Ariana Grande Larang Trump Pakai Lagunya di TikTok: 'Jangan Pernah Gunakan Musikku Lagi'
Baca dalam 60 detik
- Ariana Grande secara terbuka mengecam Presiden AS Donald Trump setelah lagunya digunakan dalam konten TikTok yang dianggap anti-trans, memerintahkannya untuk tidak memakai musiknya lagi.
- Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara industri musik dan pemerintahan Trump, menyusul keputusan Mahkamah Agung AS yang membatasi hak transgender di bidang olahraga dan militer.
- Langkah Ariana mengikuti jejak Taylor Swift yang juga memblokir penggunaan lagunya oleh Trump, menandakan resistensi publik yang semakin kuat dari para musisi terhadap kebijakan kontroversial.

Penyanyi pop dunia, Ariana Grande, secara terang-terangan melarang Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menggunakan karya musiknya dalam konten politik di platform TikTok. Larangan ini disampaikan melalui komentar yang kini telah dihapus, menyusul unggahan akun resmi tim kampanye Trump yang menggunakan lagu berjudul "We Can't Be Friends (Wait For Your Love)" sebagai latar video berisi narasi kontroversial terkait hak transgender.
Dalam video yang beredar luas, Trump tampak dalam sebuah rapat umum dengan teks yang menampilkan pernyataan tegas: "Pria tidak bisa hamil dan tidak seharusnya berkompetisi di olahraga wanita." Unggahan tersebut diberi keterangan oleh akun Team Trump dengan nada provokatif, "Ini seharusnya tidak kontroversial!" serta menandai akun Ariana dan tagar #MAGA. Respons Ariana tidak butuh waktu lama; ia meninggalkan komentar pedas yang langsung menjadi sorotan publik, "Jangan pernah gunakan musikku lagi. Juga, kebenaranmu itu palsu."
Langkah Ariana ini bukanlah yang pertama kali dilakukan oleh musisi papan atas terhadap Trump. Beberapa waktu sebelumnya, Taylor Swift juga mengambil tindakan serupa dengan memblokir penggunaan lagu-lagunya di akun TikTok Trump. Beberapa lagu Swift seperti "August" dan lainnya telah dihapus dari unggahan tim kampanye, digantikan dengan pesan "suara ini tidak tersedia". Trump bahkan sempat menulis komentar sinis, "Saya yakin @TaylorSwift akan sangat senang kami menggunakan lagunya!" serta menambahkan, "Mood karena ini bulan Agustus dan Donald Trump adalah presidenmu." Ketegangan ini berakar dari dukungan Swift terhadap lawan politik Trump pada pemilu lalu, yang memicu pernyataan kebencian Trump di platform Truth Social.
Konteks yang lebih luas menunjukkan bahwa penggunaan musik tanpa izin oleh tokoh politik bukan sekadar masalah hak cipta, melainkan juga pernyataan politik. Keputusan Mahkamah Agung AS yang baru-baru ini mengizinkan negara bagian melarang atlet transgender berkompetisi di olahraga wanita, serta kebijakan yang membatasi transgender di militer, menjadi latar belakang penting. Para pengamat menilai bahwa langkah Ariana dan Swift adalah bentuk resistensi terhadap kebijakan yang dianggap diskriminatif, sekaligus melindungi citra dan nilai yang mereka usung.
Bagi publik Indonesia, fenomena ini menarik untuk dicermati karena menunjukkan bagaimana industri hiburan global semakin vokal dalam isu-isu sosial-politik. Di Indonesia, di mana isu hak LGBTQ+ masih menjadi perdebatan sensitif, langkah Ariana dan Swift bisa menjadi bahan diskusi tentang batas antara ekspresi seni dan politik. Namun, yang lebih relevan adalah bagaimana musisi Indonesia mungkin mengambil pelajaran tentang pentingnya melindungi karya cipta dari penggunaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai pribadi. Di era digital, di mana lagu dapat dengan mudah disalahgunakan, keputusan tegas seperti yang dilakukan Ariana menjadi preseden penting.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah akan ada lebih banyak musisi yang mengikuti jejak Ariana dan Swift, atau justru sebaliknya, ada yang memilih untuk tetap netral demi menghindari kontroversi. Yang jelas, hubungan antara seni dan politik di Amerika Serikat semakin memanas, dan setiap penggunaan musik tanpa izin berpotensi memicu reaksi keras dari para penciptanya. Apakah ini akan mengubah cara kampanye politik menggunakan musik di masa mendatang? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal pasti: para musisi tidak lagi tinggal diam.



