Tes Mobilitas Populer di Media Sosial: Jangan Buru-buru Menyimpulkan Umur Panjang
Baca dalam 60 detik
- Tes fisik seperti berdiri dari posisi duduk di lantai kerap dianggap sebagai indikator umur panjang, namun para ahli mengingatkan bahwa hasilnya hanyalah alat skrining awal.
- Berbagai metode pengukuran, mulai dari kekuatan genggaman hingga kecepatan berjalan, digunakan dokter untuk menilai risiko jatuh dan kondisi 'frailty', bukan untuk memprediksi kematian.
- Di Indonesia, kesadaran akan pentingnya deteksi dini gangguan mobilitas pada lansia masih rendah, padahal jatuh merupakan penyebab utama cedera serius pada kelompok usia tersebut.

Unggahan video di media sosial yang memperlihatkan seseorang dengan lincah duduk bersila di lantai lalu berdiri kembali tanpa bantuan tangan kerap menuai decak kagum. Tes sederhana ini, yang dikenal sebagai 'sit-to-stand', sering disebut-sebut sebagai tolok ukur kebugaran dan bahkan prediktor panjang umur. Namun, para ahli kesehatan menegaskan bahwa hasil tes semacam itu tidak bisa diartikan secara harfiah sebagai jaminan hidup lebih lama, melainkan sebagai pemicu untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Menurut Auriel Willette, pakar penuaan otak dari Rutgers University, hasil yang buruk atau menurun dalam tes mobilitas seharusnya menjadi alasan bagi tenaga kesehatan untuk menyelidiki penyebab perubahan fungsi tubuh, bukan untuk mengukur sisa umur seseorang. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya interpretasi yang tepat terhadap berbagai tes fisik yang populer di kalangan masyarakat.
Beragam metode pengukuran mobilitas telah dikembangkan, masing-masing dengan fokus yang berbeda. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) misalnya, memiliki tes kursi 30 detik yang dirancang khusus untuk pasien di atas 60 tahun. Sementara itu, tes yang viral di media sosial, yang memberikan skor 10 untuk kemampuan duduk dan berdiri dari lantai tanpa bantuan, memang pernah dikaitkan dengan risiko kematian dalam studi di Brasil, tetapi para dokter di AS mengaku jarang menggunakannya untuk pasien lansia.
Di sisi lain, banyak praktisi medis di Amerika Serikat lebih mengandalkan tes 'Timed Up and Go' (TUG), yang mengukur waktu yang dibutuhkan seseorang untuk bangkit dari kursi, berjalan sejauh 3 meter, dan kembali duduk. Tes ini dinilai mampu mengevaluasi keseimbangan, mobilitas, dan kekuatan tungkai bawah secara bersamaan. Dr. George Hennawi dari MedStar Health di Baltimore menjelaskan bahwa semua tes tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi kelemahan spesifik dan mencari akar penyebabnya, entah itu nyeri lutut, refleks lambat, atau masalah kardiovaskular.
Para ahli menekankan bahwa tes-tes ini hanyalah alat skrining, bukan diagnosis final. Dr. David Lee dari Klinik Jatuh Multidisiplin UCLA mengingatkan bahwa kekuatan genggaman, misalnya, dapat dipengaruhi oleh arthritis, stroke, atau sekadar kurangnya latihan otot. Oleh karena itu, hasil dari satu tes tidak boleh berdiri sendiri; perlu dikombinasikan dengan penilaian lain seperti kognisi, memori, pendengaran, dan penglihatan untuk mendapatkan gambaran utuh tentang kondisi kesehatan seseorang.
Di Indonesia, kesadaran akan pentingnya deteksi dini gangguan mobilitas pada lansia masih menjadi tantangan. Banyak keluarga yang menganggap penurunan kemampuan fisik sebagai hal yang wajar seiring bertambahnya usia, sehingga sering terlambat mendapatkan intervensi. Padahal, jatuh merupakan salah satu penyebab utama cedera serius dan bahkan kematian pada populasi lansia. Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi di berbagai rumah sakit tanah air sebenarnya memiliki perangkat penilaian serupa, namun belum banyak disosialisasikan ke masyarakat luas.
Emily Nabors, pakar pencegahan jatuh dari National Council on Aging, mengingatkan bahwa jika seseorang merasa baik-baik saja setelah jatuh, belum tentu kondisinya aman. Ia menyarankan agar hasil tes mobilitas yang buruk menjadi langkah awal untuk berkonsultasi dengan dokter, yang bisa merekomendasikan alat bantu, terapi fisik, atau penyesuaian obat. Lebih jauh, ia mengutip perkiraan bahwa lebih dari seperempat lansia jatuh setiap tahun, tetapi mayoritas tidak melaporkannya.
Alih-alih berfokus pada skor tes semata, para ahli menyarankan pendekatan holistik: berolahraga secara teratur, mengonsumsi makanan bergizi, mengelola stres, dan memprioritaskan tidur yang cukup. Yang terpenting, setiap hasil tes harus dipahami dalam konteksnya. Standar performa yang berlaku untuk satu kelompok usia belum tentu relevan untuk kelompok lain. Pertanyaannya, akankah masyarakat Indonesia mulai lebih proaktif memeriksakan kondisi mobilitasnya sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan?



