Joe Root Soroti Ketimpangan Venue Ashes: Headingley Terpinggirkan hingga 2031
Baca dalam 60 detik
- Kapten Inggris Joe Root menyayangkan keputusan yang menunda kembalinya Test di Headingley hingga 2031, meski timnya mencatat tujuh kemenangan beruntun di sana.
- Jadwal Ashes 2027 mengalihkan laga ke Trent Bridge dan Southampton, memicu perdebatan tentang keunggulan kandang dan komersialisasi kriket Inggris.
- Kepemimpinan baru Root bersama Stephen Fleming akan diuji dalam Ashes 2025-2026, dengan tekanan untuk mempertahankan performa tanpa dukungan venue favorit.

Kapten tim kriket Inggris, Joe Root, melontarkan kritik halus terhadap sistem penjadwalan pertandingan Ashes setelah timnya harus menunggu hingga 2031 untuk kembali bermain di Headingley, stadion yang menjadi saksi tujuh kemenangan beruntun mereka. Dalam pernyataannya usai kemenangan telak atas Pakistan di Leeds, Root menegaskan bahwa pemain seharusnya memiliki pilihan untuk tampil di venue yang paling menguntungkan, sebuah pernyataan yang langsung memicu diskusi tentang keadilan kompetitif di kriket internasional.
Kemenangan innings dalam tiga hari atas Pakistan pekan lalu bukan hanya memperpanjang rekor impresif Inggris di Headingley, tetapi juga menjadi awal yang ideal bagi Root dalam periode keduanya sebagai kapten. Namun, di balik euforia tersebut, terselip kekecewaan: Inggris tidak akan bermain di venue tersebut pada Ashes musim panas mendatang. Keputusan yang diumumkan pada 2023 ini menempatkan Headingley dan Old Trafford di luar daftar tuan rumah Ashes 2027, dengan Trent Bridge dan Southampton yang justru mendapat kepercayaan.
Bagi Root, yang merupakan putra Yorkshire, situasi ini terasa paradoks. "Saya ingin bermain sebanyak mungkin di sini. Ini adalah venue Test yang hebat, dengan permukaan yang menghasilkan kriket berkualitas," ujarnya. Namun, ia juga realistis: "Sangat disayangkan kami tidak bermain di sini tahun depan, tapi saya yakin akan ada banyak pertandingan hebat lainnya di sini." Pernyataan ini muncul setelah ia ditanya tentang keengganan Australia untuk melepaskan keunggulan kandang di Gabba atau Perth, yang secara historis menjadi benteng mereka.
Data menunjukkan bahwa Australia tidak pernah kalah di Gabba sejak 1986 dan tak terkalahkan di Perth sejak 1978. Sementara itu, Inggris memiliki rekor sembilan kemenangan Ashes kandang di Headingley, hanya kalah dari The Oval yang mencatat 17 kemenangan. Namun, The Oval telah menjadi tuan rumah 36 Test Ashes dibandingkan 26 di Headingley. Ketimpangan ini, menurut pengamat, mencerminkan pergeseran prioritas menuju stadion dengan kapasitas lebih besar dan daya tarik komersial yang lebih tinggi, sebuah tren yang juga terlihat di negara lain.
Konteks Indonesia: Meski kriket bukan olahraga arus utama di Indonesia, perkembangan ini relevan bagi penggemar yang mengikuti liga internasional. Keputusan penjadwalan yang mengutamakan aspek komersial sering kali mengorbankan tradisi dan keunggulan kompetitif, sebuah dilema yang juga dihadapi dalam pengelolaan olahraga di dalam negeri. Misalnya, pemilihan stadion untuk laga tim nasional seringkali memicu perdebatan serupa antara faktor ekonomi dan prestasi.
Di sisi lain, transisi kepemimpinan Inggris tengah berlangsung. Root kembali memegang kapten setelah Ben Stokes pensiun, dan ia akan bekerja sama dengan pelatih baru Stephen Fleming yang menggantikan Brendon McCullum. Fleming, yang dijadwalkan tiba pada September, telah berkomunikasi intensif dengan Root selama pertandingan melawan Pakistan. "Dia sangat terlibat dalam apa yang ingin kami capai," kata Root. Marcus Trescothick, yang menjadi pelatih interim, juga menyatakan keinginannya untuk tetap bekerja sama dengan tim.
Keputusan untuk memberikan Ashes 2027 kepada Trent Bridge dan Southampton, sementara Headingley dan Old Trafford menunggu hingga 2031, telah memicu perdebatan tentang masa depan kriket Inggris. Beberapa pihak menilai langkah ini sebagai upaya untuk memperluas jangkauan geografis, namun yang lain menganggapnya sebagai pengabaian terhadap basis penggemar setia di utara. Pertanyaan besarnya adalah: apakah keunggulan kandang yang selama ini menjadi andalan Inggris akan terkikis oleh kebijakan penjadwalan yang semakin berorientasi pasar?
Dengan Ashes 2025-2026 di Australia yang akan segera dimulai, Inggris harus membuktikan bahwa mereka bisa menang tanpa dukungan Headingley. Sementara itu, Root dan Fleming harus membangun sinergi yang solid dalam waktu singkat. Jika gagal, kritik terhadap sistem penjadwalan ini akan semakin menguat, dan mungkin saja tuntutan untuk mereformasi alokasi venue akan kembali mencuat.



