Lee Hsien Loong Jelajah Asia Tengah: Kunjungan Bersejarah ke Kazakhstan dan Uzbekistan
Baca dalam 60 detik
- Mantan Perdana Menteri Singapura itu akan memulai lawatan delapan hari ke dua negara Asia Tengah, menandai kunjungan pertamanya ke kawasan tersebut.
- Agenda padat mencakup pertemuan dengan kepala negara, penganugerahan penghargaan tertinggi Kazakhstan, serta pidato di parlemen Uzbekistan.
- Kunjungan ini berpotensi membuka babak baru kerja sama ekonomi, termasuk negosiasi perjanjian perdagangan bebas dengan Uzbekistan.

Singapura kembali menunjukkan ambisinya memperluas pengaruh diplomatik di kawasan Asia Tengah. Senior Minister Lee Hsien Loong dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke Kazakhstan dan Uzbekistan pada 24โ31 Agustus mendatang, sebuah langkah yang disebut sebagai lawatan pertamanya ke wilayah yang kaya sumber daya alam tersebut.
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni. Lee diagendakan bertemu dengan presiden dan perdana menteri kedua negara, termasuk Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev dan Perdana Menteri Olzhas Bektenov di Astana. Ia juga akan menerima penghargaan sipil tertinggi Kazakhstan, Order of Dostyk Kelas Satu, sebuah kehormatan yang sebelumnya diberikan kepada mantan Presiden Halimah Yacob dan mendiang Lee Kuan Yew.
Di luar pertemuan politik, Lee akan menyampaikan kuliah di Nazarbayev University dan menerima gelar profesor kehormatan. Di Almaty, ia dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin bisnis Singapura dan Kazakhstan, menandakan fokus pada penguatan hubungan ekonomi. Kazakhstan merupakan mitra dagang terbesar Singapura di Asia Tengah, dengan total perdagangan barang mencapai S$326,6 juta dan perdagangan jasa S$159 juta.
Sementara itu, di Uzbekistan, Lee akan mengunjungi Tashkent dan Samarkand. Ia dijadwalkan bertemu Presiden Shavkat Mirziyoyev dan Perdana Menteri Abdulla Aripov, serta berpidato di Senat Oliy Majlis, majelis tinggi parlemen Uzbekistan. Yang menarik, kunjungan ini akan menjadi momentum penandatanganan pernyataan bersama untuk memulai negosiasi perjanjian perdagangan bebas (FTA) antara kedua negara.
Langkah ini menunjukkan strategi Singapura yang semakin agresif dalam menjalin kemitraan dengan negara-negara Asia Tengah, yang selama ini lebih banyak berinteraksi dengan kekuatan besar seperti Tiongkok dan Rusia. Bagi Indonesia, dinamika ini patut dicermati. Sebagai sesama negara ASEAN, Indonesia juga tengah berupaya memperluas akses pasar ke kawasan tersebut, terutama dalam sektor energi dan infrastruktur.
Menurut pengamat hubungan internasional, kunjungan Lee ke Asia Tengah merupakan bagian dari upaya Singapura untuk mendiversifikasi mitra dagang di tengah ketegangan geopolitik global. "Singapura melihat potensi besar di Asia Tengah, tidak hanya sebagai pasar baru, tetapi juga sebagai pintu masuk ke Eropa dan Timur Tengah," ujar seorang analis yang enggan disebutkan namanya.
Dengan agenda yang padat dan target konkret seperti FTA, kunjungan ini diharapkan mampu memperkuat posisi Singapura sebagai hub bisnis dan diplomatik di kawasan. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan mengambil langkah serupa untuk mengejar ketertinggalan di Asia Tengah? Atau justru membiarkan Singapura melaju sendirian?



