Skandal Baru Timnas Inggris: Brydon Carse Diborgol Polisi, Delapan Pemain Terlibat Insiden dalam 10 Bulan
Baca dalam 60 detik
- Foto Brydon Carse diborgol polisi di Derby memicu kekhawatiran baru tentang perilaku pemain kriket Inggris, dengan total delapan pemain terlibat insiden sejak Halloween.
- Joe Root, kapten baru, menghapus jam malam dan aturan minum, namun kritik muncul karena insiden terus berulang, menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas kepemimpinan.
- ECB belum memutuskan nasib Carse untuk Tes kedua melawan Pakistan, sementara tekanan publik dan internal meningkat untuk tindakan tegas.

Foto fast bowler Brydon Carse dalam keadaan diborgol polisi di luar klub malam Derby, Minggu (13/10), kembali mencoreng reputasi kriket Inggris. Insiden ini menambah daftar panjang perilaku buruk pemain timnas, yang kini melibatkan delapan dari 30 pemain berstatus kontrak pusat dalam 10 bulan terakhir.
Gambar yang beredar di media sosial memperlihatkan Carse dikelilingi aparat, dengan rekan setimnya di Durham, Matthew Potts, serta mantan kapten Inggris Ben Stokes yang tampak di latar belakang. Meski Carse tidak ditangkap, ECB dan Regulator Kriket akan menyelidiki kejadian tersebut. Dugaan awal menyebut Carse ditolak masuk kembali ke klub atau menjadi sasaran tumpahan minuman.
Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah Joe Root, yang baru diangkat sebagai kapten Tes, menyerukan para pemainnya untuk menjadi panutan yang baik. Ironisnya, Root justru menghapus jam malam tengah malam dan pedoman minum alkohol pada hari pertandingan sebagai langkah pertamanya memimpin, dengan alasan memberi kepercayaan dan tanggung jawab kepada pemain.
Sejak Halloween tahun lalu, tercatat empat insiden terpisah yang melibatkan pemain Inggris. Harry Brook dipukul penjaga klub malam di Wellington, Ben Duckett direkam dalam keadaan mabuk di Noosa, serta Stokes dan Gus Atkinson terlibat dalam insiden pemukulan anggota staf keamanan di London pada Juni. Dua insiden melibatkan perkelahian, dan satu melibatkan polisi.
Kritik tajam datang dari berbagai pihak, termasuk pengamat kriket yang menilai perilaku para pemain ini sudah melampaui batas. Mereka dianggap lalai akan status publik dan dampak tindakan mereka terhadap citra tim. Bahkan, mantan kapten Stokes yang kini menjadi karyawan ECB melalui kontrak pusat, dipertanyakan perannya dalam mencegah insiden serupa, terutama setelah ia membantah adanya budaya minum di tim.
ECB baru mengetahui insiden tersebut pada Minggu sore dan akan memutuskan apakah Carse tetap dipertahankan dalam skuad untuk Tes kedua melawan Pakistan di Lord's, Kamis mendatang. Direktur kriket Rob Key, yang sebelumnya membantah tim Inggris menjadi "aib nasional", kemungkinan akan kembali dimintai keterangan. Sementara itu, pelatih baru Stephen Fleming baru akan mulai bertugas pada musim dingin, sehingga kepemimpinan sementara dipertanyakan.
Bagi pengamat, insiden berulang ini menunjukkan lemahnya pengawasan dan kurangnya sanksi tegas. Pertanyaan besarnya: apakah ECB akan mengambil tindakan keras, seperti mengeluarkan pemain dari skuad atau memberikan hukuman berat, atau membiarkan pola ini terus berlanjut? Keputusan dalam beberapa hari ke depan akan menjadi ujian bagi kredibilitas Root dan komitmen ECB terhadap tata kelola yang bersih.



