Petambak Delta Mahakam Buktikan Mangrove Bukan Penghalang, Justru Kunci Panen Berlipat
Baca dalam 60 detik
- Praktik silvofishery di Delta Mahakam, Kaltim, mendorong petambak seperti Asharuddin beralih dari menebas mangrove menjadi menanamnya, dengan hasil panen yang meningkat signifikan.
- Program M4CR yang digagas pemerintah menawarkan pendekatan rehabilitasi ekologis tanpa mengorbankan produktivitas tambak, hanya menanam sekitar 800 bibit per hektar dibanding 10.000 bibit pada rehabilitasi penuh.
- Keberhasilan model ini menjadi uji nyata apakah konservasi mangrove dapat berjalan seiring kepentingan ekonomi, sekaligus menjawab keraguan petambak lain di kawasan delta.

Setelah puluhan tahun menganggap akar mangrove sebagai penghalang perluasan tambak, Asharuddin, petambak di Delta Mahakam, Kalimantan Timur, kini justru menjadi salah satu pendorong utama pemulihan hutan bakau di kawasan tersebut. Perubahan drastis ini bermula dari pengamatannya terhadap tambak milik kerabatnya yang mempertahankan mangrove dan justru menuai hasil panen jauh lebih baik.
Tambak seluas sekitar 40 hektar milik Rustam di Sepatin itu menjadi titik balik. Asharuddin, yang kala itu berprofesi sebagai pengepul kepiting, mengaku heran melihat tambak yang dipenuhi pohon mangrove tetap produktif. Dari situlah ia memahami bahwa akar mangrove berperan menyerap racun dalam lumpur dan menjadi habitat alami plankton yang menjadi pakan udang, kepiting, dan ikan. โTernyata mangrove juga menghisap racun-racun yang terpendam di lumpur. Itu salah satu kuncinya,โ ujarnya.
Metode yang digunakan Rustam dikenal sebagai silvofishery, atau tambak tumpang sari, yang memadukan budidaya ikan atau udang dengan penanaman mangrove secara periodik. Hasilnya, panen bisa dilakukan setiap dua bulan sekali dengan volume lebih dari satu ton, bahkan mendekati dua ton, yang bernilai ratusan juta rupiah. Terinspirasi keberhasilan itu, Asharuddin mulai menanam mangrove di tambaknya dua tahun lalu, dan kini aktif mengajak petambak lain melalui Kelompok Tani Hutan (KTH) Gemilang Sejahtera Abadi.
Upaya Asharuddin tidak berjalan sendiri. Sejak 2021, pemerintah melalui Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Koordinator Pangan, dan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) menggelar program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR). Program ini menawarkan pelatihan silvofishery, sekolah lapang, akses perhutanan sosial hingga 30 tahun, serta dana insentif. Namun, Asharuddin mengakui manfaat ekonomi langsung memang belum besar. โKalau sekarang paling istilahnya uang rokok saja,โ katanya sambil tertawa.
Pendekatan M4CR memang dirancang berbeda dari rehabilitasi konvensional. Alih-alih meminta petambak mengembalikan seluruh lahan menjadi hutan mangrove, program ini hanya menanam mangrove di saluran air atau bagian tertentu tambak. Asman Azis, Manajer PPIU M4CR Kalimantan Timur, menjelaskan bahwa model ini menjaga lebih dari 90% lahan tetap produktif untuk ekonomi masyarakat. โDalam rehabilitasi penuh satu hektar bisa membutuhkan sekitar 10.000 bibit. Di tambak kami hanya menanam sekitar 800 bibit per hektar,โ ungkapnya.
Meski demikian, tantangan terbesar bukan hanya menanam, melainkan memastikan mangrove tetap terpelihara setelah program berakhir. Achmad Nuriyawan, Direktur Yayasan Mangrove Lestari (YML), menggarisbawahi bahwa banyak proyek rehabilitasi gagal karena tidak terhubung dengan kebutuhan ekonomi masyarakat. YML, yang berdiri sejak 2012, menghabiskan enam bulan untuk asesmen sebelum menanam. โKalau bicara kegiatan hulu tanpa disambungkan kegiatan hilir, keberlanjutannya menjadi pertanyaan besar,โ kata Angga, sapaan akrabnya.
Data menunjukkan bahwa konversi mangrove menjadi tambak di Delta Mahakam adalah yang terbesar di Kalimantan Timur. Analisis spasial YKAN mengungkap bahwa 80% perubahan lahan mangrove pada 1990-2000 di delta ini berubah menjadi tambak. Kondisi ini sejalan dengan temuan NASA Earth Observatory yang mencatat deforestasi masif hingga 2020. Namun, penelitian juga menunjukkan bahwa mangrove menyimpan karbon empat hingga lima kali lebih besar daripada hutan daratan, serta berperan penting dalam menjaga kualitas air dan kedaulatan pangan.
Bagi Asharuddin, rehabilitasi mangrove bukan berarti mengurangi ruang produksi. Sebaliknya, ia yakin vegetasi pesisir itu menjaga kualitas air, menyediakan pakan alami, dan meningkatkan produktivitas tambak dalam jangka panjang. โYang penting kita buktikan dulu. Kalau berhasil, saya yakin petambak lain akan mengikuti,โ tegasnya. Keberhasilan model silvofishery di Delta Mahakam kini menjadi sorotan: apakah praktik ini mampu menjadi contoh nasional bagi kawasan pesisir lain yang menghadapi dilema serupa antara ekologi dan ekonomi?



