Zandvoort Pamit dari Kalender F1: Akhir Sebuah Era yang Penuh Warna Oranye
Baca dalam 60 detik
- Sirkuit Zandvoort resmi menggelar Grand Prix Belanda terakhirnya pada 2026, menandai berakhirnya era balapan yang meriah sejak kembali ke kalender F1 pada 2021.
- Keputusan mundur diambil karena pertimbangan finansial, meski sirkuit ini sempat menjadi magnet wisata dengan hampir dua juta kunjungan selama lima tahun terakhir.
- Kehilangan Zandvoort menjadi pengingat bahwa F1 semakin mengarah ke sirkuit modern, sementara penggemar dan pembalap justru merindukan trek klasik yang penuh karakter.

Sirkuit Zandvoort, yang terletak di bukit pasir pantai Laut Utara Belanda, resmi mengucapkan selamat tinggal pada ajang Formula Satu setelah menggelar Grand Prix Belanda edisi terakhirnya pada akhir pekan lalu. Ribuan penggemar yang dijuluki 'Tentara Oranye' memadati tribun dan merayakan 'Final Lap' dengan campuran kebanggaan, kegembiraan, dan kesedihan, menandai berakhirnya salah satu balapan paling meriah dalam kalender F1 modern.
Kembalinya Zandvoort ke kalender F1 pada 2021 setelah absen 36 tahun memang sempat dianggap sebagai langkah berani. Trek sempit dan berliku dengan 14 tikungan ini, yang merupakan sirkuit terpendek kedua setelah Monako, berhasil menciptakan atmosfer yang tak tertandingi. Tikungan legendaris seperti Tarzan, yang konon dinamai dari seorang penduduk lokal yang menukar kebun sayurnya dengan hak penamaan, dan tikungan miring Hugenholtz menjadi saksi bagaimana sirkuit klasik ini mampu bertahan di era modern.
Keputusan untuk mundur sebenarnya sudah direncanakan sejak lama. Penyelenggara lokal mengumumkan pada 2024 bahwa mereka akan mengakhiri kontrak pada 2026 setelah mempertimbangkan risiko finansial. Meski demikian, kepergian Zandvoort meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi penggemar Belanda, tetapi juga bagi para pembalap yang menganggap trek ini memiliki karakter yang hilang dari sirkuit-sirkuit baru.
Max Verstappen, pembalap lokal yang menjadi ikon di sirkuit ini, mengungkapkan rasa kehilangannya. "Ini pasti akan dirindukan," ujar juara dunia empat kali itu. "Selalu menyenangkan untuk balapan di sini. Bahkan jika saya bukan orang Belanda, balapan di sini akan selalu luar biasa. Dan tentu saja, menjadi orang Belanda membuatnya lebih spesial." Verstappen berhasil memenangkan tiga edisi pertama dari posisi pole, sekaligus mendongkrak penjualan merchandise Red Bull dan konsumsi bir di sekitar sirkuit.
Pembalap McLaren, Lando Norris, yang memiliki darah Belgia dan juga mendapat dukungan besar dari penggemar lokal, menyayangkan kepergian sirkuit ini. "Saya suka acaranya, para penggemarnya. Meskipun kebanyakan dari mereka datang untuk satu pembalap, atmosfernya selalu menyenangkan, penuh gairah, dan itu yang Anda inginkan," katanya. Norris, yang meraih pole position pada edisi 2024, menambahkan bahwa jika pilihan ada di tangan pembalap, mereka akan mempertahankan Zandvoort di kalender.
Lewis Hamilton, yang belum pernah menang di Zandvoort sepanjang karier F1-nya, juga memberikan penghormatan. "Ini sirkuit yang luar biasa," kata pembalap Ferrari itu. "Penontonnya hebat. Sangat spesial, terutama bagi Max yang mendapat dukungan luar biasa sepanjang akhir pekan, tetapi mereka benar-benar menciptakan atmosfer." Hamilton memiliki kenangan manis di sirkuit ini dari masa juniornya.
Jan Lammers, mantan pembalap dan direktur olahraga Grand Prix yang tumbuh di Zandvoort, mengenang bagaimana ide menghidupkan kembali F1 di sirkuit ini sempat dianggap gila. Namun, kenyataannya melampaui ekspektasi. "Ratusan ribu penggemar. Lautan oranye. Dari kereta pertama yang tiba di pagi hari hingga lama setelah mobil terakhir melewati garis finis. Apa yang terjadi di sini menjadi lebih besar dari yang kami bayangkan," tulisnya dalam surat terbuka. "Zandvoort menjadi lebih dari sekadar balapan. Ia menjadi citra yang dilihat dunia. Tribun oranye, bukit pasir, laut, dan antisipasi setiap kali Max melaju di trek."
Bagi Indonesia, kepergian Zandvoort dari kalender F1 bisa menjadi pelajaran berharga. Indonesia sendiri tengah berupaya menghadirkan ajang balap internasional, seperti MotoGP di Mandalika. Keberhasilan Zandvoort menarik hampir dua juta pengunjung dalam lima tahun menunjukkan bahwa sirkuit dengan karakter kuat dan dukungan penggemar yang fanatik bisa menjadi magnet pariwisata yang luar biasa. Namun, di sisi lain, keputusan mundur karena beban finansial juga menjadi pengingat bahwa investasi infrastruktur balap harus dihitung secara matang agar tidak menjadi beban jangka panjang.
Dengan mundurnya Zandvoort, kalender F1 kehilangan salah satu sirkuit yang paling dicintai pembalap dan penggemar. Pertanyaannya kini, apakah F1 akan semakin homogen dengan sirkuit-sirkuit modern yang cenderung steril, atau justru ada pelajaran yang bisa diambil untuk mempertahankan trek klasik yang memiliki jiwa? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: warna oranye di bukit pasir Zandvoort akan selalu dikenang sebagai salah satu babak paling berwarna dalam sejarah Formula Satu.



