Toko Buku Independen Hong Kong Tutup Beruntun: Pembaca Daratan Kehilangan Ruang Kebebasan
Baca dalam 60 detik
- Otoritas keamanan Hong Kong menggerebek sejumlah toko buku independen dan menahan pemiliknya dengan tuduhan hasutan, memicu gelombang penutupan.
- Pembaca muda dari Tiongkok daratan yang selama ini mengandalkan toko-toko ini untuk akses bacaan sensitif kini merasa kehilangan ruang alternatif.
- Penutupan ini menandai menyempitnya ruang kebebasan berekspresi di Hong Kong, dengan dampak yang mungkin dirasakan hingga ke industri penerbitan dan pembaca di kawasan.

Gelombang penutupan toko buku independen di Hong Kong semakin mempersempit ruang bagi pembaca dari Tiongkok daratan yang selama ini menjadikan kota itu sebagai pelarian untuk mendapatkan bacaan yang dilarang di negara mereka. Dalam sebulan terakhir, setidaknya tiga toko buku independen mengumumkan tutup, menyusul serangkaian penggerebekan dan penangkapan oleh otoritas keamanan nasional. Fenomena ini tidak hanya mengguncang industri perbukuan Hong Kong, tetapi juga menghadirkan pertanyaan besar tentang masa depan kebebasan intelektual di kawasan yang pernah dijuluki 'kota paling bebas di Asia'.
Hunter Bookstore, yang didirikan empat tahun lalu oleh mantan anggota dewan, menjadi salah satu korban terbaru. Pada 24 Juni lalu, polisi menggerebek toko yang terletak di distrik Sham Shui Po ini dan menangkap pemiliknya, Letitia Wong (33), serta seorang pria berusia 32 tahun, dengan tuduhan hasutan dan pencucian uang. Keduanya membantah tuduhan tersebut dan kini dibebaskan dengan jaminan. Sebelumnya, pada Maret, pemilik Book Punch dan tiga karyawannya juga ditangkap dengan tuduhan serupa, dan polisi dikabarkan menyita salinan biografi Jimmy Lai, aktivis demokrasi yang dipenjara. Pada 15 Juli, saat Pameran Buku Hong Kong tahunan dibuka, petugas keamanan nasional kembali menggerebek Greenfield Bookstore dan Have a Nice Stay, menangkap lima orang dengan tuduhan hasutan.
Penutupan toko-toko ini bukan sekadar soal bisnis. Bagi banyak pembaca muda dari daratan, toko-toko ini adalah jendela menuju dunia yang lebih terbuka. Chen Zhu, seorang mahasiswi berusia 23 tahun dari Guangzhou, misalnya, rutin mengunjungi Hunter Bookstore setiap bulan untuk mencari buku-buku yang tidak tersedia di daratan, seperti karya George Orwell atau manga Attack on Titan yang dianggap sensitif. Ketika mendengar penggerebekan itu, ia menangis. "Saya hancur," katanya. Ia bukan sendiri. Li, 19 tahun, dari Shanghai, mengaku toko-toko ini memberinya ruang untuk "melihat banyak kemungkinan dan menantang ide-ide yang ada".
Fenomena ini menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia, yang juga memiliki sejarah panjang dalam membatasi akses terhadap buku-buku tertentu. Meskipun konteks politiknya berbeda, gelombang penutupan ini mengingatkan bahwa kebebasan intelektual adalah sesuatu yang rapuh dan perlu dijaga. Di Indonesia, meskipun ada tantangan dalam hal sensor dan pembatasan, ruang untuk diskusi dan akses terhadap berbagai perspektif masih relatif terbuka. Namun, perkembangan di Hong Kong bisa menjadi pelajaran tentang bagaimana kekuatan negara dapat secara bertahap mempersempit ruang publik untuk berpikir kritis.
