Brian May Ungkap Depresi yang Tak Pernah Hilang: 'Kebahagiaan Hanya Sesaat'
Baca dalam 60 detik
- Gitaris Queen, Brian May, mengaku telah didiagnosis depresi dan kondisi itu selalu membayanginya.
- Ia memutuskan pensiun dari tur setelah tragedi keluarga menyadarkannya telah mengorbankan kebebasan.
- May masih mempertimbangkan pertunjukan imersif di Sphere Las Vegas, namun ragu pada penggunaan AI.

Brian May, gitaris legendaris Queen, membuka suara tentang perjuangan panjangnya melawan depresi. Dalam wawancara dengan The Times, pria berusia 79 tahun itu mengungkapkan bahwa diagnosis depresi telah menyertainya selama bertahun-tahun dan kebahagiaan hanya datang dalam momen-momen singkat.
โDepresi itu seperti hewan yang hidup di dalam diri. Kebahagiaan hanya muncul saat depresi tersembunyi di sudut,โ ujarnya. Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut selalu ada dan bisa menyerang kapan saja jika ia lengah. โSebagai bintang rock, Anda memang mendapatkan banyak momen hebat, tetapi itu hanya sesaat.โ
Keputusan May untuk pensiun dari tur Queen bukan tanpa alasan. Sekitar 18 bulan lalu, seorang teman dekat keluarga meninggal saat ia sedang berada di Amerika Serikat. Ia sempat berniat pulang sebentar, namun manajer turnya mengingatkan bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan. Peristiwa itu menyadarkannya bahwa ia telah terlalu lama mengorbankan kebebasan demi karier.
โSaya suka bermain, saya suka bepergian, tetapi konsekuensinya adalah mengorbankan kebebasan. Saya punya istri, cucu, dan banyak proyek astrofisika yang ingin saya kerjakan. Mungkin 50 tahun sudah cukup,โ tutur May.
Meski demikian, May tidak menutup pintu sepenuhnya untuk tampil. Ia mengaku terinspirasi setelah mengunjungi Sphere di Las Vegas tahun lalu dan mulai merancang pertunjukan Queen yang imersif. Namun, ia ragu karena teknologi saat ini menuntut penggunaan AI, yang menurutnya memiliki risiko serius.
Kisah May menyoroti pentingnya kesehatan mental di industri hiburan yang penuh tekanan. Banyak musisi dan artis lain yang juga bergulat dengan masalah serupa, namun sering kali enggan membicarakannya karena stigma. Terbuka seperti yang dilakukan May dapat membantu mengurangi rasa malu dan mendorong orang lain untuk mencari bantuan.
Di Indonesia, kesadaran akan kesehatan mental semakin meningkat, terutama di kalangan generasi muda. Namun, masih ada tantangan dalam akses layanan dan dukungan sosial. Kisah May bisa menjadi pengingat bahwa kesuksesan tidak menjamin kebahagiaan, dan bahwa menjaga keseimbangan hidup adalah hal yang esensial.
Ke depan, apakah May akan benar-benar mewujudkan pertunjukan di Sphere? Ataukah ia akan lebih memilih fokus pada keluarga dan astrofisika? Yang jelas, warisannya tidak hanya tentang musik, tetapi juga tentang keberanian menghadapi iblis batinnya sendiri.



