah terpencil, seperti Cibal Barat, masih sangat bergantung pada bantuan yang belum tentu menjangkau mereka secara merata. Sementara itu, ancaman gempa susulan membuat proses rehabilitasi infrastruktur menjadi semakin rumit.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa cepat pemerintah dapat membangun kembali hunian sementara yang lebih layak dan memulihkan layanan dasar seperti air bersih dan fasilitas kesehatan, sebelum musim hujan tiba. Jika tidak, risiko penyakit dan kesulitan logistik akan semakin memperpanjang penderitaan para penyintas. Apakah respons pemerintah yang cepat ini cukup untuk menjawab kebutuhan darurat yang terus berkembang di lapangan?



