Dari Sawah ke Kandang Ikan: Dana Lancang-Mekong Mengubah Wajah Desa Delta Myanmar
Baca dalam 60 detik
- Proyek percontohan senilai dana LMC 2024-2026 berhasil mendorong 180 rumah tangga di Ayeyarwady beralih dari pertanian padi tunggal ke budidaya ikan, kerajinan, dan produk rumah tangga.
- Selain infrastruktur, perubahan pola pikir warga menjadi kunci keberhasilan: kolaborasi dan keterampilan baru kini dianggap sebagai jalan keluar dari kemiskinan.
- Keberhasilan Ohnpinsu berpotensi menjadi model bagi desa-desa lain di kawasan delta, sekaligus uji nyata efektivitas kerja sama pembangunan lintas negara di ASEAN.

Desa Ohnpinsu di wilayah Ayeyarwady, Myanmar, yang selama ini identik dengan sawah dan musim panen, kini berubah wajah. Warga desa tidak lagi menggantungkan hidup pada satu musim tanam; mereka mulai beternak ikan, membudidayakan krisan di rumah jaring, memproduksi lilin, sampo, dan deterjen, serta bercocok tanam sayuran. Transformasi ini bukan kebetulan, melainkan buah dari proyek percontohan yang didanai Dana Khusus Kerja Sama Lancang-Mekong (LMC) 2024, yang dirancang untuk menekan angka kemiskinan dan memperbaiki taraf hidup di kawasan delta.
Bagi U Saw Aung Kyi Tun, administrator desa, perubahan yang paling terasa bukan hanya jalan aspal, listrik, atau air bersih, melainkan cara pandang warganya. "Dulu kami harus berjalan di lumpur," kenangnya. Kini, jalan beton memudahkan mobilitas, terutama saat musim hujan. "Proyek ini tidak hanya menguntungkan desa kami, tetapi juga desa tetangga. Bahkan orang dari tempat lain datang untuk mengambil air," ujarnya. Namun, yang paling membanggakan baginya adalah perubahan pola pikir: "Warga kini paham bahwa jika bekerja sama, kita bisa sukses."
Dampak ekonomi proyek ini cukup konkret. U Kyaw Kyaw Naing, seorang guru sekaligus petani berusia 41 tahun, mengaku sebelumnya tidak punya penghasilan tambahan. Kini, berkat pelatihan budidaya ikan, ia bisa menambah pendapatan keluarga. Hal serupa dialami U Aye Tun (60) yang akhirnya berhasil menanam krisan di dalam rumah jaring setelah sebelumnya gagal. "Dulu saya mencoba, tidak berhasil. Sekarang di rumah jaring, krisan tumbuh subur," katanya. Sementara itu, kelompok pemuda seperti U Aung Soe (39) kini memproduksi lilin dan menjualnya, sebuah keterampilan yang dipelajari dengan cepat.
Perempuan juga menjadi penggerak utama perubahan. Daw Soe Soe Aye (44), ibu dua anak, bergabung dengan kelompok produksi sampo dan deterjen yang memasarkan produknya hingga desa tetangga. Mereka juga menanam jamur dan pepaya. "Dulu kami hanya menanam padi. Uang baru ada saat panen. Sekarang, saya punya penghasilan bulanan tetap," tuturnya. Ia sempat ragu ada pihak asing yang mau membantu, tetapi kini ia mengaku sangat bersyukur. "Tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa berterima kasihnya saya," ujarnya.
Manfaat proyek ini melampaui sekadar pendapatan. Jalan yang lebih baik memudahkan anak-anak bersekolah dan warga berobat. Listrik membantu pelajar belajar di malam hari, sementara sistem air bersih mengurangi beban biaya membeli air minum. Proyek ini juga menyediakan pelatihan menjahit, pengolahan makanan, produksi sabun, dan teknologi pertanian yang membekali warga dengan keterampilan baru.
Bagi Indonesia, kisah Ohnpinsu menjadi cermin pentingnya diversifikasi ekonomi di daerah pedesaan. Ketergantungan pada satu komoditas, seperti padi, sering kali membuat petani rentan terhadap gagal panen dan fluktuasi harga. Model yang diusung LMCโmemadukan infrastruktur dasar, pelatihan vokasi, dan pengembangan usaha mikroโbisa menjadi referensi bagi program-program pemberdayaan di daerah tertinggal, khususnya di kawasan timur Indonesia yang memiliki tantangan geografis serupa.
Keberhasilan proyek ini juga menegaskan bahwa kerja sama pembangunan antarnegara di kawasan Asia Tenggara mampu memberikan dampak nyata di tingkat akar rumput. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah model ini dapat direplikasi secara luas dan berkelanjutan tanpa ketergantungan pada dana asing. Apakah desa-desa lain di Myanmar, atau bahkan di Indonesia, bisa meniru jejak Ohnpinsu dengan sumber daya yang lebih mandiri? Jawabannya akan menentukan apakah perubahan ini hanya menjadi proyek percontohan atau benar-benar menjadi gerakan transformasi pedesaan di kawasan.



