Rupiah Tembus Rp17.917 per Dolar AS, Terendah dalam 18 Bulan
Baca dalam 60 detik
- Rupiah ditutup melemah 35 poin ke level Rp17.917 per dolar AS pada Senin (5/10), seiring indeks dolar AS menyentuh puncak 18 bulan.
- Pelemahan euro akibat kekhawatiran fiskal Eropa dan lonjakan harga minyak dunia menjadi pemicu utama tekanan terhadap mata uang Asia, termasuk rupiah.
- Pasar menanti respons Bank Indonesia dan perkembangan kebijakan fiskal global untuk melihat apakah rupiah mampu menstabilkan diri di bawah Rp18.000.

Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke Rp17.917 per dolar AS pada perdagangan Senin (5/10) sore, turun 35 poin atau 0,20 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Level ini menandai titik terendah baru dalam 18 bulan terakhir dan memicu kekhawatiran tentang daya tahan mata uang Garuda di tengah gejolak pasar global.
Pelemahan rupiah terjadi saat indeks dolar AS melesat ke level tertinggi sejak awal 2025, didorong oleh kombinasi faktor eksternal. Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa tekanan datang dari melemahnya euro akibat kekhawatiran fiskal pemerintah Eropa serta kenaikan harga minyak dunia. "Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS, tertekan oleh kenaikan indeks dolar AS ke level tertinggi dalam 18 bulan," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang bervariasi. Yuan China menguat tipis 0,02 persen, yen Jepang naik 0,05 persen, dan dolar Hong Kong menguat 0,01 persen. Sebaliknya, peso Filipina melemah 0,14 persen, ringgit Malaysia turun 0,09 persen, dolar Singapura melemah 0,14 persen, dan won Korea Selatan terkoreksi 0,023 persen. Sementara itu, di kelompok mata uang utama, euro melemah 0,46 persen, poundsterling turun 0,05 persen, dan franc Swiss melemah 0,05 persen. Dolar Australia justru menguat 0,10 persen dan dolar Kanada naik 0,01 persen.
Bagi Indonesia, pelemahan rupiah bukan sekadar angka di layar bursa. Dampaknya merembet ke biaya impor bahan baku dan barang modal, yang berpotensi menaikkan harga barang konsumsi dan menekan margin industri manufaktur. Sektor energi juga rentan karena harga minyak yang lebih tinggi dalam dolar AS akan membebani anggaran subsidi dan defisit neraca perdagangan. Bank Indonesia menghadapi dilema: menaikkan suku bunga untuk menahan aliran modal keluar, atau menjaga stabilitas pertumbuhan di tengah tekanan global.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS, tertekan oleh kenaikan indeks dolar AS ke level tertinggi dalam 18 bulan yang didukung oleh pelemahan euro akibat kekhawatiran fiskal pemerintah Eropa serta kenaikan harga minyak dunia." โ Lukman Leong, Analis DOO Financial Futures
Sejumlah analis memperkirakan volatilitas nilai tukar masih akan berlanjut dalam jangka pendek, terutama menjelang rilis data ekonomi Amerika Serikat dan pertemuan kebijakan The Fed. Jika dolar AS terus menguat, ruang bagi rupiah untuk bangkit terbatas. Pemerintah dan BI disebut perlu memperkuat koordinasi fiskal-moneter untuk meredam gejolak, misalnya melalui intervensi pasar dan insentif bagi eksportir agar segera merepatriasi devisa.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah rupiah mampu bertahan di bawah Rp18.000 per dolar AS atau justru terus terdepresiasi hingga menyentuh level krisis. Semua mata akan tertuju pada langkah Bank Indonesia dan sinyal dari Washington dalam beberapa pekan mendatang.



