Ratu Malaysia Resmikan Museum Tekstil Merdeka: Warisan Melayu yang Hidup Kembali
Baca dalam 60 detik
- Raja Zarith Sofiah meresmikan Museum Tekstil Merdeka di Kuala Lumpur, sebuah inisiatif PNB untuk melestarikan warisan tekstil Melayu.
- Koleksi utama museum berasal dari mendiang Azah Aziz, mencakup 240 busana dan 69 perhiasan tradisional yang sarat nilai sejarah.
- Museum ini dilengkapi pusat studi dan laboratorium konservasi, menegaskan komitmen Malaysia dalam edukasi budaya bagi generasi mendatang.

Ratu Malaysia, Raja Zarith Sofiah, secara resmi membuka Museum Tekstil Merdeka di kompleks Menara Merdeka Maybank, Kuala Lumpur, pada Kamis (21/8). Langkah ini menandai babak baru dalam upaya melestarikan kekayaan tekstil Nusantara yang selama ini tersimpan rapi di koleksi pribadi keluarga kerajaan dan tokoh terkemuka.
Museum yang diinisiasi oleh PNB Merdeka Ventures, anak usaha Permodalan Nasional Berhad (PNB), hadir bukan sekadar ruang pamer. Lebih dari itu, tempat ini dirancang sebagai pusat interaktif yang memadukan narasi kontemporer dengan pengalaman budaya, menjadikannya jembatan antara masa lalu dan generasi muda. Kehadiran museum ini menjadi relevan di tengah arus modernisasi yang kerap menggeser apresiasi terhadap warisan tradisional.
Dalam sambutannya yang disiarkan melalui laman Facebook Sultan Ibrahim Sultan Iskandar, Raja Zarith Sofiah menekankan bahwa setiap bangsa memiliki warisan yang wajib dihargai, dirawat, dan diwariskan. Ia berharap museum ini menjadi pusat pembelajaran yang menginspirasi perempuan Malaysia serta menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya bangsanya. "Saya juga berharap generasi muda akan menghargai warisan dan budaya negara kita agar tidak hilang begitu saja," ujarnya.
Koleksi utama museum berasal dari mendiang Sharifah Azah Syed Mohammed Alsagoff, atau lebih dikenal sebagai Azah Aziz, seorang tokoh yang juga ibu dari mantan Gubernur Bank Negara Malaysia, Tan Sri Dr. Ungku Zeti Akhtar Aziz. Sumbangan keluarga Aziz ini mencakup 240 potong busana dan 69 perhiasan tradisional, termasuk songket sarong, Limar Baju Kurung, dan Tekat Emas. Koleksi ini bukan sekadar benda mati, melainkan representasi identitas dan sejarah yang terekam dalam setiap jahitan dan detail ornamennya.
Museum ini juga mengangkat hasil riset penting Azah Aziz yang tertuang dalam buku "Rupa Dan Gaya: Busana Melayu". Buku tersebut memandang tekstil Melayu sebagai cerminan identitas, sejarah, dan dinamika sosial masyarakat. Dengan delapan galeri yang tersebar, pengunjung diajak menyusuri perjalanan panjang wastra Nusantara, dari proses pembuatan hingga filosofi yang melekat di balik setiap motif.
Bagi Indonesia, kehadiran museum ini menjadi pengingat akan kekayaan serupa yang kita miliki. Batik, tenun, dan songket dari berbagai daerah di tanah air memiliki nilai historis yang tak kalah penting. Upaya Malaysia ini bisa menjadi pemicu bagi kita untuk lebih serius dalam mendokumentasikan dan mempublikasikan warisan tekstil, baik melalui museum fisik maupun platform digital, agar tidak tergerus zaman.
Acara peresmian turut dihadiri Menteri di Departemen Perdana Menteri (Wilayah Federal) Hannah Yeoh, Sekretaris Utama Pemerintah Tan Sri Shamsul Azri Abu Bakar, dan Ketua Grup PNB Raja Tan Sri Arshad Raja Tun Uda. Kehadiran para pejabat tinggi ini menegaskan dukungan penuh pemerintah terhadap inisiatif pelestarian budaya.
Ke depan, tantangan terbesar museum ini adalah menjaga relevansinya di tengah gempuran hiburan digital. Akankah museum ini mampu menjadi destinasi favorit generasi muda, atau hanya menjadi monumen bisu? Jawabannya bergantung pada bagaimana pengelola mengemas pengalaman yang tidak hanya mendidik, tetapi juga memikat hati pengunjung.