Para pengamat menilai langkah ini merupakan bagian dari upaya Beijing untuk memperketat kontrol atas Hong Kong sejak diberlakukannya Undang-Undang Keamanan Nasional (NSL) pada 2020. Meskipun Beijing membela NSL sebagai langkah penting untuk stabilitas, banyak warga Hong Kong dan kelompok hak asasi manusia menilai undang-undang ini telah membungkam kebebasan berpendapat. Tong Kin-long dari University College London berpendapat, "Otoritas tidak ingin orang tahu persis di mana batasannya. Mereka ingin orang mencari tahu sendiri garis merahnya, atau menyensor diri sendiri sebelum melewatinya."
Bagi pembaca dari daratan, kehilangan toko-toko ini bukan hanya soal kehilangan akses ke buku, tetapi juga kehilangan komunitas. Li, misalnya, terkesan dengan dinding catatan tempel di Hunter Bookstore yang berisi pesan dukungan untuk korban kebakaran apartemen di Tai Po yang menewaskan 168 orang. Ia mengatakan rasa kebersamaan seperti itu sulit ditemukan di daratan, di mana otoritas waspada terhadap ledakan sentimen publik. "Orang hanya bisa mengekspresikan diri secara tidak langsung," katanya. Hal serupa diungkapkan oleh Zhu, yang merasa toko-toko ini memberinya "sedikit kebebasan berekspresi" yang tidak ia dapatkan di rumah.
Namun, kini kebebasan itu semakin terbatas. Zhu mengaku lebih sering bertemu dengan aparat di Hong Kong daripada di daratan. Pada sebuah acara di toko buku, ia ingat petugas pemerintah masuk dan duduk mendengarkan. Seorang penjual buku yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa toko-toko yang selama ini bersikap low-profile pun tidak luput dari sasaran. "Luck Win Bookstore dan Elmbook selalu menjaga profil rendah. Mereka jarang membuat pernyataan publik atau mengadakan acara. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang mereka lakukan hingga menyinggung pemerintah," ujarnya.
Penutupan toko-toko ini juga berdampak pada pembaca yang nekat membawa buku dari Hong Kong ke daratan, meskipun ada risiko disita di bea cukai. Seorang pria yang diidentifikasi sebagai K, dari Sichuan, mengaku setiap kali kembali dari Hong Kong ia merasa cemas. Ia memilih penyeberangan perbatasan yang lebih ramai, menghindari buku dengan tokoh-tokoh yang sensitif, dan menyembunyikan buku di balik pakaiannya. "Dulu orang berpikir, 'Kalau tidak bisa membeli buku di daratan, saya akan pergi ke Hong Kong'. Sekarang perasaannya berbeda. Kamu bahkan tidak tahu toko buku mana yang masih ada saat kamu datang lagi," katanya.
Masa depan toko buku independen di Hong Kong tampak suram. Elmbook akan menutup toko fisiknya pada April tahun depan, sementara Have a Nice Stay akan tutup pada akhir Agustus dengan alasan kesulitan ekonomi dan 'garis merah' yang tidak dapat diprediksi. Banyak pihak di industri perbukuan pesimis. Namun, seorang orang dalam industri menegaskan bahwa pembaca tidak sepenuhnya tidak berdaya. "Kita masih bisa membeli buku. Kita masih bisa membaca. Dan kita masih bisa membaca banyak buku," katanya. Chris, seorang pembaca muda, mengaku takut setelah mendengar penangkapan di Hunter Bookstore, tetapi ia akan terus datang. "Membeli buku telah menjadi cara yang tenang untuk menunjukkan dukungan, dan bentuk perlawanan yang sunyi," ujarnya.
Pertanyaannya kini, apakah gelombang penutupan ini akan berhenti, atau justru semakin meluas? Dan bagaimana respons komunitas pembaca, baik di Hong Kong maupun di kawasan Asia Tenggara, terhadap menyempitnya ruang kebebasan intelektual ini? Yang jelas, bagi banyak orang, toko buku bukan sekadar tempat menjual buku, melainkan ruang untuk berpikir, merenung, dan terhubung dengan gagasan-gagasan yang mungkin tidak selalu sejalan dengan arus utama.



