Peringatan Dini yang Terabaikan: Ketika Sir James Goldsmith Menyebut Epstein 'Menyimpang' Sebelum FBI Bergerak
Baca dalam 60 detik
- Sir James Goldsmith, taipan Inggris yang meninggal pada 1997, disebut telah memperingatkan seorang arsitek bahwa Jeffrey Epstein adalah 'penyimpang seksual' yang merekrut anak-anak, sekitar satu dekade sebelum penyelidikan federal pertama.
- Peringatan itu muncul saat Goldsmith membuka kantor operasi di Hilton Head, South Carolina, pulau mewah yang kemudian menjadi lokasi dugaan pelecehan terhadap seorang remaja yang dikenal sebagai Jane Doe 4.
- Kasus ini menyoroti bagaimana jejaring elite lintas benua mampu menutupi perilaku predatoris selama puluhan tahun, sementara dokumen era 1980-an masih minim dalam rilis arsip Departemen Kehakiman AS.

Seorang taipan Inggris yang meninggal lebih dari dua dekade lalu disebut telah mengetahui perilaku menyimpang Jeffrey Epstein jauh sebelum aparat federal Amerika Serikat menaruh perhatian pada finansier tersebut. Sir James Goldsmith, yang wafat pada 1997, dikabarkan memberi peringatan kepada arsitek kenamaannya, Robert Couturier, sekitar 1987—bahwa Epstein adalah sosok yang tak layak didekati karena terlibat dalam rekrutmen anak-anak untuk kegiatan terlarang.
Peringatan itu mencuat kembali dalam investigasi terbaru yang menelusuri jejak hubungan antara Goldsmith dan Epstein, termasuk keberadaan kantor perusahaan Goldsmith di Hilton Head, South Carolina, pada pertengahan 1980-an. Pulau itu tengah mengalami ledakan properti dan menjadi tempat persinggahan para eksekutif, spekulan, serta pesawat jet pribadi. Di sanalah seorang perempuan yang belakangan dikenal sebagai Jane Doe 4 mengaku mengalami pelecehan seksual saat masih remaja.
Menurut Couturier, Goldsmith pernah berpesan agar ia menjauhi Epstein. "Ia bilang jangan berurusan dengan orang itu, dia penyimpang, dan dia tidak ingin orang itu dekat-dekat kami. Dia punya empat putri yang harus dilindungi," ujar Couturier, seperti dikutip dari wawancara dengan The Guardian. Couturier, yang merancang sejumlah rumah mewah untuk Goldsmith di New York dan Meksiko, mengaku mengingat betul pesan tersebut.
Kisah ini bukan sekadar catatan sejarah kelam seorang predator. Ia memperlihatkan bagaimana lingkaran elite lintas Atlantik—dari London, Paris, hingga New York—memiliki mekanisme informal untuk melindungi anggotanya dari kecurigaan. Goldsmith sendiri adalah tokoh yang disegani: ia diberi gelar ksatria oleh Ratu Elizabeth II pada 1976, menjadi politikus terkemuka, dan dikenal sebagai "penjudi beruntung" oleh majalah Time karena kepiawaiannya mengakuisisi perusahaan undervalued. Namun, peringatannya kepada Couturier tidak pernah dilaporkan ke otoritas setempat maupun federal.
Yang membuat kasus ini kian rumit adalah minimnya jejak fisik. Epstein belum memiliki pesawat pribadi pada 1980-an, sehingga tidak ada log penerbangan yang bisa mengonfirmasi keberadaannya di Hilton Head. Sebagian pihak, termasuk saudara Epstein, Mark, meragukan klaim Jane Doe 4 karena tidak ada catatan publik tentang kehadirannya di pulau itu. Mark Epstein menyatakan tidak memiliki pengetahuan tentang kunjungan tersebut. Namun, Jane Doe 4 memberikan kesaksian dalam empat wawancara FBI pada 2019, tak lama setelah Epstein ditangkap. Ia menyebut pernah dibawa ke New York atau New Jersey dan diperkenalkan kepada Donald Trump, klaim yang dibantah keras oleh Gedung Putih sebagai "tanpa dasar" dan "tanpa bukti kredibel".
"Itulah yang paling menyedihkan. Semua ini bisa dicegah," ujar Couturier, mengenang peringatan Goldsmith yang ia nilai sebagai momen krusial yang terlewat.
Pola serupa terlihat dalam hubungan Epstein dengan sejumlah nama besar. Ia pernah menjadi klien dan kemudian mengelola kekayaan Les Wexner, pendiri Victoria's Secret, sebelum hubungan itu putus pada 2007. Epstein juga sempat bekerja di Bear Stearns, perusahaan yang sama tempat Goldsmith menjadi klien utama. Jaringan itu meluas ke tokoh seperti Adnan Khashoggi, pedagang senjata asal Saudi, dan Jean "Johnny" Pigozzi, kolektor seni yang duduk sebagai salah satu wali warisan Goldsmith. Bahkan Ghislaine Maxwell, yang kemudian menjadi mitra utama Epstein dalam merekrut perempuan muda, baru masuk ke lingkaran itu pada 1990—setelah peringatan Goldsmith pertama kali mencuat.
Bagi Indonesia, kasus ini menyoroti pentingnya transparansi dalam penegakan hukum terhadap kejahatan seksual lintas negara. Ketika jejaring kekayaan dan kekuasaan mampu menunda investigasi selama puluhan tahun, negara-negara dengan sistem perlindungan anak yang masih rapuh—termasuk Indonesia—menghadapi risiko serupa: predator dengan akses global dapat beroperasi tanpa terdeteksi. Kerja sama internasional dalam pelacakan aliran dana dan pergerakan lintas batas menjadi kian mendesak, terutama karena modus operandi Epstein melibatkan perjalanan rutin dan properti mewah di berbagai yurisdiksi.
Hingga kini, sekitar 2,5 juta dokumen Epstein yang dinilai duplikatif masih ditahan oleh Jaksa Agung Todd Blanche, memicu gugatan dari jurnalis independen Katie Phang. Sebagian dokumen terkait Jane Doe 4 telah diserahkan ke hakim federal untuk ditinjau. Sementara itu, penyelidikan terhadap dua pengelola estate Epstein senilai US$577 juta, Darren Indyke dan Richard Kahn, masih berjalan. Keduanya membantah mengetahui perilaku kriminal Epstein. Pertanyaan yang tersisa: jika peringatan sudah ada sejak 1987, mengapa butuh lebih dari dua dekade bagi sistem hukum untuk bertindak?



