Ayah di Jepang Tinggalkan Anak 7 Tahun di Gunung Fuji demi Lanjut Pendakian
Baca dalam 60 detik
- Seorang ayah di Jepang menelantarkan putranya yang berusia tujuh tahun di stasiun keenam Gunung Fuji selama delapan jam demi mengejar pendakian bersama anak sulungnya.
- Polisi setempat memberikan peringatan keras kepada sang ayah setelah anak tersebut ditemukan sendirian tanpa uang, hanya bermodalkan camilan dan minuman ringan.
- Insiden ini memicu perdebatan tentang keselamatan anak di area pendakian ekstrem dan pengawasan orang tua, terutama di tengah meningkatnya minat masyarakat Indonesia terhadap wisata gunung.

Seorang pendaki pria di Jepang nekat meninggalkan putranya yang masih berusia tujuh tahun sendirian di jalur pendakian Gunung Fuji selama berjam-jam demi melanjutkan perjalanan ke puncak. Anak tersebut akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat oleh petugas, namun sang ayah harus berurusan dengan aparat karena tindakannya dinilai membahayakan keselamatan bocah di ketinggian lebih dari 2.000 meter.
Peristiwa ini terjadi pada Kamis (20/8) di kawasan prefektur Shizuoka. Menurut laporan kepolisian setempat yang dikutip AFP, bocah laki-laki itu ditemukan sendirian di stasiun keenam jalur pendakian Gunung Fuji, sebuah titik yang berada di ketinggian sekitar 6.500 kaki atau lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut. Anak itu kemudian diamankan petugas untuk menjamin keselamatannya sebelum akhirnya dipertemukan kembali dengan ayahnya.
Kronologi kejadian bermula ketika sang anak mengeluh kelelahan dan tidak sanggup melanjutkan pendakian. Sang ayah, yang saat itu bersama kakak laki-laki bocah tersebut, memutuskan untuk menyuruh anak bungsunya menunggu di tempat sementara ia dan kakaknya terus mendaki. Anak itu diminta menunggu selama delapan jam, hanya dibekali camilan dan minuman ringan tanpa sepeser uang pun, seperti diungkapkan staf pondok gunung yang melaporkan keberadaan anak tersebut kepada polisi.
Petugas yang menerima laporan segera menghubungi sang ayah yang saat itu sudah berada di stasiun kedelapan. Ayah tersebut kemudian turun dan menjemput anaknya, lalu menerima teguran keras dari aparat. Pria itu dikabarkan meminta maaf dan mengakui perbuatannya ceroboh. Insiden ini menjadi pengingat akan risiko besar yang mengintai anak-anak di medan pendakian ekstrem, terlebih Gunung Fuji yang memiliki kondisi cuaca tidak menentu dan jalur yang menantang.
Kasus ini menyoroti pentingnya pengawasan ketat terhadap anak di area pendakian, terutama bagi orang tua yang membawa buah hati ke gunung. Di Indonesia, fenomena pendakian gunung bersama anak juga kian populer, namun seringkali tanpa persiapan matang. Gunung seperti Semeru, Rinjani, atau bahkan Gunung Merbabu memiliki tingkat kesulitan yang tidak bisa dianggap remeh, dan cuaca ekstrem bisa berubah sewaktu-waktu. Para ahli keselamatan pendakian menekankan bahwa anak-anak di bawah usia tertentu sebaiknya tidak dibawa ke jalur yang membutuhkan stamina tinggi, atau setidaknya didampingi penuh oleh orang dewasa yang bertanggung jawab.
Kejadian di Jepang ini juga memicu diskusi tentang batas toleransi orang tua terhadap keinginan anak untuk berpetualang. Meski tujuannya mungkin untuk menumbuhkan keberanian, meninggalkan anak sendirian di gunung jelas bukan langkah yang dapat dibenarkan. Polisi setempat menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak hanya melanggar norma keselamatan, tetapi juga bisa berujung pada tuntutan hukum bila terjadi hal yang tidak diinginkan.
Ke depan, insiden ini diharapkan menjadi pelajaran bagi para pendaki, khususnya orang tua, untuk selalu memprioritaskan keselamatan anggota keluarga di atas ambisi pribadi. Apakah regulasi pendakian di Indonesia perlu diperketat untuk melindungi anak-anak dari risiko serupa? Pertanyaan ini layak menjadi bahan renungan bagi para pengelola kawasan gunung dan komunitas pendaki tanah air.



