Millennials Kalahkan Gen Z dalam Adopsi AI: Sinyal Pergeseran Pasar Kerja Global
Baca dalam 60 detik
- Survei Channel V Media terhadap 7.675 orang dewasa AS menunjukkan 47,2% milenial memakai AI generatif, melampaui 44,3% Gen Z.
- Kekhawatiran kehilangan pekerjaan pada Gen Z dua kali lipat milenial, mencerminkan kerentanan posisi entry-level terhadap otomatisasi.
- Hanya 7,7% responden yang menggunakan AI agentik, menandakan adopsi otonomi penuh masih jauh dari harapan industri.

Milenial kini menyalip Generasi Z sebagai pengguna AI paling aktif di Amerika Serikat, menurut survei terbaru dari Channel V Media terhadap 7.675 orang dewasa pada Juni lalu. Temuan ini membalik asumsi lama bahwa generasi termuda—yang tumbuh bersama internet—akan otomatis memimpin adopsi teknologi.
Data menunjukkan 47,2% milenial memanfaatkan alat AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, dan Copilot, sementara Gen Z hanya 44,3%. Selisihnya memang tipis, tetapi arahnya signifikan: generasi yang lebih matang secara profesional justru lebih terbuka terhadap AI ketimbang mereka yang baru memasuki dunia kerja.
Perbedaan ini bukan soal kenyamanan teknologi, melainkan persepsi risiko. Gen Z memandang AI sebagai ancaman langsung terhadap pekerjaan awal karier, sementara milenial melihatnya sebagai alat bantu yang mempercepat produktivitas tanpa menggantikan peran mereka. Survei mencatat 14,8% responden Gen Z takut kehilangan pekerjaan karena AI, hampir dua kali lipat milenial yang hanya 8,3%. Selain itu, 21,9% Gen Z melaporkan kecemasan terkait AI, menjadikan mereka generasi paling gelisah.
Sejumlah analis menilai kesenjangan ini berakar pada pengalaman kerja. Milenial yang telah berkarier sekitar satu dekade memiliki penilaian untuk menilai kualitas output, sehingga AI menjadi akselerator, bukan substitusi. "Milenial tahu seperti apa hasil kerja yang baik, jadi AI mempercepat produksi tanpa membuat mereka tersingkir," ujar Nayan Goel, peneliti AI dan insinyur keamanan aplikasi di Upgrade Inc.
Sebaliknya, Gen Z berada di posisi rentan karena AI generatif unggul dalam tugas-tugas entry-level seperti menyusun draf, merangkum, dan riset awal. "Gen Z menempati anak tangga terendah dalam karier, dan AI menargetkan anak tangga itu lebih dulu," tambah Goel. Kekhawatiran ini diperkuat survei Pew Research Center yang menemukan orang di bawah 30 tahun lebih pesimistis tentang dampak sosial AI.
"Mereka diberi tahu bahwa AI adalah masa depan, tetapi di saat yang sama AI bisa mengambil masa depan mereka. Pekerjaan awal itulah tempat kami pertama kali membangun penilaian," kata Ana Homayoun, strategi pengembangan karier awal.
Meski adopsi AI generatif terus naik, skeptisisme terhadap AI otonom tetap tinggi. Hanya 17,6% responden yang menganggap AI otonom sebagai ide baik, sementara 41,8% menolak dan 40,6% ragu-ragu. Ini menandakan bahwa kepercayaan pada AI yang bertindak sendiri masih jauh tertinggal dari penggunaan alat bantu pasif.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan dengan bonus demografi yang sedang memasuki pasar kerja. Jika perusahaan dalam negeri mengadopsi AI untuk memangkas posisi entry-level, generasi muda berisiko kehilangan kesempatan mengasah keterampilan dasar. Padahal, pengalaman di jenjang awal itulah yang membentuk kemampuan pengambilan keputusan yang tidak bisa direplikasi mesin.
Ke depan, pertanyaan bagi korporasi bukan lagi apakah karyawan akan memakai AI, melainkan seberapa jauh mereka rela memberi otonomi kepada sistem tersebut. Tanpa strategi pengembangan talenta yang seimbang, efisiensi jangka pendek bisa berubah menjadi krisis keahlian pada dekade berikutnya.



