Asap Karhutla Lintasi Batas Negara: ISPU Palembang 1.702, Anak di Malaysia Dirawat Rp43 Juta
Baca dalam 60 detik
- Warga Pontianak, Ogan Komering Ilir, dan Palembang mengungkap krisis air bersih, ISPA, serta PJJ akibat asap karhutla yang memburuk.
- Dampak menyeberang ke Malaysia dan Singapura: anak warga Malaysia dirawat dengan biaya hampir RM10 ribu, sementara warga Singapura alami rinitis alergi.
- BNPB mencatat 6.999 titik panas dan 196 titik api di enam provinsi, memicu pertanyaan tentang efektivitas penanganan lintas negara.

Krisis kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia tidak lagi sekadar bencana domestik. Warga dari Pontianak, Ogan Komering Ilir, Palembang, hingga Malaysia dan Singapura berbagi pengalaman pahit mereka dalam konferensi pers daring yang digelar Greenpeace Indonesia, Senin (5/10).
Di Kalimantan Barat, Bimpi Permata Restu, relawan Tim Cegah Api, menyebut situasi sempat membaik sebelum asap kembali menyelimuti Pontianak dua hari terakhir. Sekolah-sekolah diliburkan, kualitas air menurun drastis hingga terasa asin, dan kebutuhan rumah tangga—terutama mencuci pakaian bayi—menjadi beban berat. "Kami harus berjuang mendapatkan air bersih," ujarnya.
Di Desa Lebung Itam, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Pralensa alias Jay mengungkapkan bahwa lahan gambut di wilayahnya telah terbakar berbulan-bulan. Istrinya yang memiliki riwayat asma rutin tidak bisa keluar rumah. Upaya pemadaman terkendala keterbatasan air; sumur galian manual sedalam tiga hingga empat meter pun kering. "Kami hanya bisa menghirup udara bercampur asap setiap hari," katanya.
Warga Palembang, Kartika Lestari, mencatat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 1.702 pada pagi hari—angka tertinggi sepanjang 2026. Langit menguning, masker N95 tak sepenuhnya menahan partikel, dan anak-anak di Rumah Sakit Pusri membutuhkan nebulizer. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) kembali diterapkan untuk siswa SD hingga SMA. "Pemerintah kota dan provinsi belum memberikan rasa aman," tegasnya.
Dampak lintas negara kian nyata. Muhammad Syahir, warga Malaysia, menceritakan anak perempuannya dirawat lima hari karena sesak napas dan didiagnosis mycoplasma serta bronkitis. Sementara Yi Feng, warga Singapura, mengalami rinitis alergi yang memburuk sehingga memerlukan dukungan medis untuk beraktivitas. "Kualitas udara di Singapura fluktuatif, dan banyak teman saya mengalami flare-up penyakit pernapasan," ungkapnya.
"Kami coba menggali sumur manual, tetapi air tidak muncul. Ini bencana yang tak bisa diatasi sendiri," ujar Jay, warga Ogan Komering Ilir.
Krisis ini menggarisbawahi lemahnya tata kelola lahan gambut dan penegakan hukum lingkungan. Meski Indonesia memiliki sistem pemantauan karhutla, respons darurat masih jauh dari memadai. Kolaborasi lintas negara—terutama dengan Malaysia dan Singapura—menjadi keniscayaan, mengingat asap tidak mengenal batas administratif.
Pertanyaannya, apakah pemerintah akan memperkuat moratorium pembukaan lahan dan meningkatkan kesiapsiagaan bencana, ataukah bencana tahunan ini akan terus berulang tanpa solusi struktural?



