Ether Kalahkan Bitcoin di Kuartal III, Tapi Likuiditasnya Justru Menipis: Sinyal Bahaya?
Baca dalam 60 detik
- Harga ether melonjak 70% pada kuartal III, mengalahkan bitcoin yang hanya naik 42%, namun kedalaman pasar ether anjlok ke 35-45% dari bitcoin.
- Penipisan likuiditas terjadi di tengah reli, membantah asumsi bahwa kenaikan harga otomatis menarik lebih banyak pedagang dan memperdalam order book.
- Fenomena serupa juga dialami solana, sementara XRP relatif stabil; kondisi ini berpotensi meningkatkan volatilitas dan risiko slippage bagi investor ritel maupun institusi.

Ether (ETH) mencatat kinerja kuartalan yang lebih baik daripada bitcoin (BTC) pada periode Juli–September, dengan kenaikan harga mencapai 70% berbanding 42% milik bitcoin. Akan tetapi, di balik lonjakan tersebut, likuiditas ether justru menyusut tajam—sebuah kombinasi yang jarang terjadi dan memicu kekhawatiran tentang ketahanan pasar kripto menjelang akhir tahun.
Laporan terbaru CoinGecko mengungkapkan bahwa median kedalaman pasar harian ether sepanjang 6 Juli hingga 30 September hanya berkisar 35% hingga 45% dari bitcoin. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, rasio itu masih di atas 60%. CoinGecko menyebut penurunan ini sebagai "kontraksi yang mencolok" dibandingkan tahun sebelumnya. Kedalaman pasar sendiri merupakan ukuran standar likuiditas: total nilai dolar dari order beli dan jual yang berada dalam jarak tertentu dari harga saat ini. Semakin dalam pasar, semakin besar modal yang dibutuhkan untuk menggerakkan harga. Sebaliknya, di pasar yang tipis, satu order besar dapat dengan cepat menyapu habis antrean yang ada dan mendorong harga lebih jauh.
Secara spesifik, ether hanya memiliki likuiditas $13 juta hingga $14 juta dalam rentang 0,15% dari harga pasar. Artinya, hanya sekitar angka itu dana yang tersedia dalam order yang cukup dekat dengan harga untuk menggerakkan ether sebesar 0,15%. Kedalaman di sekitar harga ini sangat penting untuk transaksi sehari-hari maupun order besar yang ingin dieksekusi tanpa mengubah pasar secara signifikan.
Temuan ini menantang narasi populer di pasar bahwa kenaikan harga akan otomatis menarik lebih banyak pedagang, yang kemudian memperdalam order book. Pada kasus ether, ekspektasi itu tidak terwujud. Meski demikian, CoinGecko menegaskan ether masih tergolong cukup likuid. "ETH tetap cukup likuid di rentang ini, dengan sebagian besar bursa mempertahankan kedalaman di atas $1 juta di setiap sisi," tulis firma tersebut.
Fenomena penipisan likuiditas tidak hanya dialami ether. Solana (SOL), pesaing utamanya, juga mengalami penyusutan likuiditas, meski diukur pada rentang yang lebih lebar. CoinGecko mencatat likuiditas SOL secara keseluruhan telah menyusut signifikan sejak 2025. Kedalaman SOL dalam 2% dari harga pasar turun dari sekitar $28 juta per sisi order book tahun lalu menjadi sekitar $20 juta tahun ini. Kedalaman pada level 2% menunjukkan berapa banyak dana yang tersimpan dalam order yang lebih jauh dari harga saat ini—sebuah ukuran kemampuan pasar menyerap tekanan jual atau beli sebelum harga bergerak lebih besar, seperti yang terjadi saat reli atau aksi jual tajam. Jadi, sementara penipisan ether terlihat tepat di sekitar harga, penipisan SOL tampak pada kapasitasnya menangani fluktuasi besar.
XRP, mata uang kripto yang berfokus pada pembayaran, menunjukkan stabilitas dengan total kedalaman sekitar $30 juta. Namun, order book-nya condong ke sisi pembeli selama periode studi, dengan sekitar $18 juta dalam order beli berbanding $14 juta order jual. Menariknya, kapitalisasi pasar XRP sekitar 40% lebih besar daripada SOL, tetapi kedalamannya dalam 2% dari harga lebih kecil. CoinGecko menjelaskan hal ini karena SOL masih diperdagangkan 25% lebih sering daripada XRP dalam rata-rata harian.
"Penurunan likuiditas ether merupakan peringatan bahwa reli harga tidak selalu diikuti oleh penguatan infrastruktur pasar. Ini bisa memperbesar risiko slippage, terutama bagi investor institusi yang ingin masuk dalam jumlah besar," ujar seorang analis pasar kripto yang tidak ingin disebutkan namanya.
Bagi investor Indonesia, kondisi ini patut dicermati. Meskipun ether dan aset kripto lainnya masih dapat diakses melalui bursa lokal maupun global, likuiditas yang tipis dapat memperlebar spread dan meningkatkan biaya transaksi. Terlebih lagi, volatilitas yang lebih tinggi dapat memicu margin call bagi trader yang menggunakan leverage. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri terus mengingatkan risiko investasi kripto, termasuk potensi likuiditas yang tidak merata di berbagai platform.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah penipisan likuiditas ini akan berlanjut seiring dengan meningkatnya adopsi institusional dan regulasi yang lebih jelas. Jika pasar kripto semakin didominasi oleh pemain besar, kedalaman order book bisa menjadi indikator penting untuk mengukur kesehatan ekosistem. Apakah ether akan mampu mempertahankan daya tariknya tanpa likuiditas yang memadai, atau justru menjadi korban dari kesuksesannya sendiri?



