Krisis Kepercayaan FIFA: Denmark Siap Cari Penantang Kredibel untuk Infantino
Baca dalam 60 detik
- DBU secara terbuka menyatakan kehilangan kepercayaan pada Gianni Infantino dan berkomitmen mencari kandidat alternatif untuk pemilihan presiden FIFA 2027.
- Langkah Denmark memperkuat tekanan terhadap Infantino, yang kini kehilangan dukungan dari UEFA, AFC, dan CONCACAF, meski masih didukung CAF dan sejumlah negara.
- Pemilihan presiden FIFA dijadwalkan pada Maret 2027 di Rabat, Maroko, dengan batas pendaftaran kandidat November 2026; hingga kini belum ada penantang resmi.

Asosiasi sepak bola Denmark (DBU) secara terbuka menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Gianni Infantino di FIFA dan bertekad mencari sosok pengganti yang kredibel pada pemilihan presiden mendatang. Sikap ini diumumkan Jumat lalu setelah rapat dewan, menandai eskalasi krisis kepercayaan yang melanda badan sepak bola dunia.
Pemicu utama adalah rencana kontroversial FIFA untuk menjual saham komersial turnamen, termasuk Piala Dunia, yang akhirnya dibatalkan. DBU menilai langkah tersebut menciptakan "krisis kepercayaan fundamental" terhadap kepemimpinan FIFA yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan menarik proposal atau permintaan maaf. "Kepercayaan pada Gianni Infantino telah hilang, dan baik penarikan proposal maupun permintaan maaf tidak mengubah penilaian itu," demikian pernyataan DBU.
Denmark bukan satu-satunya yang kecewa. Sejumlah federasi nasional dan pejabat kunci telah menarik dukungan mereka terhadap Infantino, yang kini tengah bersiap mencalonkan diri untuk periode keempat hingga 2031. Tekanan datang dari tiga konfederasi besar: UEFA (Eropa), AFC (Asia), dan CONCACAF (Amerika Utara dan Tengah). Bahkan, wacana mosi tidak percaya sempat mengemuka di kalangan kekuatan regional.
Di sisi lain, Infantino masih mendapat dukungan dari Konfederasi Afrika (CAF), sejumlah negara Asia, serta raksasa sepak bola seperti Argentina dan Meksiko. Ini menunjukkan peta kekuatan yang terbelah menjelang pemilihan yang dijadwalkan berlangsung pada Kongres FIFA ke-77 di Rabat, Maroko, Maret 2027.
DBU juga menggemakan ancaman boikot ala UEFA. Mereka menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam turnamen FIFA kecuali ada jaminan kuat bahwa tata kelola dan turnamen tidak akan pernah lagi dibuka untuk investor swasta. Sikap ini menegaskan tuntutan transparansi dan integritas yang semakin lantang di tengah gencarnya komersialisasi sepak bola global.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat posisi PSSI yang selama ini dekat dengan FIFA, terutama dalam hal pembinaan dan turnamen. Jika terjadi pergantian kepemimpinan, arah kebijakan FIFA bisa berubah, termasuk soal pendanaan program pengembangan sepak bola di negara berkembang. Namun, hingga kini PSSI belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait dukungannya.
Menariknya, hingga batas pendaftaran yang semakin dekat, belum ada kandidat resmi yang menantang Infantino. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada ketidakpuasan, belum ada figur yang mampu menyatukan berbagai kepentingan. DBU berjanji akan bekerja sama dengan UEFA dan kolega internasional untuk memastikan para anggota memiliki "pilihan nyata" dan "alternatif kredibel" yang bisa memulihkan kepercayaan.
Krisis ini juga menyoroti isu yang lebih luas: bagaimana menjaga integritas sepak bola di tengah derasnya arus uang dan kepentingan komersial. Pertanyaan yang menggantung adalah, akankah Infantino mampu bertahan menghadapi gelombang ketidakpercayaan ini, atau justru muncul kandidat baru yang mampu merangkul semua pihak? Jawabannya akan menentukan wajah sepak bola dunia dalam dekade mendatang.



