Robot Humanoid China Hancurkan Rekor Lari 100 Meter Usain Bolt di Olimpiade Robot Beijing
Baca dalam 60 detik
- Robot humanoid buatan China memecahkan rekor dunia lari 100 meter dengan catatan 9,39 detik, melampaui rekor Usain Bolt.
- Ajang World Humanoid Robot Games di Beijing menampilkan lebih dari 2.000 robot dari 16 negara, menegaskan dominasi China di tengah persaingan teknologi dengan AS.
- Larangan impor robot humanoid oleh AS dan sanksi terhadap Unitree menandai eskalasi ketegangan teknologi, sementara China terus memacu inovasi.

Robot humanoid buatan China mencatatkan sejarah baru di ajang World Humanoid Robot Games di Beijing, Sabtu (23/8), dengan memecahkan rekor dunia lari 100 meter yang selama 17 tahun dipegang sprinter legendaris Jamaika, Usain Bolt. Catatan waktu 9,39 detik yang ditorehkan robot besutan X-Humanoid itu langsung menggeser rekor manusia 9,58 detik yang dibuat Bolt pada Kejuaraan Dunia 2009 di Berlin.
Pencapaian ini bukan sekadar seremoni. Di baliknya, Beijing tengah menunjukkan lompatan besar dalam riset robotika humanoid di tengah persaingan teknologi yang semakin memanas dengan Amerika Serikat. Lebih dari 2.000 robot dari 16 negara, termasuk Jerman, Jepang, dan AS, ambil bagian dalam pesta olahraga bergaya Olimpiade yang berlangsung lima hari itu. Total 51 cabang dan lebih dari 1.000 pertandingan digelar, mulai dari lari, tenis meja, sepak bola, hingga angkat besi dan tarik tambang.
Gelaran yang berlangsung di National Speed Skating Oval, arena sisa Olimpiade Musim Dingin 2022, ini juga bertepatan dengan World Robot Conference 2026 yang memamerkan sekitar 3.000 produk robotika. Bagi China, momen ini menjadi panggung untuk menegaskan posisinya sebagai produsen robot humanoid terbesar duniaโsekaligus menjawab tekanan dari Washington yang belakangan makin ketat mengawasi produk teknologi Negeri Tirai Bambu.
Ketegangan itu nyata. Bulan lalu, Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) mengumumkan larangan impor robot humanoid buatan luar negeri dengan alasan keamanan nasional, yang secara tersurat menyasar China. Pentagon juga memasukkan Unitree, salah satu produsen robot humanoid terkemuka China, ke dalam daftar perusahaan yang dianggap memiliki kaitan dengan militer China. Beijing merespons dengan mengecam langkah tersebut sebagai bentuk diskriminasi dagang yang tidak berdasar.
Di tengah rivalitas itu, catatan yang diukir robot-robot China memang sulit dibantah. Selain lari 100 meter, robot X-Humanoid juga memecahkan rekor lompat tinggi dengan torehan 2,88 meterโjauh melampaui rekor manusia 2,45 meter milik Javier Sotomayor sejak 1993. Sebelumnya, robot dari produsen ponsel Honor sempat mencatat 9,32 detik dalam uji coba lari 100 meter dengan kecepatan puncak 14,5 meter per detik.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa robot humanoid saat ini masih didominasi untuk demonstrasi, pertunjukan, dan riset. Adopsi massal di dunia nyata, seperti di pabrik atau layanan publik, masih membutuhkan waktu dan penyempurnaan teknologi yang panjang. Namun, antusiasme publik Beijing tidak bisa disembunyikan. Li Yanfeng, seorang pekerja pendidikan yang semula skeptis terhadap kecerdasan buatan, mengaku kini berubah pikiran. "Perkembangannya tidak bisa dihindari, saya memutuskan untuk datang dan melihat langsung," ujarnya. Hal senada diungkapkan Yang Shangzheng yang takjub melihat robot mampu melakukan olahraga yang lazim bagi manusia.
Bagi Indonesia, kemajuan robotika China ini menjadi sinyal penting. Di tengah rencana pemerintah membangun ekosistem industri robotika dan kecerdasan buatan, kehadiran robot humanoid yang semakin canggih bisa menjadi peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, Indonesia bisa belajar dari kebijakan China yang masif dalam mendanai riset dan menggelar ajang internasional untuk memacu inovasi. Di sisi lain, ketergantungan pada teknologi impor berisiko memperlebar kesenjangan jika tidak diimbangi dengan penguasaan riset lokal.
Pertanyaan besarnya, akankah persaingan ini justru memicu akselerasi inovasi global atau malah memecah dunia dalam dua kubu teknologi? Dengan larangan impor yang kian tegas dan sanksi yang berlapis, arah perkembangan robot humanoid ke depan akan sangat ditentukan oleh bagaimana negara-negara menyeimbangkan kepentingan keamanan nasional dengan keterbukaan riset. Bagi Indonesia, memilih posisi di tengah pusaran ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan juga strategi jangka panjang untuk daya saing bangsa.



