Kate Cross Pensiun: Garda Depan Kricket Wanita Inggris Tutup Karier di Usia 34
Baca dalam 60 detik
- Kate Cross, mantan pemain kriket Inggris, mengumumkan pensiun pada akhir musim panas setelah 102 penampilan internasional.
- Kontraknya dengan tim nasional tidak diperpanjang pada 2024, namun ia tetap bermain di level domestik dan mencapai final The Hundred.
- Pensiunnya menandai berakhirnya era bagi kriket wanita Inggris, sekaligus memicu pertanyaan tentang regenerasi dan masa depan olahraga ini.

Kate Cross, pelempar bola (seamer) asal Inggris yang telah membela tim nasional dalam 102 pertandingan sejak 2013, memastikan akan menggantung sepatu kriketnya pada akhir musim panas ini. Pengumuman yang disampaikan pada pekan ini menutup babak panjang karier seorang atlet yang pernah menjadi pilar penting dalam kebangkitan kriket wanita Inggris.
Cross, yang kini berusia 34 tahun, terakhir kali memperkuat Inggris dalam pertandingan ODI melawan India pada Juli tahun lalu. Setelah kehilangan kontraknya dengan tim nasional pada musim 2024, ia tetap aktif di kompetisi domestik, termasuk membela Sunrisers Leeds di final The Hundred akhir pekan lalu. Meski timnya kalah dari Trent Rockets, penampilannya di panggung final menjadi salah satu momen pamungkas yang layak dikenang.
Karier Cross diwarnai pasang surut. Ia memulai debut internasionalnya pada usia 22 tahun dalam laga T20 di Hindia Barat, dan menjadi bagian dari skuad Inggris yang merebut gelar Ashes 2013-2014โkemenangan terakhir Inggris dalam turnamen tersebut hingga kini. Namun, performanya sempat menurun, dan ia harus menyaksikan kemenangan Inggris di Piala Dunia 2017 dari kotak VIP, bukan di lapangan.
Ketangguhan mental Cross membawanya kembali ke tim utama, dan ia menjadi andalan di format Test dan 50-over hingga akhirnya didepak oleh pelatih baru Charlotte Edwards pada musim panas lalu. Sepanjang kariernya, ia mengumpulkan 25 wicket di Test, 101 di ODI, dan 14 di T20โcatatan yang menempatkannya sebagai salah satu bowler wanita terbaik Inggris.
Dame Sarah Storey, ketua Lancashire, klub tempat Cross memulai debutnya pada usia 14 tahun dan menjadi wanita pertama di akademi klub, menyebut Cross sebagai "legenda sejati Lancashire". Menurut Storey, kontribusi Cross bagi Lancashire dan Inggris tidak ternilai. Cross sendiri mengaku sulit membayangkan harus berpisah dengan olahraga yang telah membentuk dirinya, namun ia merasa beruntung bisa bermain secara profesional di level tertinggi.
Bagi pengamat kriket, pensiunnya Cross menjadi pengingat akan siklus regenerasi yang terus berjalan. Di Inggris, kriket wanita telah berkembang pesat dalam satu dekade terakhir, dengan meningkatnya profesionalisme dan liputan media. Namun, keputusan Cross untuk pensiun juga menyoroti tantangan yang dihadapi pemain senior ketika pelatih baru membawa visi yang berbeda.
Di Indonesia, kriket mungkin belum sepopuler di negara-negara Persemakmuran, namun perkembangan kriket wanita global patut dicermati. Keberhasilan Inggris dalam mempopulerkan The Hundred, misalnya, bisa menjadi inspirasi bagi kompetisi domestik di negara berkembang. Regenerasi pemain seperti yang terjadi pada Cross adalah fenomena universal yang juga relevan bagi olahraga lain di Indonesia.
Setelah pensiun, Cross dijadwalkan masih akan bermain untuk Lancashire hingga akhir musim, termasuk melawan The Blaze di Nottingham pada Minggu ini. Pertandingan tersebut akan menjadi ajang perpisahan yang layak bagi seorang atlet yang telah mengabdikan lebih dari dua dekade untuk olahraga yang dicintainya.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah: siapa yang akan mengisi kekosongan yang ditinggalkan Cross? Dengan semakin ketatnya persaingan di kriket wanita Inggris, munculnya talenta muda menjadi keniscayaan. Namun, pengalaman dan kepemimpinan Cross di lapangan akan sulit digantikan. Apakah kriket wanita Inggris siap menghadapi era baru tanpa sosok sekaliber Kate Cross?



