Rhine Derby: Ketika Gladbach dan Köln Bertarung Bukan Sekadar Rebutan Tiga Poin
Baca dalam 60 detik
- Borussia Mönchengladbach dan FC Köln menyimpan sejarah panjang sebagai dua klub tersukses di kawasan Rhine dengan total tujuh gelar Bundesliga.
- Derby ini melahirkan momen-momen ikonik, termasuk gol Günter Netzer yang kontroversial dan pertandingan pertama tanpa penonton dalam sejarah Bundesliga.
- Pertemuan terbaru pada Minggu menjadi pengingat bahwa rivalitas regional di Jerman tetap menjadi magnet sepak bola yang sulit ditandingi.

Borussia Mönchengladbach dan FC Köln kembali bersua dalam laga bertajuk Rhine Derby, sebuah pertemuan yang jarang menghasilkan kejutan taktis, tetapi selalu menyajikan tensi tinggi khas persaingan dua kota di Jerman barat. Laga yang digelar di RheinEnergieStadion ini bukan sekadar perebutan poin Bundesliga, melainkan kelanjutan dari permusuhan lama yang telah berlangsung sejak era 1950-an.
Yang membuat derby ini unik, kedua kota sebenarnya tidak berada di tepi sungai yang sama. Köln adalah kota terbesar di Rhine dengan populasi lebih dari satu juta jiwa, sementara Mönchengladbach—berpenduduk sekitar seperempat juta—justru tidak dilalui sungai itu. Kota ini terletak di antara Rhine dan Meuse di Belanda, kawasan yang dikenal sebagai Lower Rhine. Namun, kedekatan geografis dan dominasi historis di wilayah tersebut membuat rivalitas ini tetap membara.
Secara prestasi, Gladbach dan Köln adalah dua klub paling berhias di kawasan Rhine. Gladbach mengoleksi lima gelar Bundesliga, sedangkan Köln dua. Sejak Köln terbentuk dari merger pada 1948, keduanya telah bentrok sejak dekade 1950-an. Intensitas rivalitas ini bahkan merembet ke dunia hiburan: pada Juli 2020, seorang kontestan kuis "Gefragt – Gejagt" yang merupakan penggemar Gladbach, Claus Blümel, menolak menyebut nama Köln saat ditanya klub yang menjuarai Bundesliga 2 2018/19. Aksi itu berbuah jersey dan voucher senilai €500 dari klub kesayangannya.
Nama Hennes Weisweiler menjadi jembatan antara kedua klub. Ia pernah menjadi pemain dan pelatih Köln (1937–1952, lalu 1955–1958), tetapi masa keemasannya justru terjadi saat menangani Gladbach selama 11 tahun. Weisweiler membawa Gladbach promosi ke Bundesliga pada 1965, memoles pemain muda seperti Günter Netzer dan Jupp Heynckes, serta meraih tiga gelar liga, DFB Cup 1975, dan Piala UEFA. Setelah sempat melatih Barcelona, ia kembali ke Köln pada 1976 dan mempersembahkan satu-satunya double domestik bagi klub itu pada 1978.
Salah satu momen paling dramatis dalam sejarah derby terjadi pada final DFB Cup 1973. Netzer, yang akan pindah ke Real Madrid, tidak dimainkan sejak awal oleh Weisweiler. Penonton menuntut kehadirannya, dan pada babak tambahan, Netzer mengambil inisiatif sendiri: ia melepas pakaian latihan, menghampiri Weisweiler, dan berkata, "Saya akan bermain sekarang." Hanya tiga menit dan dua sentuhan kemudian, ia mencetak gol kemenangan dari luar kotak penalti—sebuah gol yang diakuinya tidak mengenai bola dengan sempurna, namun tetap dikenang sebagai salah satu momen teraneh dalam sejarah sepak bola Jerman.
Derby ini juga menorehkan sejarah kelam pada Maret 2020. Laga ke-90 Bundesliga antara kedua tim awalnya dijadwalkan 9 Februari di Borussia-Park, tetapi ditunda karena badai. Ketika dimainkan ulang pada 11 Maret, pertandingan tersebut menjadi yang pertama digelar tanpa penonton (Geisterspiele) dalam sejarah Bundesliga. Gladbach menang 2-1, dan tak lama setelah itu, kompetisi dihentikan akibat pandemi COVID-19.
Di atas lapangan, rekor pertemuan condong ke Gladbach. Dari 53 kemenangan di Bundesliga, itu adalah jumlah kemenangan terbanyak mereka atas satu lawan. Köln hanya menang 28 kali, dan hanya lebih sering kalah dari Bayern Munich. Meski demikian, Köln punya kenangan manis, seperti kemenangan dramatis 2-1 pada Januari 2018 lewat gol Simon Terodde di menit kelima injury time, serta gol spektakuler Marcel Risse dari jarak 30 yard pada November 2016.
Kedua klub juga dikenal dengan maskot ikonik: kambing Hennes IX milik Köln—satu-satunya maskot hidup di Bundesliga selain elang Attila milik Eintracht Frankfurt—dan Jünter, kuda milik Gladbach yang diperkenalkan pada 1999. Nama Hennes diambil dari Weisweiler, sementara Jünter diilhami dari Netzer, menegaskan betapa sejarah kedua klub saling terkait.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, Rhine Derby menawarkan pelajaran tentang bagaimana rivalitas regional dapat bertahan puluhan tahun tanpa perlu trofi setiap musim. Di tengah gempuran sepak bola modern yang serba komersial, derby ini tetap menjadi pengingat bahwa identitas dan kebanggaan lokal masih menjadi bahan bakar utama. Laga Minggu nanti akan menjadi ujian apakah Gladbach mampu mempertahankan dominasi, atau Köln kembali mencuri momen seperti yang mereka lakukan beberapa tahun terakhir.



