Mosi Tidak Percaya untuk Infantino: Mekanisme dan Peluangnya di Kongres FIFA
Baca dalam 60 detik
- Upaya menjatuhkan Gianni Infantino dari kursi presiden FIFA memerlukan dukungan dua pertiga suara dalam kongres luar biasa, sebuah ambang batas yang sulit dicapai.
- Langkah ini dipicu oleh kekhawatiran atas tata kelola FIFA dan keputusan kontroversial, namun peluang suksesnya tipis karena Infantino masih menguasai mayoritas federasi anggota.
- Jika mosi gagal, Infantino dapat memperkuat posisinya menjelang pemilihan 2027, sementara oposisi harus mencari strategi baru untuk mendorong reformasi.

Langkah untuk menggulingkan Gianni Infantino dari kursi presiden FIFA melalui mosi tidak percaya tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan federasi sepak bola dunia. Namun, mekanisme yang diatur dalam statuta FIFA membuat upaya ini jauh dari kata mudah, membutuhkan dukungan politik yang masif dan waktu yang tepat.
Menurut aturan FIFA, mosi tidak percaya terhadap presiden hanya dapat diajukan dalam kongres luar biasa yang diusulkan oleh setidaknya seperlima dari 211 federasi anggota. Setelah usulan diterima, voting memerlukan persetujuan dua pertiga dari total suara yang hadir untuk benar-benar memberhentikan Infantino. Angka ini menjadi tembok tinggi mengingat Infantino masih memiliki basis dukungan kuat, terutama dari federasi-federasi di Afrika, Asia, dan Oseania yang kerap menerima manfaat finansial dari program pengembangan FIFA.
Wacana ini mencuat setelah serangkaian keputusan kontroversial, termasuk perluasan Piala Dunia menjadi 48 tim dan penunjukan Arab Saudi sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034. Kritik juga datang dari sektor Eropa, yang menilai Infantino terlalu fokus pada komersialisasi dan kurang transparan dalam pengambilan keputusan. Namun, para pengamat menilai bahwa tanpa dukungan dari konfederasi besar seperti UEFA dan CONMEBOL, mosi ini akan sulit bergerak dari sekadar wacana.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai salah satu anggota FIFA dengan populasi muslim terbesar di dunia, suara Indonesia dalam kongres FIFA kerap menjadi incaran. PSSI, yang kini dipimpin Erick Thohir, memiliki posisi strategis untuk memengaruhi arah politik FIFA. Namun, sikap Indonesia sejauh ini cenderung netral, lebih fokus pada pembangunan sepak bola domestik dan upaya lolos ke Piala Dunia 2026.
Para analis memperkirakan bahwa meskipun mosi tidak percaya ini mungkin tidak akan berhasil, ia dapat menjadi pemicu diskusi yang lebih luas tentang reformasi tata kelola FIFA. Beberapa federasi Eropa, seperti Inggris dan Jerman, telah lama menginginkan perubahan dalam hal transparansi dan pembagian pendapatan. Mereka mungkin menggunakan mosi ini sebagai alat negosiasi untuk mendapatkan konsesi dari Infantino.
Di sisi lain, Infantino sendiri tidak tinggal diam. Ia telah melakukan tur diplomatik ke berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk memperkuat dukungan. Kunjungannya ke Jakarta beberapa waktu lalu disambut hangat oleh pemerintah, yang melihat FIFA sebagai mitra penting dalam pengembangan infrastruktur sepak bola nasional. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan bilateral yang baik dengan FIFA dapat menjadi prioritas bagi negara berkembang seperti Indonesia.
Pertanyaan besarnya adalah: akankah mosi ini benar-benar diajukan? Jika ya, kapan? Dan apakah ada kandidat kuat yang siap menggantikan Infantino? Nama-nama seperti Victor Montagliani, presiden CONCACAF, dan beberapa tokoh Eropa sempat disebut-sebut. Namun, tanpa dukungan yang solid, upaya ini bisa berakhir seperti angin lalu, meninggalkan Infantino semakin kuat menjelang pemilihan presiden berikutnya pada 2027.



