Jenazah Pendaki AS Korban Longsor Broad Peak Ditemukan, Pencarian Pendaki Nepal Berlanjut
Baca dalam 60 detik
- Tim penyelamat memulihkan jenazah Sarah Mallory Geis di lereng Broad Peak, menyusul musibah longsor yang menewaskan sepuluh pendaki pada akhir Juli lalu.
- Operasi pencarian kini berfokus pada Nawang Thindu Sherpa, satu-satunya korban yang belum ditemukan, sementara proses evakuasi jenazah ke Skardu tengah disiapkan.
- Musibah ini menegaskan kembali risiko tinggi pendakian di ketinggian ekstrem, sekaligus memicu diskusi tentang standar keselamatan ekspedisi internasional.

Tim penyelamat akhirnya menemukan jenazah Sarah Mallory Geis, pendaki asal Amerika Serikat yang menjadi korban longsoran salju di Broad Peak pada 30 Juli lalu. Penemuan ini mengakhiri masa pencarian yang menegangkan bagi keluarga dan rekan ekspedisi, sekaligus menyisakan satu nama yang masih hilang: Nawang Thindu Sherpa dari Nepal.
Longsor yang menerjang ketinggian sekitar 8.000 meter itu memutus kontak dengan tim ekspedisi internasional beranggotakan sepuluh orang yang dipimpin Nirmal Purja, pendaki legendaris asal Inggris-Nepal. Perusahaan Purja kemudian mengonfirmasi bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang selamat. Delapan jenazah, termasuk pendaki Pakistan Sohail Sakhi, telah dievakuasi dalam operasi sebelumnya, tetapi Geis dan Sherpa masih belum ditemukan hingga akhirnya tim sukarelawan lokal menemukan tubuh Geis di lereng gunung.
Ketua Alpine Club of Pakistan, Mayor Jenderal (Purn) Irfan Arshad Khan, menyatakan bahwa jenazah Geis sedang dalam proses pemindahan ke base camp. Sekretaris Jenderal ACP, Ayaz Shigri, menambahkan bahwa porter lokal yang sedang bersama tim trekking secara sukarela membantu pencarian. "Jenazah telah diidentifikasi sebagai Geis. Akan dipindahkan ke base camp dan kemudian diterbangkan ke Skardu menggunakan helikopter Angkatan Darat Pakistan," ujarnya. Pencarian untuk Sherpa, pendaki Nepal yang masih hilang, akan terus dilanjutkan.
Di sisi lain, tim pendaki lokal juga diterjunkan ke Spantik untuk mengevakuasi jenazah Dr. Asma Mushtaq, dokter asal Pakistan yang meninggal akibat kondisi medis darurat saat turun dari puncak. ACP melaporkan bahwa Mushtaq mengalami gangguan kesehatan serius terkait ketinggian pada sekitar 6.400 meter. Perempuan yang berpraktik di Inggris sebagai dokter spesialis obstetri dan ginekologi ini dikenal sebagai vlogger dan pendaki aktif yang kerap mendokumentasikan ekspedisinya di media sosial.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras akan bahaya pendakian gunung ekstrem, terutama di kawasan Karakoram yang terkenal dengan cuaca tidak menentu dan medan berbahaya. Bagi Indonesia, berita ini relevan mengingat semakin banyaknya pendaki Tanah Air yang mengeksplorasi gunung-gunung tinggi dunia, termasuk di Pakistan. Komunitas pendakian Indonesia perlu menjadikan insiden ini sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan standar keselamatan, manajemen risiko, dan kesiapan menghadapi kondisi darurat di ketinggian.
Operasi pencarian dan evakuasi di pegunungan Karakoram selalu menuntut koordinasi lintas negara dan keterlibatan penduduk lokal. Ketergantungan pada porter dan sukarelawan setempat menunjukkan pentingnya peran komunitas dalam setiap misi penyelamatan. Sementara itu, keluarga Mushtaq telah tiba di Skardu untuk memproses pemulangan jenazah, menambah daftar duka yang mendalam bagi dunia pendakian internasional.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah bagaimana standar keselamatan ekspedisi komersial dapat diperketat, terutama dalam hal asesmen risiko longsor dan prosedur evakuasi medis. Akankah tragedi ini mendorong perubahan regulasi pendakian di Pakistan, atau justru memicu evaluasi serupa di negara lain, termasuk Indonesia? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi nyawa yang melayang adalah harga yang terlalu mahal untuk diabaikan.



