Mantan Bintang Australia Mike Hussey Buka Peluang Jadi Pelatih Batting Inggris di Ashes 2025
Baca dalam 60 detik
- Mike Hussey mengaku tidak menutup kemungkinan menerima tawaran menjadi konsultan batting untuk timnas Inggris pada seri Ashes mendatang.
- Ajakan tersebut datang dari Stephen Fleming, pelatih baru Inggris yang juga rekan Hussey di Chennai Super Kings.
- Keputusan akhir akan mempertimbangkan faktor keluarga dan komitmen pribadi, dengan kemungkinan diumumkan dalam waktu dekat.

Legenda kriket Australia, Mike Hussey, mengisyaratkan keterbukaannya untuk membantu timnas Inggris mempersiapkan diri menghadapi seri Ashes tahun depan. Tawaran itu datang dari Stephen Fleming, pelatih anyar Inggris yang juga rekan lamanya di Chennai Super Kings (CSK), melalui pendekatan informal yang disebut Hussey sebagai "off-the-cuff".
Hussey, yang dijuluki "Mr Cricket" karena kecintaannya yang mendalam pada olahraga ini, mengaku belum bisa memastikan keseriusan tawaran tersebut. Namun, ia tidak serta-merta menolak. "Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Jawaban singkat saya, saya tidak akan menolak apa pun," ujarnya kepada Fox Sports News, Senin (21/8).
Pria berusia 49 tahun itu memang bukan nama asing di dunia kepelatihan. Sebelumnya, ia pernah terlibat dalam kesuksesan Inggris meraih gelar Piala Dunia T20 2022. Meski demikian, ia mengakui bahwa melatih tim lawan bebuyutan Australia dalam ajang sekelas Ashes akan terasa janggal. "Pasti akan terasa aneh, tidak diragukan lagi. Tapi jika itu tugas saya, saya akan menjalaninya," katanya.
Menariknya, Hussey menegaskan bahwa ia tidak pernah merasa sedang melatih melawan tim tertentu. "Saya merasa sedang melatih bersama sebuah tim, entah itu melawan Australia, Afrika Selatan, atau tim lain," jelasnya. Filosofi ini tampaknya sejalan dengan pendekatan Fleming yang dianggapnya cerdas dan seimbang.
Fleming, yang mengambil alih kursi pelatih Inggris dari Brendon McCullum pada Juli lalu, dinilai Hussey sebagai sosok tepat untuk membawa Inggris keluar dari era "Bazball" yang dianggap terlalu agresif. "Dia memiliki pemahaman yang sangat baik tentang permainan. Operator yang cerdik, yang bisa menyeimbangkan kesenangan dan hubungan tim," puji Hussey. "Dia ingin permainan terus berkembang, tapi mungkin tidak sekonyol yang dilakukan Inggris belakangan ini. Dia akan mencoba lebih cerdas."
Keputusan Hussey untuk menerima atau menolak tawaran ini tidak akan diumumkan dalam waktu dekat. Faktor keluarga menjadi pertimbangan utama, mengingat tugas sebagai pelatih akan memisahkannya dari orang-orang terdekat. "Saya tidak akan terburu-buru mengambil keputusan. Hubungan saya dengan Stephen sangat dekat, dan itu juga berpengaruh. Waktu bersama keluarga adalah hal yang nyata bagi saya," ungkapnya.
Bagi pengamat kriket Indonesia, kabar ini menarik karena menunjukkan dinamika persaingan dan kolaborasi di level tertinggi. Meski kriket belum sepopuler sepak bola di tanah air, perkembangan ini bisa menjadi pelajaran tentang profesionalisme dan sportivitas. Bagaimana seorang legenda bisa melatih tim rival tanpa kehilangan identitasnya? Pertanyaan ini relevan tidak hanya bagi kriket, tetapi juga bagi dunia olahraga Indonesia yang kerap diwarnai rivalitas sengit.
Dengan Ashes 2025 yang tinggal menghitung bulan, keputusan Hussey akan dinantikan banyak pihak. Apakah ia akan menerima tantangan ini dan membantu Inggris memutus puasa gelar sejak 2015? Ataukah faktor loyalitas dan keluarga akan membuatnya menolak? Jawabannya hanya akan diketahui dalam beberapa bulan ke depan.



