Joe Root Kecewa Headingley Tak Jadi Tuan Rumah Ashes 2027: Peluang Emas Terlewat
Baca dalam 60 detik
- Kapten Inggris, Joe Root, menyayangkan keputusan ECB yang mengabaikan Headingley sebagai salah satu venue Ashes 2027, meski timnya punya rekor sempurna di stadion tersebut.
- Lima stadion lain dipilih untuk seri Ashes mendatang, sementara Headingley baru akan kembali menggelar Test pada 2029, sebuah jeda yang dianggap merugikan bagi tim dan penggemar.
- Keputusan ini memicu perdebatan tentang kriteria pemilihan venue di Inggris, dengan mempertimbangkan performa tim dan atmosfer stadion, serta berpotensi mempengaruhi strategi persiapan tim.

Joe Root, kapten tim kriket Inggris, meluapkan kekecewaannya setelah Headingley, stadion kebanggaannya, tidak masuk dalam daftar tuan rumah seri Ashes 2027. Padahal, di bawah kepemimpinannya, Inggris baru saja meraih kemenangan telak atas Pakistan dengan selisih satu inning dan 103 run di stadion yang terletak di Leeds tersebut. Keputusan ini diumumkan di tengah euforia kemenangan yang diraih pada Jumat (21/8) lalu, sekaligus menandai awal era baru kepemimpinan Root sebagai kapten permanen.
Inggris tercatat telah memenangkan tujuh pertandingan Test terakhir di Headingley, termasuk dua kemenangan beruntun atas Australia dalam kunjungan terakhir mereka. Catatan impresif ini membuat Root menilai bahwa English Cricket Board (ECB) telah melewatkan peluang emas dengan tidak memilih stadion tersebut. Sebagai gantinya, Lord's, The Oval, Edgbaston, Trent Bridge, dan Southampton akan menjadi tuan rumah lima pertandingan Ashes musim panas mendatang. Headingley sendiri baru akan kembali menggelar pertandingan Test putra pada 2029, sebuah jeda yang cukup panjang.
"Saya sangat ingin bermain sebanyak mungkin di sini. Menurut saya, ini adalah venue pertandingan Test yang hebat," ujar Root. Ia menambahkan bahwa permukaan lapangan di Headingley selalu menyajikan kriket Test yang brilian dan timnya sering meraih kesuksesan di sana. "Sangat disayangkan kami tidak bisa bermain di sini tahun depan, tapi saya yakin akan ada banyak pertandingan Test brilian lainnya di sini," pungkasnya. Sebagai pemain, ia mengaku ingin memiliki pilihan, dan sebagai orang Yorkshire, ia merasa harus menyuarakan hal ini.
Kekecewaan Root tidak hanya soal sentimentalitas. Secara strategis, memilih venue yang tepat bisa menjadi faktor kunci dalam meraih kemenangan di seri Ashes, yang merupakan salah satu rivalitas terpanas dalam dunia kriket. Keputusan ECB untuk mengabaikan Headingley memunculkan pertanyaan tentang kriteria apa yang digunakan dalam menentukan tuan rumah. Apakah faktor komersial, kapasitas penonton, atau justru pertimbangan lain yang lebih dominan? Sementara itu, bagi Pakistan, kekalahan ini merupakan yang kesembilan dalam sepuluh pertandingan tandang terakhir mereka. Kapten pengganti Pakistan, Salman Ali Agha, mengakui bahwa performa timnya di laga tandang memang memprihatinkan. "Kami tidak bermain dengan baik dalam seri tandang. Kami belum berhasil di mana pun di dunia, dan ini mengkhawatirkan," katanya. Namun, ia menegaskan bahwa timnya akan mencoba bangkit di pertandingan kedua.
Keputusan ECB ini juga berimplikasi bagi penggemar kriket di Indonesia. Meski kriket bukan olahraga utama di Tanah Air, popularitasnya terus tumbuh, terutama dengan adanya komunitas dan turnamen lokal. Bagi penggemar yang mengikuti perkembangan kriket internasional, pemilihan venue ini bisa mempengaruhi jadwal pertandingan yang akan disiarkan, serta potensi kehadiran pemain-pemain bintang di stadion-stadion tertentu. Selain itu, momen ini menjadi pengingat bahwa keputusan administratif di tingkat federasi bisa berdampak luas, termasuk pada pengalaman menonton dan perkembangan olahraga itu sendiri.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah ECB akan mempertimbangkan kembali keputusan ini atau justru mempertahankan daftar venue yang ada. Dengan performa impresif Inggris di Headingley, akankah ada tekanan publik yang cukup kuat untuk mengubah kebijakan tersebut? Atau justru ECB memiliki rencana jangka panjang yang belum terungkap? Yang jelas, kekecewaan Root mewakili suara banyak pihak yang merasa bahwa Headingley layak menjadi bagian dari panggung terbesar kriket dunia.



