Duel Pelempar Kidal: Starc dan Shoriful Cetak Enam Wicket, Australia Unggul 101 Run di Tes Kedua
Baca dalam 60 detik
- Australia memimpin 101 run atas Bangladesh di Tes Kedua setelah hari pertama yang dramatis di Mackay, dengan 18 wicket jatuh.
- Mitchell Starc mencatat 6-12, sementara Shoriful Islam membalas dengan 6-35, menciptakan pertarungan sengit antara dua pelempar kidal.
- Bangladesh, yang sempat tertinggal jauh, bangkit di akhir sesi dan berhasil menekan Australia, membuat laga masih terbuka untuk hari kedua.

Pertarungan sengit tersaji di Mackay ketika Australia dan Bangladesh saling menghujam dalam Tes Kedua yang berlangsung dramatis. Mitchell Starc dan Shoriful Islam, dua pelempar kidal, tampil memukau dengan masing-masing mengemas enam wicket, membuat 18 wicket tumbang di hari pertama. Australia, yang sempat terpuruk, akhirnya menutup hari dengan skor 165/8, unggul 101 run setelah meluluhlantakkan Bangladesh dengan hanya 64 run di inning pertama.
Kapten Australia, Pat Cummins, memenangkan lemparan koin dan memilih untuk melempar lebih dulu di atas wicket yang disiapkan mirip dengan lapangan Gabba. Keputusan itu terbukti tepat ketika Starc, dengan ayunan bola yang mematikan, merobek-robek batting order Bangladesh. Ia mengambil lima wicket pertamanya hanya dalam 22 bola, sebuah performa yang menempatkannya sebagai pencapaian lima wicket tercepat keenam dalam sejarah Tes. Starc, yang kini berusia 36 tahun, juga menyalip Dale Steyn untuk naik ke peringkat 10 daftar pengambil wicket terbanyak sepanjang masa dengan 441 dismissal.
Namun, Bangladesh tidak tinggal diam. Shoriful, yang kembali dari cedera hamstring, tampil garang dan membalas dengan 6-35. Ia berhasil meruntuhkan top order Australia, termasuk Travis Head, Marnus Labuschagne, dan Steve Smith. Aksi balas dendamnya terhadap Cummins, yang sebelumnya melempar bola pendek ke arahnya, menjadi momen menarik. Shoriful juga menjadi pencetak run tertinggi untuk Bangladesh dengan 14 run, meski mendapat serangan pendek dari Cummins.
Di tengah kekacauan itu, Cameron Green menjadi satu-satunya batter Australia yang mampu bertahan. Ia menutup hari dengan 51 run tidak keluar, melanjutkan performa impresifnya setelah mencetak abad di Tes Pertama di Darwin. Green membentuk kemitraan 77 run dengan Smith sebelum Smith jatuh ke jebakan Shoriful. Sementara itu, Alex Carey dan Beau Webster menjadi korban kolapsnya middle order Australia, yang kehilangan empat wicket hanya dengan tiga run.
Bagi Indonesia, pertandingan ini menyoroti bagaimana kriket global semakin kompetitif, dengan tim-tim seperti Bangladesh yang mampu menantang kekuatan tradisional seperti Australia. Ini menjadi pelajaran bahwa persiapan mental dan fisik yang matang sangat penting, terutama bagi negara-negara berkembang yang ingin bersaing di panggung internasional. Selain itu, performa Starc yang konsisten menunjukkan pentingnya pengalaman dan ketenangan dalam situasi tekanan tinggi.
Dengan keunggulan 101 run dan dua hari tersisa, Australia masih di atas angin, tetapi Bangladesh telah membuktikan mereka tidak mudah menyerah. Pertanyaan besarnya adalah mampukah Australia memperpanjang keunggulan mereka dan menyamakan seri, atau justru Bangladesh akan menciptakan kejutan kedua dan merebut seri? Semua akan terjawab dalam sisa pertandingan yang menjanjikan drama dan ketegangan.



