Netanyahu vs Erdogan: Retorika Memanas, Suriah Jadi Medan Pertarungan Baru
Baca dalam 60 detik
- Kantor PM Israel mengecap Presiden Turki sebagai 'diktator antisemit' di tengah upaya Ankara menerbitkan surat penangkapan internasional atas dugaan genosida.
- Ketegangan kian meruncing setelah Israel menuding Turki berupaya mengaktifkan kembali pangkalan udara Suriah yang menjadi sasaran serangan udara Tel Aviv.
- Konflik ini berpotensi memicu pergesekan baru di kawasan, dengan Indonesia yang selama ini konsisten mendukung perjuangan Palestina diprediksi akan memperkuat sikap diplomatiknya.

Hubungan Ankara dan Tel Aviv kembali memanas setelah kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara terbuka menyebut Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, sebagai "diktator antisemit". Pernyataan keras itu dikeluarkan Jumat (21/8) sebagai respons atas langkah Turki yang meminta surat perintah penangkapan internasional terhadap Netanyahu dengan tuduhan genosida terkait penyergapan armada bantuan untuk Gaza.
Dalam pernyataan resminya, Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak terkesan dengan "kemunafikan" Turki. Erdogan dituding melakukan pembantaian terhadap warga Kurdi, mendukung aksi Hamas, dan menindas rakyatnya sendiri. "Israel telah lama tidak terkesan dengan kemunafikan Turki. Erdogan adalah diktator antisemit yang membantai Kurdi, mendukung pembantaian organisasi teroris Hamas, dan menindas rakyatnya sendiri," demikian bunyi pernyataan kantor Netanyahu. Lebih lanjut, Israel berjanji akan terus bertindak tegas terhadap upaya Turki yang dinilai berusaha menggoyahkan stabilitas kawasan.
Ketegangan ini tidak berdiri sendiri. Sebelumnya, pada Selasa (18/8), Suriah menuduh Israel mengebom sebuah pangkalan udara militer yang tidak terpakai di dekat Aleppo, yang rusak akibat perang saudara dan tidak beroperasi sejak 2012. Israel kemudian mengaitkan serangan itu dengan kunjungan delegasi militer Turki ke lokasi tersebut. Menurut pengawas perang Suriah, kunjungan itu diduga bagian dari upaya untuk mengaktifkan kembali pangkalan tersebut. Namun, Turki membantah keras memiliki kehadiran militer di pangkalan itu dan menegaskan komitmennya untuk "resolutely" mendukung kedaulatan Suriah.
Netanyahu, yang sebelumnya secara implisit mengakui serangan itu, menuduh Erdogan berusaha "memperluas agresinya terhadap Israel ke Suriah". "Israel tidak akan menoleransi ini," tegas pernyataan kantor PM Israel. Tuduhan balik ini menunjukkan eskalasi yang lebih dalam dari sekadar perang kata-kata; Suriah kini menjadi ajang pertarungan pengaruh antara dua kekuatan regional yang saling curiga.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki resonansi tersendiri. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan sejarah panjang dukungan terhadap perjuangan Palestina, langkah Turki yang berani meminta surat penangkapan Netanyahu bisa menjadi preseden yang menarik. Meskipun Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel, sikap tegas terhadap pelanggaran hak asasi manusia di Palestina selalu menjadi prioritas politik luar negeri. Eskalasi ini bisa mendorong Indonesia untuk lebih vokal dalam forum-forum internasional, seperti PBB, untuk mendukung upaya hukum terhadap Israel.
Para analis menilai bahwa retorika keras antara Netanyahu dan Erdogan bukan sekadar aksi saling serang, melainkan cerminan dari perebutan pengaruh yang lebih luas di Timur Tengah. Turki, dengan ambisinya menjadi kekuatan regional, kerap menggunakan isu Palestina untuk meningkatkan legitimasi di dunia Islam. Sementara itu, Israel melihat setiap gerakan Turki di Suriah sebagai ancaman keamanan langsung, mengingat kedekatan geografis dan sejarah konflik yang panjang.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana kedua negara akan membawa perseteruan ini. Apakah akan berhenti pada perang pernyataan, atau berpotensi memicu insiden militer langsung di Suriah? Bagi Indonesia, yang aktif dalam menjaga perdamaian dunia, perkembangan ini tentu menjadi perhatian serius. Sikap tegas dan konsisten dalam membela hak-hak Palestina, sekaligus mendorong dialog, akan menjadi ujian bagi diplomasi Indonesia di tengah ketegangan global yang semakin kompleks.



