Rumah Instan Semburan Busa: Solusi Cepat bagi Korban Gempa Kumamoto
Baca dalam 60 detik
- Inovasi rumah instan berbahan urethane foam hadir di tengah darurat gempa Kumamoto, Jepang, dengan waktu pemasangan hanya 1-2 jam.
- Proyek yang digagas profesor Nagoya Institute of Technology ini menargetkan 120 unit untuk korban yang masih mengungsi atau tidur di mobil.
- Keberadaan rumah instan ini berpotensi menginspirasi adopsi teknologi serupa di Indonesia, yang rawan gempa dan bencana alam.

Gempa berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang barat daya, pada 28 Juli lalu meninggalkan duka dan kehancuran. Di tengah puing-puing rumah yang roboh, muncul barisan struktur kubah runcing yang menjadi secercah harapan: rumah instan yang dapat berdiri hanya dalam hitungan jam.
Inisiatif ini digagas oleh Keisuke Kitagawa, profesor di Sekolah Teknik Sosial, Institut Teknologi Nagoya. Ia menargetkan 120 unit rumah instan terpasang sebelum awal bulan depan bagi warga yang masih bertahan di pusat evakuasi atau terpaksa tidur di dalam mobil. "Saya ingin memberikan rumah yang sesuai kebutuhan para korban, menjadi fondasi bagi mereka untuk membangun kembali kehidupan," ujar Kitagawa, seperti dikutip Kyodo News.
Teknologi di balik rumah ini terbilang sederhana namun revolusioner. Struktur rumah dibuat dengan menyemprotkan busa urethane, bahan isolasi panas, ke bagian dalam lembaran tahan api yang telah ditiup. Busa mengeras dan membentuk rumah dalam waktu satu hingga dua jam. Rumah seluas sekitar 20 meter persegi dengan tinggi 4,3 meter ini dirancang tahan angin hingga 130 meter per detik dan diikat kuat ke tanah menggunakan sekrup. Seluruh biaya ditanggung oleh donasi yang dihimpun melalui dana abadi institut, sehingga korban tidak dipungut biaya sepeser pun.
Keunggulan lain yang ditawarkan adalah rumah-rumah ini dibangun di dekat lokasi rumah warga yang hancur, sehingga komunitas tetap terjalin. Salah satu penerima manfaat adalah Yoshinori Hirayama (74), warga kota Hikawa yang rumahnya luluh lantak. Selama lebih dari dua minggu, ia dan istrinya tidur di mobil karena khawatir akan pencurian. "Saya bisa berguling-guling seenaknya," katanya takjub saat memasuki rumah instan pertamanya pada pertengahan Agustus. Dua unit rumah dibangun untuk Hirayama dan keluarga putranya yang tinggal berdekatan.
Gagasan ini lahir 15 tahun lalu ketika Kitagawa mengunjungi tempat pengungsian pasca gempa dan tsunami 2011 di Jepang timur laut. Di sana, seorang anak laki-laki mengeluh lambatnya pembangunan tempat tinggal darurat dan memohon agar Kitagawa membangunkannya dalam waktu seminggu. Pengalaman itu mendorong Kitagawa mengembangkan hunian yang cepat dan murah. Setelah lima setengah tahun riset, proyek rampung dan sekitar 300 unit telah dipasang menyusul gempa dan hujan deras di Semenanjung Noto, Prefektur Ishikawa, pada Januari dan September 2024.
Di tengah panasnya musim panas Kumamoto, unit AC juga dipasang gratis. Pengerjaan konstruksi melibatkan kontraktor lokal, sehingga proyek ini turut menciptakan lapangan kerja di daerah terdampak. Kitagawa menegaskan, "Jika kondisi tempat tinggal bisa diperbaiki lebih cepat, kita bisa menghilangkan kematian akibat bencana." Ia berkomitmen terus menyempurnakan desain untuk menekan biaya dan waktu konstruksi.
Bagi Indonesia, inovasi ini menawarkan pelajaran berharga. Negeri kita yang terletak di Cincin Api Pasifik sangat rentan terhadap gempa bumi, seperti yang terjadi di Palu, Lombok, dan Cianjur. Adopsi teknologi rumah instan serupa dapat menjadi solusi efektif untuk mempercepat pemulihan pascabencana, mengurangi trauma, dan mencegah kematian akibat kondisi darurat yang berkepanjangan. Namun, perlu kajian mendalam mengenai adaptasi material, iklim tropis, serta ketersediaan bahan baku di dalam negeri.
Ke depan, akankah Indonesia tergerak untuk mengembangkan atau mengimpor teknologi semacam ini? Atau justru memunculkan inovasi lokal yang lebih sesuai dengan kondisi geografis dan sosial? Pertanyaan ini menjadi pekerjaan rumah bagi para peneliti, pemerintah, dan industri konstruksi nasional untuk menjawab tantangan kebencanaan yang kian kompleks.



