Isla Fisher Buka Suara: Hidup Setelah Perceraian Justru Lebih Berwarna
Baca dalam 60 detik
- Aktris 50 tahun itu mengaku menikmati kebebasan sebagai perempuan lajang, dengan fokus pada pertemanan dan pekerjaan.
- Di tengah promosi film komedi terbarunya, ia menyoroti pentingnya dukungan sosial bagi perempuan di usia matang.
- Fisher dan mantan suami, Sacha Baron Cohen, tetap berkomitmen membangun pola pengasuhan bersama yang sehat untuk tiga anak mereka.

Isla Fisher, aktris yang namanya melambung lewat sederet film komedi, mengaku tengah menikmati fase hidup barunya sebagai perempuan lajang. Di usia 50 tahun, ia justru merasa lebih leluasa mengatur waktu dan prioritas, terutama untuk menjalin pertemanan dan berkarya. Pernyataan ini disampaikan di tengah promosi film terbarunya, Spa Weekend, yang juga dibintangi Leslie Mann, Anna Faris, dan Michelle Buteau.
Dalam sebuah wawancara dengan People, Fisher menanggapi keluhan rekannya, Anna Faris, tentang sulitnya mempertahankan persahabatan perempuan di usia produktif. Faris mengatakan bahwa banyak wanita tidak punya waktu untuk merawat hubungan pertemanan karena tuntutan keluarga dan karier. Namun, Fisher dengan tegas membantah: "Bicara untuk dirimu sendiri. Aku kan cerai, jadi waktuku habis untuk bertemu teman!" Ucapan itu sontak menjadi sorotan, mengingat Fisher baru saja resmi bercerai dari komedian Sacha Baron Cohen pada 2025 setelah 15 tahun menikah.
Fisher, yang memiliki tiga anakโOlive (18), Elula (15), dan Montgomery (11)โdari pernikahannya dengan Cohen, mengaku bahwa perceraian adalah fase tersulit dalam hidupnya. Namun, ia menegaskan bahwa proses tersebut justru membawanya pada pemahaman diri yang lebih dalam. "Aku belajar banyak tentang diriku sendiri. Aku tidak pernah membayangkan keluargaku akan terpisah, tapi kami berdua tetap orang tua yang berkomitmen dan penuh kasih," ujarnya kepada The Sunday Times.
Di tengah hiruk-pikuk industri hiburan yang kerap menuntut penampilan sempurna, Fisher justru merasa bersyukur bisa terus bekerja di usianya sekarang. "Aku merasa sangat beruntung bisa bekerja. Aku bersyukur menjadi perempuan seusiaku di industri ini, dan aku sangat senang bisa terlibat dalam film seperti ini," katanya. Sikapnya ini menjadi angin segar di tengah isu ageisme yang masih marak di Hollywood, di mana aktris di atas 40 tahun kerap kesulitan mendapatkan peran yang substansial.
Kisah Fisher menyentuh realitas yang juga dialami banyak perempuan Indonesia. Di tengah tekanan sosial yang masih menganggap perceraian sebagai aib, banyak perempuan justru menemukan kekuatan baru setelah melewati masa sulit tersebut. Psikolog keluarga dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Juwita, menilai bahwa perceraian bisa menjadi momentum untuk membangun kembali identitas diri. "Banyak perempuan yang setelah bercerai justru lebih produktif dan bahagia karena mereka akhirnya punya ruang untuk fokus pada diri sendiri," ujarnya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa dukungan sosial, seperti yang ditunjukkan Fisher melalui pertemanannya, sangat penting untuk membantu proses pemulihan.
Fisher dan Cohen sepakat untuk mengutamakan kepentingan anak-anak mereka. "Anak-anak adalah hal yang paling penting, dan kita ingin mereka merasa aman dan dicintai. Kami sedang membangun versi baru dari keluarga kami yang sehat dan penuh perhatian," tutur Fisher. Komitmen ini menunjukkan bahwa perceraian tidak selalu berakhir dengan permusuhan, melainkan bisa menjadi awal dari pola pengasuhan bersama yang lebih matang.
Ke depan, publik tentu menantikan bagaimana karier Fisher akan berkembang setelah perceraiannya. Apakah ia akan semakin produktif dengan peran-peran baru yang menantang, atau justru memilih untuk lebih fokus pada kehidupan pribadinya? Yang jelas, Fisher telah membuktikan bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada status pernikahan, melainkan pada kemampuan untuk beradaptasi dan menemukan makna baru dalam hidup.



