Brook Kembali Hantui Pakistan, Inggris Kuasai Tes Pertama di Headingley
Baca dalam 60 detik
- Harry Brook mencetak 91 run dari 93 bola, memperpanjang dominasinya atas Pakistan dengan rata-rata di atas 85 dalam 12 pertandingan.
- Inggris unggul 195 run dengan dua wicket tersisa di inning pertama, berkat kemitraan kunci antara Brook dan Dan Lawrence.
- Pakistan menghadapi tantangan berat untuk menyelamatkan pertandingan, dengan kondisi cuaca yang diprediksi tidak akan banyak membantu mereka.

Harry Brook kembali menjadi mimpi buruk bagi Pakistan. Pada hari kedua Tes pertama di Headingley, Leeds, Selasa (20/8), pemukul asal Yorkshire itu mencetak 91 run dari 93 bola, membawa Inggris ke posisi dominan dengan keunggulan 195 run dan dua wicket masih di tangan. Penampilan ini mempertegas reputasinya sebagai algojo bagi tim tamu, dengan rata-rata di atas 85 dalam 12 penampilan Tes melawan Pakistan.
Brook, yang sempat terjatuh pada skor satu setelah tangkapan kedua slip gagal dilakukan Salman Ali Agha, tampil agresif dengan 13 four sebelum akhirnya tumbang oleh spinner Ali Usman. Usman menjadi bintang Pakistan dengan lima wicket, tetapi itu tidak cukup untuk membendung laju Inggris yang menutup hari dengan skor 366-8. Dukungan cuaca yang mendung dan hujan sempat memperpendek sesi, namun Brook tetap bersinar di hadapan pendukungnya sendiri.
Kemitraan kelima yang bernilai 120 run bersama Dan Lawrence menjadi fondasi penting. Lawrence, yang kembali setelah dua tahun absen, mengisi kekosongan yang ditinggalkan Ben Stokes pasca-pensiun dengan penampilan meyakinkan. Ia mencetak 51 run dari 79 bola sebelum akhirnya terjungkal saat mencoba sweep. Sebelumnya, Joe Root (66) dan Jordan Cox (73) telah meletakkan dasar dengan kemitraan 150 run untuk wicket ketiga. Cox, yang mendapat kesempatan di posisi tiga karena cedera lutut Jacob Bethell, mencatatkan half-century pertamanya di Tes dengan tujuh four dalam 12 bola.
Di bawah asuhan pelatih sementara Marcus Trescothick, yang menggantikan Brendon McCullum, Inggris tetap menerapkan gaya agresif khas Bazball. "Headingley adalah salah satu lapangan dengan skor tercepat di negara ini, dan Tres sangat baik dengan kami," ujar Cox. "Dia bilang: 'main dengan caramu, nikmati saja', dan itulah yang kami lakukan." Cox juga berharap tambahan 50 run dari Jamie Smith dan Jofra Archer pada hari berikutnya untuk memperbesar keunggulan.
Pakistan, yang terakhir kali menang di Inggris delapan tahun lalu, kini berada di sudut sempit. Dengan ramalan cuaca yang lebih baik untuk tiga hari ke depan, mereka tidak akan mendapat bantuan dari elemen alam. "Inggris unggul, tapi kami akan mencoba mencetak sebanyak mungkin run di inning kedua," kata Usman. "Kami harus segera mengambil dua wicket yang tersisa dan kemudian mencetak run sebagai satu kesatuan. Semoga pemukul kami bisa bangkit dan menyelamatkan pertandingan."
Bagi penggemar kriket di Indonesia, pertandingan ini menunjukkan bagaimana strategi agresif dan ketahanan mental menjadi kunci di level tertinggi. Meski kriket belum sepopuler sepak bola di Tanah Air, perkembangan tim nasional dan liga domestik bisa belajar dari pendekatan Inggris yang berani mengambil risiko. Pertanyaan besarnya: mampukah Pakistan bangkit seperti yang mereka lakukan di masa lalu, atau akankah Inggris semakin menjauh? Dengan tiga hari tersisa, semua masih mungkin terjadi.



